Affair (Faira)

Affair (Faira)
Salahkah aku!



Dengan kesal Raka mencari keberadaan Faira yang minta di jemput di sebuah pusat perbelanjaan. Wanita itu tidak terlihat batang hidungnya sama sekali. Netranya melihat sosok kecil yang berlarian di lantai atas. Anak itu terlihat berjalan bersama seorang wanita tua ke arah sebuah tempat permainan.


"Laura," gumam Raka. Seketika niatnya untuk bertemu Faira lenyap sudah. Dia lalu berjalan menuju ke arah dua lantai di atasnya.


Belum dia sampai ke sebuah lift, dia melihat bayangan seorang wanita berjalan di atas eskalator sedang menelfon menelfon seseorang. Maskernya diturunkan sehingga Raka bisa melihat jelas siapa wanita itu.


Deg! Nafasnya berhenti sejenak.


Dengan sigap Raka berlari cepat melewati beberapa pengunjung meninggalkan pengawalnya yang terkejut.


"Mom, dimana kalian? Aku sudah berada di lantai satu mall ini," tanya Intan menelfon Lisa.


"Ke tempat permainan. Okey, aku akan ke sana," kata Intan. Hendak menutup teleponnya ketika sebuah tangan besar memeluknya erat dari belakang.


"Hai, Sayang!" bisik pria itu di telinga Intan. Tubuh Intan membeku seketika. Dia takut untuk melihat ke belakang.


Dia berusaha melepaskan diri tetapi pelukan itu semakin erat.


"Lepaskan aku Raka," pinta Intan.


"Tidak akan!" ucap Raka mereka lalu sampai ke ujung eskalator Raka dengan cepat menggenggam lengan Intan keras dan menariknya pergi dari sini.


"Lepaskan aku atau aku akan berteriak keras!" kata Intan.


"Silahkan saja tidak ada yang akan berani karena statusmu masih istriku!"


Para pengawal Raka sudah kembali berada di belakangnya. Beberapa orang mulai melihat ke arah mereka dan sebagian memfoto menggunakan kamera handphone.


"Ambil kamera yang berusaha untuk mengambil fotoku dan hapus semua gambarku!"


"Raka lepaskan aku harus pergi sekarang!" kata Intan cemas. Namun, Raka menatapnya dengan penuh kebencian dan kemarahan. Rahangnya mengetat dan kedua matanya memerah secara bersamaan.


"Tidak, sebelum kau menjelaskan semuanya dan mengatakan dimana anakku!" ucapnya penuh penekanan.


Intan terkejut mendengar hal itu. Darimana Raka tahu jika dia punya seorang putri. Apakah dia sadar bahwa Laura adalah anaknya sewaktu dia berada di klinik Dokter Arik?


Intan terpuntal-puntal mengikuti jejak langkah kaki Raka yang sedang menyeretnya pergi keluar dari mall. Dia memikirkan satu cara agar bisa pergi dari Raka secepatnya. Mereka menjadi pusat perhatian semua orang tetapi Raka tidak peduli dia terus saja jalan.


Sebuah mobil sudah menunggunya di depan. Intan langsung menggigit keras tangan Raka. Raka terkejut dengan serangan mendadak Intan. Dia melepaskan pegangannya.


Intan hendak berlari tetapi pinggangnya diraih oleh Raka dan detik kemudian tubuhnya diangkat oleh pria itu dan dimasukkan ke mobil dengan kasar.


"Kau semakin bar-bar saja!" ucap Raka mendorong masuk tubuh Intan. Wanita itu hendak membuka pintu samping tetapi Raka menarik tubuhnya dan di letakkan dalam pangkuannya.


"Kita pulang ke rumah!" perintah Raka pada Kenan yang telah masuk duduk di kursi depan.


Intan lalu memberontak, dia berusaha melepaskan diri dari tubuh Raka yang kencang memegangnya.


Raka lalu membiarkan Intan duduk sendiri. Wanita itu lantas melihat ke arah luar jendela dan terdiam.


Akhirnya mereka sampai di rumah Raka dan Intan hanya duduk di kursinya. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi harus berbuat apa. Untung saja tadi handphonenya telah dia jatuhkan di mall sehingga Raka tidak akan bisa menyelidiki keberadaan putrinya kini.


"Turun dan ikuti aku, kita harus bicara!"


"Tidak ada yang harus dibicarakan, hubungan kita telah berakhir empat tahun yang lalu!"


Raka tertawa sumbang. "Kau dengar apa yang dia katakan Kenan, semudah itu dia mengatakannya!" Tangan pria itu lalu memegang dagu Intan dengan kasar, menatap dingin padanya. Tangannya menekan kuat ke rahang Intan sehingga membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Kau kini tahananku Intan, jadi kau tidak bisa keluar dari rumah ini seenaknya! Dan soal perpisahan tadi kau yang mengatakannya sedangkan hak untuk menceraikan ada padaku sehingga kita tidak akan bercerai jika aku tidak mengucapkan kata talak! Mengerti!"


Raka membuka mobil dan mendorong tubuh Intan kasar keluar. Dia bukan pria yang bisa lemah lembut pada orang yang telah menyakitinya begitu dalam.


Intan merasa tidak punya celah untuk melarikan diri. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Hanya bisa terdiam saja ketika tangannya di tarik oleh Raka dengan kasar ke kamar utama. Pria itu lantas mengunci pintu kamar.


Intan bergerak mundur ke belakang ketika melihat seringai di wajah Raka. Pria itu mulai membuka jas miliknya dan melemparkan ke sofa dia juga membuka Gasper di celananya.


"Sekarang layani aku!" ucap Raka.


"Tidak Raka!"


"Kenapa tidak mau, kau itu istriku atau kau sudah punya pria lain sehingga tidak ingin kusentuh!" teriak Raka murka. Sorot matanya memancarkan api yang membakar tubuh Intan.


"Berani-beraninya kau pergi dariku bersama pria lain menjijikkan!"


Intan menelan Salivanya kuat-kuat. Wajahnya berubah menjadi pias seketika.


"Kenapa apa kau akan menyangkal? Aku bisa saja langsung membunuhmu sekarang tetapi tidak aku akan menyiksamu hingga kau meminta pengampunan atas apa yang telah kau lakukan! Tetapi jangan harap aku akan memaafkan untuk setiap luka yang telah kau torehkan!" bentak Raka pada Intan. Tubuhnya terus maju hingga Intan tersudut di pinggir tempat tidur.


"Jangan Raka! Ku mohon lepaskan aku!"


"Tidak kali ini!" ucap Raka lalu menarik baju depan Intan dengan kasar sehingga semua kancing baju itu terlepas. Intan membuka mulut dan dua tangannya menarik bajunya agar tertutup kembali. Air matanya telah luruh. Namun Raka sudah gelap mata dia menarik paksa baju Intan sehingga robek dan terlepas dari tubuhnya. Intan lalu berlari ke arah pintu. Mencoba membukanya namun tidak bisa. Sedangkan Raka berjalan ke arahnya.


"Tidak Raka, kau tidak bisa melakukan ini!" ucap Intan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa tidak! Kau yang memaksaku melakukan ini," ucap Raka dengan wajah bengis sesuatu yang belum pernah Intan lihat sebelumnya.


"Kau yang bersalah dan kau menimpakannya kepadaku!"


"Kau pergi tanpa memberiku waktu untuk menjelaskan semuanya. Aku seperti orang gila mencarimu kemana-mana tapi dengan mudahnya kau mengatakan kalimat perpisahan. Apakah itu adil?"


"Kau marah padaku karena aku bersama seorang wanita lalu kau sendiri pergi bersama Robin dan menghilang selamanya. Lalu siapa yang bersalah di sini. Katakan Intan!" teriak Raka sembari mengoyak bahu wanita itu.


"Bukankah sudah kukatakan hubungan kita dari awal adalah sebuah kesalahan dan itu semua tidak akan terjadi jika kau tidak membawaku dalam arus masalahmu. Aku ingin berpisah karena aku membebaskanmu berhubungan dengan wanita manapun tanpa harus terikat padaku, salahkah aku?" teriak Intan tidak mau kalah