
"Hanya saja Anda harus menunggu Tuan Evan siuman karena kondisinya masih belum stabil. Tapi untuk lukanya sudah bisa kami atasi dengan baik. Anda harus bersabar juga untuk merawatnya hingga pulih kembali seperti sedia kala," kata Dokter itu membuat Faira menangis penuh kelegaan. Dia memeluk erat Raka.
"Kau bisa bernafas lega sekarang," kata Raka.
"Aku kira dia sudah meninggalkan aku untuk kedua kalinya," ucap Faira.
"Tapi dia tidak akan meninggalkanmu," kata Raka.
"Ya dia berjanji tidak akan meninggalkan aku sendiri," Isak Faira. Raka lalu mengusap wajah Faira yang penuh dengan air mata.
"Dengarkan aku, sekarang ganti bajumu dan temui Evan serta temani dia," perintah Raka. Faira menganggukkan kepalanya.
***
Sudah tujuh hari ini Faira dengan setia menunggu Evan siuman. Setiap hari dia hanya mengajak Evan bercerita mengenai semuanya. Entah apa pria itu mendengarnya atau tidak Faira tidak peduli hanya saja dia ingin pria itu tahu jika dia tetap ada di sini untuknya.
"Kapan engkau akan bangun Evan?" tanya Faira memegang tangan Evan dan menciumnya.
"Aku sudah tidak sabar mengenalkanmu pada Ello jika kau adalah ayahnya," ucap wanita itu lagi.
"Tidakkah kau ingin dipanggil Ayah oleh Ello?" Satu titik air mata menetes dari pelupuk mata Evan. Satu jarinya mulai bergerak pelan.
"Aku tahu kau menginginkannya. Jika iya bangunlah, katakan padanya jika kau Ayahnya bukan Ditya. Jangan hanya berdiam diri saja," Isak Faira yang senang melihat respon Evan.
"Jika kau tidak sadarkan diri lagi maka aku akan kembali saja pada Ditya!" pancing Faira.
"Biarkan anak kita yang kedua memanggil Ditya sebagai ayah juga," ucap Faira lalu menelungkupkan wajahnya ke tangan Evan yang berada di tempat tidur.
"Jangan kau lakukan itu, dia anakku!" lirih Evan terbata dengan masih menutup matanya.
Faira terkejut. Dia menegakkan kembali kepalanya menoleh ke arah Evan dengan rasa tidak percaya.
Senyuman Evan terpancar jelas di wajahnya.
"Demi Tuhan Faira aku tidak rela orang lain dipanggil ayah oleh anakku," kata Evan. "Rasanya sakit ... ," imbuhnya.
Faira menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku , aku tidak akan melakukannya lagi," ucap Faira memeluk Evan.
"Maaf, aku sangat bahagia," ucap Faira mengecup pelan wajah Evan.
"Dimana Ello?'' tanya Evan mengedarkan pandangannya ke seluruh arah.
Faira terlihat bingung untuk menjawabnya. "Pasti bersama Ditya?," tanya Evan tidak senang.
"Aku harus memanggil Dokter kemari," ucap Faira.
"Aku hanya perlu Ello saja," kata Evan cemburu.
"Ini masih malam, dia akan kemari besok," kata Faira. Memencet tombol memanggil perawat datang.
"Aku punya kabar bahagia untukmu," ucap Faira. Dia menatap Evan dan meraih tangannya.
"Entah kau sudah mendengar ini atau belum tadi tapi aku ingin menyampaikan kabar ini," kata Faira.
Evan menatap Faira dengan intens.
"Aku hamil," pekik Faira tertahan. Evan hanya terdiam tetapi air mata yang menetes menggambarkan kebahagiaannya.
"Terimakasih," ucapnya lirih tanpa suara.
Faira meletakkan tangan Evan di perutnya. "Kau akan jadi ayah untuk kedua kalinya jadi aku berharap kau harus cepat pulih untuk menjagaku," lanjut Faira.
Evan tersenyum cerah dan mengedipkan matanya. Posisinya yang tidur miring tidak bisa membuatnya leluasa untuk bergerak. Bagian belakang kepalanya mengalami cedera parah sehingga tidak dianjurkan untuk tidur terlentang.
Faira melihat perawat dan dokter sudah datang dan mendekat ke arah mereka.
"Tuan Evan Winston sudah siuman?" ujar Dokter itu mendekati Evan.
"Sudah ketika kuberitahu kabar kehamilanku dia langsung membuka matanya."
"Rupanya dua berita baik sedang menghampiri semoga setelah ini tidak ada kejadian buruk lagi yang menimpa Anda," kata Dokter itu mulai memeriksa Evan.