Affair (Faira)

Affair (Faira)
Hadiah Pernikahan



"Aku selalu bingung untuk memanggilmu apa?" ucap Faira pada Intan.


"Terserah kau saja. Aku juga seperti itu, aku terbiasa memanggilmu kakak ipar dan kini beralih menjadi adik ipar sepertinya akan sulit untuk kulakukan."


"Jika kau memanggilku kakak, maka Kak Raka tidak akan menerimanya. Dia akan marah besar nantinya."


"Hmmm."


"Aku sebetulnya heran mengapa acara ini harus dilakukan," ucap Intan melihat pantulan dirinya di cermin.


"Lho, bukankah ini pernikahan kalian?"


"Betul hanya saja, pernikahan itu telah berlangsung empat tahun lebih aku malu jika harus didandani seperti ini layaknya perawan saja."


"Kau memang telah menikah dengan kakakku beberapa tahun lalu namun belum meresmikannya. Kini peresmiannya. Lagipula warga desa setempat terlihat antusias menyelenggarakan pesta ini," ucap Faira.


"Kakak bahkan melakukan apa yang mereka mau, memanggil penyanyi dangdut terkenal menyelenggarakan pengajian dan mengadakan pesta kesenian. Acara terlihat meriah."


"Acara belum mulai tetapi aku sudah lelah terlebih dahulu," ungkap Intan.


"Kau harus semangat, Kak," ucap Faira menengok ke luar jendela melihat panggung besar di depan rumah Intan. Tepatnya di rumah orang tua Intan di kampung.


Arak-arakan mulai terdengar dari kejauhan. Seorang yang didaulat sebagai dukun pengantin daerah itu masuk ke dalam.


"Pengantin prianya sudah datang. Nak Intan ayo, keluar bersama dengan Ibu. Nak Faira berdiri dibelakangnya."


Intan yang mengenakan baju adat berupa kemben dengan bawahan memakai kain Jarit membuat dia terlihat anggun dan cantik. Dia mencoba untuk terbiasa dengan baju itu yang membuat langkahnya sulit. Ini hanya satu hari saja," batin Intan.


Faira sendiri membenarkan hiasan bunga melati di kepala Intan. Baunya harum sekali. Sayang dia tidak mengenakan baju adat ketika menikah dulu. Jika tidak dia pasti akan terlihat cantik dan anggun seperti kakak iparnya itu.


Mereka lalu keluar dari rumah itu untuk menyambut mempelai pria yang sudah berada di pintu masuk acara.


Wajah Intan terlihat berbeda dari biasanya membuat Raka pangling atau tidak mengenalinya lagi. Pria itu melihat nakal pada Intan membuat wanita itu malu-malu.


"Wah sudah punya satu anak masih malu-malu seperti gadis perawan saja. Kalian ini sangat romantis."


"Kau jangan bilang satu anaknya," bisik Pak Noto kesal pada pembawa acaranya. Dengan memuntir kumis lebatnya.


"Maaf, Pak," ucap pembawa acara itu. Acara berlangsung meriah. Mereka melakukan rangkaiannya dengan khidmat. Acara ijab dilakukan untuk kedua kalinya dan semua orang menyaksikannya. Namun, wartawan dilarang meliput acara ini.


Tiba saatnya acara suap menyuap. Pemimpin prosesi acara menyerahkan piring berisi nasi dengan bentuk tumpeng ke depan Intan. Nasi itu dengan lauk pauk tradisional yang terlihat lezat namun perut Intan mendadak mual melihatnya. Dengan sepenuh tenaga dia menahannya tidak ingin prosesi ini berakhir dengan buruk.


Dia menahan nafas ketika Raka menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Intan langsung meminta air putih untuk membantu menelan makanan itu, hal itu menarik perhatian semua orang dan membuat kebingungan.


"Ada apa?" tanya Raka khawatir.


"Tidak apa-apa," jawab Intan namun matanya terlihat berkaca-kaca.


"Apa kau sedang sehat?"


"Aku baik-baik saja," ucap Intan padahal dalam perutnya sedang bergejolak meminta dikeluarkan lagi isinya. Intan memegang ujung bajunya dengan erat.


"Aku harus pergi," ucap Intan berjalan turun dari panggung dan menutup mulutnya. Raka lalu mengikutinya. Dia lalu pergi ke kamar mandi di kamarnya dan memuntahkan semua makanan itu.


Raka memijat tengkuk wanita itu pelan.


"Apa kau baik-baik saja? Jika tidak kita bisa mengakhiri acara ini dan menggantinya dengan acara lain."


"Raina kau tidak apa-apa Nak?" tanya Ibu Intan khawatir di belakang Raka.


"Aku hanya mual melihat semua makanan itu."


"Kau sedang hamil muda kali, Kak?" ujar Faira.


"Aku juga menebak seperti itu," imbuh Evan memegang pinggang istrinya.


"Kapan terakhir kali kau menstruasi?" tanya Faira ketika Intan mulai duduk di pinggir tempat tidur.


"Bulan lalu, sebelum aku bertemu dengan Mas Raka," kata Intan. Dia kini menyebut Raka dengan mas karena itu adalah perintah ayah dan ibunya. Panggilan itu dilakukan sebagi bentuk sayang dan penghormatan pada sang suami.


"Nah, benar kan!" lanjut Faira. "Fix sepertinya istrimu ini sedang hamil anakmu yang kedua."


"Apa Ibu panggil bidan desa untuk diperiksa saja sekalian?" tanya ibunya. "Bu bidan ada disini juga kok."


"Boleh, Bu," ujar Faira. Raka malah mencopot hiasan di kepala Intan.


"Kak, kenapa dicopot," ujar Faira.


"Tolong ambilkan baju untuk kakak mu ini. Dia masuk angin karena bahunya tidak memakai penutup," ucap Raka dingin.


"Tetapi hiasannya kenapa dicopot?"


"Kakakmu itu pusing karena kepalanya berat dengan sanggul dan hiasan ini," ujar Raka melepas pelan hiasan bunga di rambut Intan. "Dia terlihat sangat cantik tetapi aku tidak ingin melihat dia sakit."


"Dia mual karena hamil kakak bukan karena hiasan itu," ujar Faira.


"Aku hanya ingin istriku merasa nyaman dengan apa yang dipakainya. Apalagi jika dia hamil apakah calon anakku tidak terjepit kesesakan karena memakai korset yang sesak?" omel Raka. Jika seperti itu tidak ada yang berani membantahnya. Raka adalah pria keras kepala. Dia akan melakukan apa yang dia kira baik. Intan yang dulu suka berdebat sekarang lebih memilih diam, bukan karena dia tidak punya pendapat sendiri tetapi dia tidak ingin memancing keributan dengan suaminya.


Bidan lalu datang. Raka dan semua orang diminta keluar dari ruangan itu. Raka sendiri memilih naik ke atas panggung untuk menyampaikan permintaan maafnya karena acara tidak bisa diselesaikan sebagaimana mestinya. Belum juga dia selesai mengatakan sesuatu Pak Noto ikut naik ke atas panggung.


Dia lalu membisikkan sesuatu kepada Raka. Wajah pria itu terlihat tegang sejenak lalu senyum lebar memancar dari wajahnya.


"Maaf Nyonya, Tuan, Bapak, Ibu dan semua yang ada hadir di sini. Sebelum hari ini mungkin kalian semua sudah tahu jika saya dan Intan sudah menikah siri beberapa tahun lalu. Namun, kami berpisah untuk waktu yang lama. Setelah perpisahan itu kami bertemu lagi dan sadar jika ternyata kami berdua saling mencintai. Apalagi saat itu aku baru tahu jika kami punya seorang putri kecil bernama Laura. Lalu, kami memutuskan untuk meresmikan pernikahan kami sekarang. Namun, sekali lagi pernikahan ini sedikit bermasalah karena Intan sakit."


Raka menarik nafasnya dan tersenyum lebar. "Namun sakit kali ini membawa suatu keberkahan sepertinya istri saya itu sedang hamil muda lagi. Anggaplah kami mempermainkan sebuah pernikahan dan saya harap apa yang saya lakukan dilakukan oleh anak muda yang lain. Nikahilah wanita yang kalian cintai secara resmi karena jika kalian melakukan itu maka nama baik mempelai wanita tidak akan tercemar. Kalian tidak akan takut kehilangannya karena punya surat hak milik dan diakui oleh negara. Selain itu, artinya kalian juga menghormati keluarga istri karena memintanya secara baik-baik."


Semua orang menganggukkan kepalanya.


"Akhir kata wassalam dan kalian bisa meneruskan dan menikmati pestanya. Saya harus menemui istri dan memberinya hadiah kecupan sayang karena dia memberi hadiah indah."


Suara tepuk tangan bergema ketika Raka turun dari podium.