
Setelah melalui proses pemeriksaan ternyata Faira baru mendapatkan bukaan 3 namun wanita itu terus saja mengeluh sakit pada Evan.
"Kita sesar saja yuk, aku sepertinya sudah tidak dapat menahan sakitnya," pinta Faira.
"Sabar, Bu, nanti juga akan akan bertambah bukaannya. Sayang kalau di operasi malah lebih sakit setelahnya," terang salah seorang bidan.
"Tapi ini sakit," keluh Faira.
"Kamu pasti bisa, Sayang."
Evan juga sebetulnya tidak tega melihat keadaan Faira namun ini memang proses melahirkan. Katanya sakitnya seperti seluruh tulang diremukkan jadi.
Tiga jam kemudian Faira sudah mulai berteriak keras ketika kontraksi terjadi.
"Dokter aku sudah tidak kuat lagi," teriak Faira sembari meremas tangan Evan dengan kuat, hingga kukunya menusuk ke dalam kulit Evan.
Pria itu merasakan sakit tetapi rasa khawatirnya lebih besar timbang apa yang dia rasakan.
"Sayang kau harus kuat demi anak kita," kata Evan memberi semangat.
"Tolong jaga anak kita jika aku tidak nyawaku telah tiada," ucap Faira terengah-engah.
"Anda akan baik-baik saja Bu," kata Dokter kandungan wanita yang datang mendekat. Dia menahan senyum pada Faira.
"Yang pertama tidak melalui proses ini ya Bu jadi belum merasakan bagaimana proses melahirkan yang normal. Okey, biar saya cek," ucap Dokter itu membuka paha bagian bawah Faira.
"Kepala anaknya sudah terlihat, sus, ayo cepat siapkan semuanya," perintah dokter itu.
"Sekarang ikuti aba-aba saya ya, ambil nafas dan keluarkan sekuat tenaga fokuskan ke perut, ya Bu," perintah Dokter itu sembari membenarkan posisi Faira.
"Bapaknya katanya yang mau menerima bayi itu, mari Pak," kata dokter itu cepat
Nyali Evan menciut.
"Ayo tidak apa-apa, saya akan bantu," kata Dokter itu menarik Evan untuk mendekat.
"Sekarang mulai mengejan, Ibu." Faira mulai mengejan keras sekuat tenaga berpegang pada pinggiran tempat persalinan.
Kepala bayi itu mulai keluar sedikit demi sedikit membuat Evan membuka mulutnya lebar dan takjub melihat pemandangan nyata di depannya. Dadanya berhenti berdetak dia bahkan lupa untuk bernafas untuk sesaat.
Hingga akhirnya anak itu berada ditangannya sepenuhnya. Evan tidak dapat berkata apa-apa hanya air matanya saja yang menetes deras. Tawa tanpa suara itu memperlihatkan kebahagiaannya.
"Oek... oek .... oek ... ," suara tangis bayi itu lantang.
"Wah, bayinya terlihat sehat
Evan menyerahkan bayi itu dengan tangan gemetar pada Dokter untuk dipotong tali pusarnya dan dibersihkan. Setelah itu dia mendekati Faira yang masih terengah-engah.
Mencium keningnya dengan penuh cinta.
"Terimakasih, Sayang," kata Evan. "Berkat perjuanganmu putri kita telah lahir dengan sehat."
Faira memegang tangan Evan dan tersenyum.
"Aku bertambah mencintai saja setelah melihat apa yang telah kau lakukan hari ini. Perjuanganmu dalam mempertaruhkan nyawa demi kelahiran anak kita."
Evan menciumi seluruh wajah Faira.
Sedangkan Raka dan Ardianto serta Ello menunggu kelahiran Faira di luar ruangan persalinan dengan tegang tetapi setelah mendengar bunyi tangis bayi mereka semua tertawa bahagia.
Raka pun berharap jika Intan disana mengalami proses kelahiran dengan mudah.
"Sayang, bagaimana keadaanmu dan anak kita sekarang." Batin Raka.
"Selamat Evan," teriak Ardianto begitu melihat cucunya.
"Ini adikku, Dad?" tanya Ello minta digendong kakeknya agar bisa melihat si kecil. Ardianto lalu mengangkat cucunya itu.
"Wah, dia cantik sekali," ucap Raka. Ello hanya tercengang melihat wajah adik kecilnya.
"Dia seperti boneka di toko," celetuk Ello. "Aku ingin menciumnya," pinta anak itu.
"Tentu saja, Sayang," Evan lalu mendekatkan bungsunya pada Ello. Ello langsung menciumnya dengan keras karena gemas.
"Pelan, Sayang, lihat adikmu terkejut," ujar Evan khawatir.
"Dia sangat sayang pada adiknya makanya melakukan itu," ujar Ardianto.
"Apa kau sudah punya nama untuk anakmu?"
"Enya Queen Winston." Evan mengucapkannya dengan bangga. "Artinya Ratu yang bersinar bagai permata.''
"Nama yang bagus," ucap Ardianto.
"Sesuai dengan wajahnya yang bersinar," imbuh Raka. Tiba-tiba dia teringat akan Intan. Apa jenis kelamin bayinya, seorang jagoan atau seorang putri cantik seperti anak Faira?
Apapun jenis kelaminnya semoga keduanya selamat dan dalam keadaan sehat serta tidak kurang suatu apapun. Di tengah kebahagiaan ini hanya hatinya yang merasa sepi, sedih dan merana.
"Kita akan buat perayaan setelah kalian kembali," ucap Ardianto senang.
Semua tersenyum menyambut rencana itu. Setelah itu mereka menemui ibu yang baru melahirkan untuk mengucapkan selamat.
"Selamat Faira atas kelahiran putri kecilmu yang cantik ini. Ayah bangga padamu. Putri manja ayah telah punya sepasang anak yang tampan dan cantik."
"Selamat adikku semoga setelah kedatangan Enya hidup kalian pun akan selalu disinari kebahagiaan."
"Kau juga selamat karena telah menjadi seorang ayah. Entah kapan tapi aku yakin kau akan bertemu dengan mereka," kata Faira. Raka tersenyum kecut.
Ardianto menepuk bahu Raka.
"Kau pasti akan menemukan jalan untuk bertemu dengan mereka walau kita tidak tahu entah kapan itu."
"Amin, semoga saja secepatnya," kata Raka hampir tidak terdengar.
***
Setelah kejadian itu Raka mulai aktif kembali di perusahaan dan keorganisasian. Dia tidak akan membiarkan satu orang pun mengambil keuntungan dari kelemahannya walau dia sendiri merasa sakit.
Sepak terjangnya di dunia bisnis selalu mendapat decak kagum dari berbagai orang dan dia juga mendapat kepercayaan sebagai juru bicara presiden diusianya yang masih terbilang muda.
Satu hal yang berubah dari Raka. Jika dia dulu suka bermain wanita sekarang rasa trauma karena ditinggal oleh Intan membekas dalam sanubarinya.
Walau begitu dia tetap berhubungan baik dengan keluarga Intan. Berharap mendapat berita gembira dari mereka tentang kabar anak dan istrinya. Yah, walau sampai saat ini dia belum mendapatkan kabar apapun dari mereka tentang Intan. Entah karena mereka menyembunyikannya atau memang mereka tidak tahu masalah ini.
Beberapa foto dia dapatkan kembali hanya siluet tubuh anak yang di blur. Atau juga, foto bagian belakang tubuh Intan yang sedang menggendong anaknya. Semakin bertambah usia si anak maka ada foto lain yang terkirim walau itu berselang lama, entah itu tiga atau enam bulan sekali. Sayang dia tidak bisa melihat wajah anaknya sehingga tahu jenis kelaminnya.
Ada juga foto Intan dan anaknya bersama seorang pria. Timbul berbagai prasangka dalam diri Raka. Apakah pria itu yang selama ini mengiriminya foto itu? Atau dia kekasih atau suami baru Intan? Timbul keresahan tanpa jawaban.
Raka tidak tahu, dia hanya bisa menyimpan perasaannya dalam dada.
Dia menyimpan, semua foto itu dalam pigura di kamar khusus. Hanya dia saja yang bisa melihatnya. Foto itu sebagai penyemangat kerja seperti yang Evan pernah ajarkan dan katakan.
Tiga tahun telah berlalu dengan cepat tanpa dia sadari.