
"Mengapa kau lakukan ini Evan memaksaku masuk ke dalam lingkaran masalahmu?" tanya Faira ketika mereka telah berada di kamar.
Evan lalu menarik tubuh Faira dan merapatkannya dengan tubuhnya sendiri.
"Aku tidak memaksamu, aku bertanya terlebih dahulu padamu sebelum mengajak kemari," jawab Evan menatap mata Faira.
"Fay maukah kau menikah denganku?" Faira terdiam, lidahnya kelu seketika.
"Aku kuat jika kau berada di sampingku dan aku akan mati jika kau pergi. Hanya kau, nafas hidupku ini."
"Apakah ini tidak terlalu cepat, kita bahkan baru bersama beberapa hari ini dan kau langsung memaksaku untuk menikah," tanya Faira. "Pernikahan tidak semudah yang dibayangkan."
"Aku memang baru bertemu denganmu tapi aku seperti telah mengenalmu berabad-abad lalu," ujar Evan.
"Kali ini aku tidak akan memaksa jika kau menolaknya aku akan menerima walau kecewa," ucap Evan sembari mengusap pipi Faira dengan tangan satunya lagi.
"Entahlah aku terlalu bingung untuk menjawab apa?" ucap Faira terus terang.
Evan lalu meletakkan kepala Faira di dadanya.
"Jika kau merasa nyaman disini berarti kau adalah bagian dari diriku," kata Evan sembari mengusap lembut kepala Faira. Faira memejamkan matanya mencoba mencari tahu apa yang dia inginkan.
Evan benar, dia merasa nyaman dalam dekapan hangatnya. Merasa terlindungi dan merasa tidak sendiri. Dadanya berdetak cepat seirama dengan detak jantung Evan yang bernyut keras sedari tadi.
Tangan Faira ikut memeluk Evan. Evan setengah terkejut tetapi dia tersenyum memeluk Faira lebih erat.
"Kita bentuk keluarga kecil yang baru. Aku bahkan berniat keluar dari perusahaan dan kembali ke negaramu bersama Kakek dan bibi Marry. Tinggal di sana terasa damai," kata Evan.
Faira lalu membuka matanya.
"Tidak kau harus tetap di sini untuk membalas semua yang dilakukan oleh mereka yang menyakitimu," kata Faira membuat Evan terkejut.
"Jika kau pergi dari sini mereka tetap mengejarmu karena kau punya setengah dari saham kakekmu, tetapi jika kau membuat mereka jera mereka tidak akan berani lagi menyentuhmu," kata Faira.
"Aku berpikir jika mereka pasti akan menyakitiku dan Ello suatu hari nanti," ujar Faira membuat Evan terkejut. Faira merasa seperti itu setelah pertemuannya dengan Alberth siang tadi.
Evan pun merasa demikian namun dia tidak bisa menceritakan semuanya pada Faira tetapi wanita ini malah jauh lebih perasa. Dia tahu sendiri.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian, aku akan menjaga kalian dengan jiwa dan ragaku," ucap Evan memeluk Faira lebih erat. Sejenak mereka larut dan kebersamaan ini.
"Aku punya Ayah dan Kek Raka yang harus di mintai doa restu," kata Faira tiba-tiba.
"Aku sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Faira terkejut merenggangkan pelukannya agar bisa menatap Evan.
"Sudah, bahkan gaun pernikahanmu sudah ada di kamar Bibi Marry," beritahu Evan membuat Faira bahagia dan kesal. Wanita itu memukul lengan pria itu.
"Aku sangat mencintai Faira. Tidak pernah aku merasakan rasa yang sama untuk wanita lain. Hanya kau dan hanya dirimu yang ada dalam hatiku."
Mata Faira berkaca-kaca. Inikah rasanya dicintai dengan sepenuh hati? Cinta yang tidak dibagi dengan siapapun.
Evan menundukkan wajah hendak mencium pasangannya namun Faira menghindar.
"Aku belum mandi tubuhku penuh keringat," ucapnya mencari alasan.
"Bagiku kau selalu harum walau kau beluk mandi selama tiga hari," rayu Evan.
"Gombal." Faira mendorong tubuh Evan. "Aku akan mandi dulu."
Evan lalu melepaskan Faira.
"Itu bajumu," tunjuk Evan pada tas koper di bawah jendela.
"Kau keluar dari kamar ini karena aku akan melepas pakaianku," dorong Faira mengusir badan tinggi besar itu.
"Aku sudah melihat semuanya jadi mengapa harus di tutupi?" jawab Evan.
"Aku hanya takut kau akan menubrukku karena melihat tubuhku tanpa pakaian," jawab Faira.
"Kau benar bersamamu saja membuat bukit gairahku bangun. Aku sudah tidak sabar menunggu besok, menunggu pernikahan kita lalu aku bisa... ."
"Stop!"
"Simpan pikiran mesummu untuk lain hari!"
Evan terdiam lalu Faira menutup pintu kamar dengan cepat. Di balik pintu itu dua anak manusia saling tersenyum sendiri.
Mengapa terasa mudah bagi Evan untuk mendapatkan hati Faira kembali, entahlah Faira tidak tahu. Jauh di dalam hati Faira dia merindukan Evan walau tadinya diliputi kebencian. Namun, setelah dia tahu semuanya, kebencian itu hancur seketika berubah menjadi bunga-bunga cinta dihatinya.
Dia bahagia, ternyata dulu, Evan tidak meninggalkannya karena hanya menganggapnya mainan. Evan melakukan itu untuk melindunginya dari para musuh yang tidak terlihat. Dia merasa bagai seorang putri yang dilindungi oleh pangerannya. Evan sang pangeran itu. Pangeran bermata saphire yang indah.