Affair (Faira)

Affair (Faira)
Aman



Faira mendekatkan wajahnya ke arah Evan. Menatap bola mata biru Evan yang berharap. Sejenak dia mulai tergoda namun akalnya ... .


"Tidak!" ucap Faira menyentil hidung mancung Evan. Lalu duduk kembali menghadap ke depan.


Evan lalu menggelengkan kepala sembari menjalankan mobilnya lagi. Perjalanan serta liburan ke Bedugul sangat menyenangkan hati keduanya. Mereka bisa melihat lebatnya hutan sembari menaiki kapal boat lalu melihat keindahan wisata di sana.


Tidak ada foto. Itu perjanjian mereka. Sehingga mereka hanya berjalan sembari bergandengan tangan dan tertawa bersama. Sesekali Evan melakukan hal kecil yang membuat hati Dara berbunga-bunga seperti merapikan rambutnya atau membantunya berjalan ketika jalan terasa sulit untuk dilalui.


Hal yang paling mengejutkan bagi Faira adalah ketika dia sedang melihat pemandangan danau dan Evan memeluk pinggangnya dari belakang. Dagu Evan diletakkan di bahu Faira. Entah mengapa Faira tidak melarang atau menolaknya.


"Faira apakah kau senang bersamaku?" tanya Evan.


"Boleh dibilang begitu," kata Faira.


"Kemungkinan besar aku akan kembali ke Kansas beberapa hari lagi," ungkap Evan terdengar lesu. Entah mengapa Faira pun merasa keberatan dengan perpisahan itu.


Faira lalu membalikkan tubuhnya ingin mengatakan sesuatu mereka saling menatap satu sama lain.


Jeder!


Suara kilat menyambar membuat Faira dan Evan terkejut mereka lalu melihat awan hitam sudah mulai bergerak mendekat.


"Kita harus kembali dan mencari penginapan terdekat," ucap Evan menarik tangan Faira. Mereka lalu kembali ke kapal sesampainya di pinggir danau hujan turun dengan deras disertai badai sehingga membasahi baju mereka berdua.


"Kita harus ke penginapan terdekat," ajak Evan mereka lalu mencari penginapan terdekat. Semua penginapan di tempat itu telah penuh membuat mereka kedinginan karena berjalan di tengah badai.


"Semua kamar penuh karena ini weekend dan hanya ada satu kamar yang tersedia," terang resepsionis.


"Ya sudah kami cari tempat lain," kata Evan


"Baiklah kami akan ambil itu," kata Faira bersamaan dengan Evan. Resepsionis itu bingung.


"Kami akan mengambilnya," ucap Faira.


"Tapi Faira," ujar Evan keberatan. Berada di dekat wanita itu saja sangat menyiksanya apalagi bersama dalam satu kamar.


"Aku sudah kedinginan Evan," ujar Faira mengusap kedua tangannya bersamaan. Udara di wilayah ini memang cenderung dingin.


"Kami akan mengambil kamar itu," kata Evan. Resepsionis itu lalu mengambil kunci kamar.


"Kami juga butuh baju kering dan makanan," pinta Evan.


"Baiklah kami akan mengantarkannya pada ke kamar Anda."


Evan lalu merengkuh pundak Faira dan membawanya ke kamar. Sesampainya di kamar Evan melihat wajah Faira yang telah memucat dan bibirnya yang gemetar.


Sejenak tubuh Faira terpaku mendengar kata-kata Evan namun semua yang pria itu katakan ada benarnya.


Faira mulai membuka pakaiannya satu persatu. Jantung Evan berdegub kencang melihat bayangan Faira di tembok. Siluet tubuh wanita itu saja sudah membangkitkan gairah dalam dirinya.


Evan menelan Salivanya dan menundukkan pandangan.


"Aku sudah selesai," ucap Faira lemah di balik selimut.


Evan lalu membalikkan tubuhnya dan tersenyum.


Suara pintu kamar mulai di ketuk.


Evan lalu berjalan untuk membuka pintu kamar. Seorang pria memakai seragam hotel membawa baki berisi makanan. Evan hanya mengambil baki itu dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Faira apakah kau mau makan?"


Faira meringkuk di dalam selimut, rambutnya saja yang terlihat keluar dan masih basah. Evan lalu meletakkan baki itu di atas meja dan duduk di sebelah Faira. Mengusap rambut panjang itu.


"Faira ayo kita makan," kata Evan. Hawa dingin mulai menusuk ke kulitnya.


"Evan aku sedang kedinginan," ucap Faira enggan untuk bangun.


Evan menyibak rambut Faira guna melihat wajahnya.


"Faira kau harus makan, kau bisa sakit nanti," kata Evan.


Faira lalu menatap Evan.


"Kau yang bisa sakit karena memakai pakaian yang basah," ucap Faira.


"Aku tidak bisa melakukannya di depanmu," kata Evan. "Sebaiknya aku menunggu baju kering itu datang."


"Aku akan melihat ke arah lain dan kita bisa berbagi selimut hangat ini," kata Faira.


"Faira, kau tidak tahu betapa berbahayanya aku!"


"Aku lebih takut kau mati kedinginan," ucap Faira lalu masuk kembali ke selimut hangat itu.


Evan sedikit ragu namun pada akhirnya dia membuka baju dan masuk ke dalam selimut itu. Faira lalu membatasi tubuh mereka dengan bantal guling.


"Setidaknya ini aman untuk kita berdua," ucap Faira.


"Sampai kapan?" tanya Evan.