Affair (Faira)

Affair (Faira)
Hancurnya Kepercayaan



Dua hari kemudian Intan pergi ke kantor Raka dengan membawa makanan kesukaan pria itu. Dia sudah mewanti pada para pengawal yang mengikutinya agar tidak memberitahu suaminya perihal ini.


Tadinya mereka menolak namun Intan mengancam akan menyuruh suaminya memecat mereka kalau tidak menurut. Apa mau dikata mereka akhirnya mengikuti kemauan Intan.


Dia masuk ke dalam gedung itu dan mendapat sapaan dari semua orang. Intan hendak masuk ke dalam lift lalu para pengawalnya melarang pegawai lain untuk masuk bersama mereka. Namun, Intan memperbolehkan semuanya masuk. Sehingga ada Intan dan tiga pengawalnya serta tiga temannya dari divisi yang sama dulunya.


"Eh, ada Ibu Bos," sapa Rina.


"Hai, Rin. Panggil aja aku seperti biasanya."


"Beda dong secara kamu sekarang sudah jadi istri Bos kita. Hebat kamu bisa gaet dia," ujar Shelly, temannya yang lain.


"Pakai acara sebarin video kebersamaan kalian lagi, heboh itu. Otakmu memang tok cer, Tan," imbuh Keyla. Pengawal Intan yang tidak suka hendak menegur dua orang wanita itu tetapi Intan melarangnya.


"Mungkin cara Tuhan seperti itu membuat kita bersama. Banyak wanita yang sudah bersamanya tetapi sayang mereka tidak seberuntung aku. Soal yang menyebarkan video itu aku tidak tahu orangnya tetapi aku bersyukur karena kejadian ini aku bisa menjadi istrinya." Intan tersenyum pada semua orang di dalam lift itu.


Sedangkan di ruangannya Raka sedang berbicara dengan Sarah. Salah satu anak rekan bisnisnya yang diutus ayahnya untuk membujuk Raka agar mau menandatangani kerjasama proyek.


Mereka duduk di sebuah kursi sofa dan berseberangan. Sarah sengaja memakai pakaian yang ketat dan menampilkan lekuk tubuhnya agar Raka tertarik padanya.


"Harganya tidak sesuai dengan yang ada di pasaran," kata Raka. Mendapat nada penolakan dari Raka Sara maju dan duduk di pangkuan pria itu. Dia lalu menelusuri wajah Raka dengan jari telunjuknya.


"Ayolah demi kebersamaan yang pernah kita lakukan," rayu Sara.


"Kau harus memperbaiki harganya dulu baru bisa mendapat tender ini," ucap Raka risi. Entahlah, dulu dia menikmati jika ada wanita yang melakukan ini dengannya, sekarang terasa sangat menjijikkan.


"Sara turunlah," kata Raka. Mereka memang pernah menghabiskan waktu bersama dulu tapi kapan Raka lupa.


Bukannya turun Sara malah menyatukan dahi mereka namun Raka memundurkan wajahnya.


"Aku sangat merindukanmu, Raka," kata Sara.


"Aku sudah menikah," jawab Raka.


"Itu tidak masalah kita hanya bersenang-senang seperti dulu," ujar Sara menyentuh bibir Raka dengan jarinya.


Sedangkan di luar ruangan Raka, Intan hendak pergi masuk namun dicegah oleh sekretaris pria suaminya.


"Aku ingin memberikan surprise untuk suamiku," kata Intan tidak peduli lalu membuka pintu dan terdiam terpaku di tempat.


Klontang!


Tempat makan yang Intan bawa terjatuh dilantai.


Tempat makan Intan jatuh ke lantai. Seketika dadanya terasa sesak. Matanya memanas. Ini yang selama ini dia takutkan. Raka bermain api dibelakangnya. Baru saja tiga hari mereka bersama tetapi pria itu telah bersama wanita lain.


Intan lalu membalikkan tubuhnya dan berlari cepat ke arah lift.


Raka yang sama-sama shock mengejar wanitanya tetapi lift terlanjur sudah tertutup.


"Are you, Okey," sapa seorang pria pada Intan yang sedang menyeka air matanya sembari memegang dada yang terasa nyeri.


Intan seperti mengenali suara itu dan menoleh.


"Tolong, bawa aku pergi dari sini sejauh mungkin. Mereka pasti mengejarku," pinta Intan berderai air mata dengan tatapan putus asa.


Robin merasa kasihan pada Intan. Dia tidak tahu apa yang terjadi tetapi suatu yang buruk mungkin menimpa hubungan Intan dan Raka.


"Okey, kita akan pergi dari sini. Kau jangan khawatir," kata Robin. Dia ke kantor ini untuk membicarakan kerja sama antara perusahaan Evan dan perusahaan milik Raka. Evan sedang sibuk mengurus pernikahannya lalu menyerahkan tugas ini padanya.


Sebelum keluar dari lift Robin menyerahkan jasnya untuk dikenakan oleh Intan.


"Tundukkan wajahmu agar mereka tidak melihatnya," kata Robin sambil menyisir rambut Intan ke depan.


Robin menggiring Intan masuk ke dalam mobil miliknya dan pergi secepatnya dari gedung itu.


Sedangkan Raka berlari mencari Intan hingga ke lobby dan bertanya pada sekuriti yang ada namun Intan tidak terlihat sama sekali.


"Kau lihat istriku keluar?" tanya Raka pada sekuriti di depan pintu.


"Tidak, Tuan," jawab dia sekuriti bersamaan. Pengawal yang diperintahkan oleh Raka untuk turun ke ruang parkiran berlari mendekat.


"Nyonya tidak terlihat turun ke ruang parkiran," ujar pengawal itu.


"Sial!" Raka menjambak rambutnya ke belakang. "Cari lewat pintu belakang," perintah Raka lagi.


"Kami sudah mencarinya lewat sana tetapi tidak ada yang melihatnya."


"Kalian pasti melewatkan sesuatu," teriak Raka frustasi.


"Kita cari lewat CCTV perusahaan, Tuan," kata Kenan asisten Raka.


Raka lalu langsung berlari ke ruang CCTV dan mencari keberadaan Intan. Namun tidak dia dapatkan. Dia lalu meminta CCTV yang ada di lift.


Dia melihat Intan bersama Robin dan pria itu memberikan jasnya pada Intan. Intan di peluk oleh Robin ketika keluar dari lift sehingga penjaga tidak melihat wajahnya.


"Robin," gumam pria itu mengepalkan tangannya.


"Hubungi Evan minta nomer Robin," kata Raka.


Beberapa saat kemudian Raka menghubungi Robin.


"Pulangkan istriku sekarang juga!" teriak Raka tanpa basa basi melalui sambungan video.


"Oh, Raka. Kau tanyakan saja pada istrimu apakah mau kembali atau tidak. Dia terlihat shock dan menangis sedari tadi," jawab Robin lalu memperlihatkan Intan yang enggan untuk melihat ke arah handphone.


"Intan, pulanglah aku bisa jelaskan masalah ini."


Wanita itu lalu melihat ke arah handphonenya. Bekas tangis masih terlihat di sana. Ingin rasanya Raka menghapusnya lalu memeluk istrinya. Rasa bersalah karena telah menyakiti Intan menggelayut dalam sanubarinya.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Hubungan kita telah berakhir sekarang. Selamat tinggal." Intan lalu mematikan sambungan telepon itu.


"Intan!" panggil Raka namun telepon itu telah diputus.


"Cari keberadaan mereka sekarang!" perintah Raka pada anak buahnya. "Lihat nomer plat mobilnya dan cari di sepanjang jalan kota ini."


"Kalau perlu minta bantuan dari kepolisian. Aku tidak peduli bagaimana caranya tetapi aku ingin kalian mendapatkan istriku secepatnya." perintah Raka pada anak buahnya.


"Baik Tuan," ucap anak buah Raka.


"Tuan, kita ada pertemuan dengan klien dari Jepang satu jam lagi," kata Kenan menyela.


Raka lalu menendang sebuah meja hingga meja itu guling membuat para karyawan yang ada di tempat itu melonjak terkejut.


"Kita batalkan pertemuan itu," kata Raka.


"Tidak bisa Tuan, klien kita sudah datang jauh-jauh kemari untuk bertemu dengan Anda. Lagi pula nilai proyek ini sangat besar," terang Kenan.


Raka menarik rambutnya ke belakang. Istri dan Perusahaan mana yang lebih penting.


"Sementara Anda menemui klien itu, kami akan mencari keberadaannya."


"Kau cari istriku dan aku akan menemui klien itu," kata Raka berjalan meninggalkan ruang CCTV dengan perasaan yang kalut.


"Baik, Tuan."