
Seminggu setelah berbincang dengan Cintya, Faira masih enggan untuk menyapa atau mengatakan apapun. Dia lebih suka mengurung diri dalam kamar sembari mengetik untuk proyek terbaru bukunya.
Tidak banyak yang dia tahu tentang kehidupan Cintya dan Ditya sekarang. Dia ingin segera menyelesaikan pernikahan ini dan pergi dari kehidupan semua orang. Surat gugatan cerai sudah di masukkan oleh pengacaranya ke pengadilan di daerahnya berada.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Ditya langsung masuk ke dalam kamar Faira. Dia lalu melemparkan kertas undangan untuk menghadiri persidangan ke dekat Faira
"Apa ini Faira?" tanya Ditya dengan wajah merah padam. Lengan baju pria itu di lipat ke lengan, rambutnya acak-acakan.
Faira mengambil kertas itu dan memeriksanya.
"Surat undangan ke pengadilan untuk perceraian kita," jawab Faira ringan.
Dua tangan Ditya menarik rambutnya ke belakang.
"Faira kenapa dari awal kau menjadikanku bonekaku!" ucap Ditya penuh penekanan.
Faira menutup matanya.
"Kau membuat rencana memaksaku untuk menikahimu, lalu kau memasukkan aku ke dunia yang tidak kuinginkan, saat itu aku mencintai Cintya dan kau memaksaku untuk menikahinya. Kau bersikap seperti seorang istri yang baik namun tidak, kau selalu mengeluh pada kakakmu. Kau tahu akibatnya? Kakakmu selalu menekanku dan aku perlahan mulai membencimu."
"Ketika aku sudah mulai menerima keadaan dan melihat perjuanganmu kau kembali berulah, kau menawariku menikah dengan Cintya dan membuatku dibenci oleh keluargaku sendiri. Aku masih diam Faira, aku masih bersabar padamu. Aku ikuti semua permainanmu."
Mata Faira membelalak. Dia menelan Salivanya dalam-dalam. Ditya lalu duduk di hadapan Faira.
"Setiap malam aku melihat dirimu, dan mencoba menebak apa yang kau pikirkan. Kau selalu bersikap seperti wanita lemah yang butuh untuk dikasihani. Berkali-kali, aku bertanya apa kau benar-benar ingin aku menikah lagi! Kau berkata ini untuk kebahagiaanku, tetapi itu pikiranmu kau tidak pernah bertanya apa keinginanku."
"Kini kau menentukan sendiri nasib pernikahan kita kau mengirimkan surat permohonan cerai tanpa bertanya dulu padaku! Apa salahku padamu Faira? Kenapa kau selalu menghukumku!"
"Pikirku tetapi kau tidak pernah bertanya tentang perasaanku atau keinginanku," ucap Ditya.
"Jika aku bercerita jika alasanku menjebakmu agar kau mendapat bantuan dari Ayah apa kau mau menerimanya? Aku yakin tidak Ditya, aku tahu egomu sangat tinggi kau ingin berusaha berpijak dengan kakimu sendiri dan aku tidak ingin melukaimu dengan kenyataan itu. Walau kakak sering menekanmu itu diluar dari skenario."
"Aku mencoba menjadi istri yang baik bagimu dan mengabdi padamu sepenuhnya tetapi kau selalu menghindariku, kau seperti tidak memperdulikan aku, kau bahkan bersikap seperti jijik padaku." Faira meneteskan air matanya.
"Karena aku muak dan benci pada kebohongan yang kau ucapkan, salah jika aku tidak memperdulikanmu. Aku selalu melihatmu dan memperhatikanmu dari jarak jauh. Datang ke rumah sakit saat kau terbaring lemah di sana. Tetapi egoku yang tersakiti menahan langkahku untuk mendekatimu. Kita seperti punya sekat pembatas yang tidak bisa kutembus."
Faira terkejut mendengar penuturan Ditya, dia menengadahkan wajah dan menatap manik mata Ditya mencari sebuah kebohongan dari kata-katanya.
"Lalu mengapa kau menyetujui pernikahanmu dengan Cintya, itu artinya kau mencintainya? Kau membutuhkannya bukan aku!"
Ditya menutup matanya. "Bukankah sudah kuperingatkan padamu jika ini tidak baik bagi kita."
"Lalu kenapa kau berhubungan dengannya sebelum pernikahan jika kau tidak menginginkannya!" kata Faira sakit.
"Karena aku ingin melihatmu marah dan melihat kecemburuan di matamu," kata Ditya.
"Kau berbohong," ujar Faira.
"Demi Tuhan aku tidak berbohong, aku sangat marah ketika kau berpura-pura tegar menikahkan ku dengan Cintya namun kembali lagi jika ku hanya bonekamu, aku tidak berharga untukmu!" Ditya menunduk.
"Ketika kau di Bali aku sadar bahwa aku sendiri yang menggali neraka untuk kita bertiga. Andai aku jujur dari awal pasti semua tidak akan terjadi. Aku ingin marah ketika tahu kau pergi dengan pria lain dan bermesraan di sana, namun siapa aku, aku tidak bisa melarang dirimu!" ucap lemah Ditya.