Affair (Faira)

Affair (Faira)
Jujur Itu Lebih Baik



Raka bahagia ketika melihat senyum lebar dan cerah dari Faira. Sesuatu hal yang sudah dia impikan selama untuk melihat hidup adiknya bahagia tercapai sudah. Rasanya dia rela melepaskan tanggung jawabnya pada seorang Evan Winston pria yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun lalu dan menjadi sahabat karibnya hingga kini akhirnya menjadi adik iparnya.


Faira mendekati Raka dan memeluknya ketika telah selesai penandatangan surat nikah di kantor kehakiman.


"Kak," panggil Faira menangis sembari tersenyum lebar. Hati Raka tersentuh melihatnya.


"Jadilah istri yang baik," pesan Raka pada Faira. Wanita itu mengganggukkan kepalanya.


"Jika ada masalah komunikasikan semua dengan baik bersamanya, jangan lagi memutuskan segala sesuatunya sendiri walau kau pikir itu yang terbaik."


"Dan satu lagi yang mesti kau ingat, aku tetap kakakmu yang akan membantumu ketika kau ada masalah. Jadi jangan sungkan meminta bantuan ku jika Evan berulah," seru Raka membuat Evan tertawa kecil sembari menutup mulutnya.


"Sekarang aku akan menyerahkannya sepenuhnya pada Evan. Mulai kini kau bukan tanggung jawabku lagi tetapi tanggung jawab Evan."


"Aku sangat menyayangimu, Kak," ujar Faira.


"Aku juga menyayangimu hingga kapanpun. Bagiku kau tetap adikku yang cengeng dan sering menangis dalam pelukanku," kata Raka.


"Tidak lagi jika dia sudah punya istri karena dadanya akan dia berikan pada istrinya," celetuk Ardianto.


"Apa kakak sudah punya calon?" tanya Faira mengusap air matanya. Berharap pria didepannya punya teman hidup yang akan menemani hidupnya hingga akhir hayat.


"Doakan saja dia segera mendapatkan jodoh yang baik yang menemani dalam suka maupun duka," kata Ardianto.


"Aku kira kakak sudah mempunyai seorang calon istri. Jika ada aku ingin mengenal calon kakak iparku," ucap Faira.


"Bawakan dia kakak iparnya, Raka," cetus Ardianto membuat Raka gerah dia merenggangkan tali dasinya yang terasa mencekik.


"Sepertinya ada yang kalian rahasiakan?" tanya Faira.


"Kau jangan dengarkan Ayah, dia hanya terlalu menginginkan seorang menantu wanita," ujar Raka tersenyum. Evan hanya menatapnya dengan penuh arti sembari menggelengkan kepalanya. Faira bisa dia bohongi tetapi bukan dia.


Raka meminta ijin pada yang lain untuk kembali ke hotel terlebih dahulu dengan alasan ada pekerjaan yang harus dia konfirmasi ke anak buahnya yang ada di hotel.


Sesampainya di hotel Raka langsung pergi ke kamar dan membukanya dengan cepat. Dia takut jika Intan melakukan hal aneh ataupun melarikan diri darinya. Soalnya dia adalah wanita unik yang tidak bisa dibaca jalan pikirnya.


Raka membuka pintu dan tidak menemukan Intan di dalam kamarnya. Dia gugup tetapi melihat pintu balkon kamar itu terbuka sedikit. Raka lalu berjalan ke arah balkon dan membuka pintunya. Di sana dia melihat Intan berdiri menatap langit yang bersinar dengan terangnya.


Dia memakai dress putih dengan panjang selutut, dengan lengan pendek dan bagian bahu serta punggungnya terbuka. Bagian dadanya bertebaran berbagai bebatuan yang berkilauan membuat dia seperti peri yang berkilau terkena sinar matahari.


"Kau sudah datang?" tanya Intan dengan nada tegas tidak seperti biasanya. Dia berdiri bersandar di tembok pembatas dengan kaki disilangkan ke depan. Surai hitam lebatnya di gerai tetapi menyisakan sedikit yang dipilih di kedua sisi dan disatukan ke belakang. Wajahnya terkena sapuan make up minimalis tetapi terlihat manis dan elegan membuat wajahnya nampak berbeda dari biasanya. Untuk sejenak Raka terpana.


"Seperti yang kau lihat," jawab Raka berusaha untuk terlihat tenang dan datar.


"Okey, sekarang jujurlah padaku. Sebenernya apa yang terjadi pada malam itu?" tanya Intan.


"Aku sedang bertanya dan kau malah bertanya balik." Kesabaran Intan sudah mulai habis untuk saat ini.


"Dari awal kau mempermainkan diriku untuk kepentinganmu. Tololnya aku mau saja kau bodohi," ujar Intan dingin namun terdengar menakutkan untuk Raka, entahlah. Untuk pertama kalinya dia takut melihat seseorang marah padanya.


"Aku bisa saja meminta bantuan pada wanita lain untuk melakukannya, bahkan banyak anak petinggi partai yang akan menyerahkan putrinya padaku dengan cuma-cuma namun entah mengapa aku lebih suka memilih menjebakmu," kata Raka mencoba berterus terang walau itu terdengar menyakitkan untuk Intan.


Dia menunduk dan berpikir wanita ini akan berteriak histeris padanya. Namun, tidak wanita itu malah membalikkan tubuhnya menatap ke jauh ke depan.


"Andai aku mundur pun tidak bisa lakukan lagi karena orang tuaku akan bertambah sakit hati padaku. Maju pun aku sudah kalah berperang. Tidak ada pilihan yang menyenangkan untukku. Kau benar-benar membawaku pada situasi yang sulit." Intan terdengar menghela nafas dengan keras.


"Kita tidak melakukan apapun kan Raka?" tanya Intan lagi.


"Tidak! Aku tidak mau berhubungan dengan wanita jika dia tidak menginginkannya," jawab Raka tegas. "Apalagi memanfaat ketidak berdayakan wanita yang sedang tidak sadar."


Intan tersenyum. "Setidaknya nanti ketika kita telah bercerai, aku masih mempunyai sesuatu yang bisa kubanggakan untuk kuberikan pada suamiku kelak." Intan tersenyum lega.


Entah mengapa mendengar kata cerai seperti menyeset hati Raka. Dia seperti tidak rela membayangkan wanita ini dimiliki oleh pria lain. Rasa apa itu? Batin Raka.


"Kita akan menikah, kau bisa memanfaatkan pernikahan kita untuk kepentinganmu dalam bisnis dan dalam politik. Aku juga bisa membuat bangga ayah dan ibu karena menikahi orang sepenting dirimu. Namun, aku ingin pernikahan ini hanya di luar rumah saja sedangkan di dalam rumah kita hanya dua orang asing yang punya kepentingan dan privasi sendiri."


"Kau bisa tetap melakukan apapun yang kau suka seperti saat kau belum menikah dan aku pun seperti itu. Aku akan mencari kerja lagi dan mencari pendamping hidup," kata Intan. Raka ingin menyela tetapi dia tidak tahu harus berkata apa. Ditelannya lagi kata-katanya.


"Kau tidak perlu mencari pekerjaan lain cukup kembali ke perusahaan dan jadi sekretarisku," kata Raka. Intan menatap mata pria itu. Menggelengkan kepalanya.


"Tidak Raka, aku tidak ingin hidup dalam bayang-bayang mu. Aku ingin menjadi diriku Intan Lavanya bukan Intan Permana. Nama itu terasa berat untuk ku tanggung dan kupikul. Aku ingin kebebasanku, bisakah kau memberikannya ketika kita sudah menikah?" tanya Intan.


"Baiklah jika itu maumu," kata Raka mengalah hal yang tidak pernah dia lakukan kecuali pada adiknya, Faira. Dia selalu mengalah padanya.


"Aku juga ingin tidur dikamar sendiri," kata Intan lagi.


"Tidur di kamar sendiri mengapa? Bukankah kita sudah menikah?"


"Kau terlalu mesum, aku tidak yakin kau akan membuatku tetap gadis hingga kita bercerai," ujar Intan kembali normal seperti biasanya.


Wajah tegang Raka lalu mulai memudar bibirnya menarik sebuah simpul indah.


"Aku bahkan bisa menghamili," kata Raka.


"Itu yang aku tidak mau, makanya aku ingin agar kamar kita terpisah," pinta Intan.


"Bagaimana jika aku keberatan," kata Raka maju dan mengurung wanita itu.


"Pernikahan kita batal jika kau tidak menyetujui persyaratan ku," ancam Intan.