Affair (Faira)

Affair (Faira)
Akad Keruntuhan



Faira berjalan dengan kepala tegak menuju ke tempat berlangsungnya akad pernikahan dan dan ketika dia berjalan masuk ke dalam tempat akad semua mata melihat ke arahnya. Faira terlihat tersenyum lebar, dia bukan wanita yang menderita karena ditinggal menikah lagi oleh suaminya, tetapi seorang wanita tegar yang rela melepas suaminya kepada wanita lain.


Ibu Cintya datang dan langsung memeluk dirinya, dia menangis meratapi nasib anaknya yang harus menjadi perusak rumah tangga orang dan meminta maaf pada Faira untuk kesekian kali. Faira hanya menepuk bahunya dan tersenyum seolah mengatakan 'tidak apa apa lihatlah aku baik baik saja.'


Sebenarnya acara ini sangat membuatnya gugup. Rasa gelisah, marah pada diri sendiri, tidak terima, sakit, semua melebur jadi satu dan membuatnya sesak.


Cintya berdiri di depan pintu dengan pakaian pengantin. Wanita itu terlihat cantik dan bahagia. Untuk sejenak Faira membuang muka. Pertama kali dia datang untuk menawari Cintya wanita itu terlihat enggan untuk melakukannya. Kini Cintya tersenyum bahagia melihat Ditya, sedangkan Ditya terlihat aneh. Wajahnya muram dan terlihat tegang. What's wrong? Bukankah ini yang dia mau?


Prosesi penyambutan pengantin pria mulai dilakukan. Faira membawa bingkisan berisi cincin dan perhiasan untuk Cintya. Pasangan pengantin itu bertemu dan mereka lalu dibawa masuk ke dalam tempat acara.


Resepsi pernikahan yang sederhana untuk ukuran Faira tetapi terlihat meriah di daerah pedesaan ini. Para tamu mulai terlihat krasak krusuk membicarakannya dan pasangan mempelai. Faira pura-pura tidak mendengar dan tetap bersikap biasa saja. Dia tersenyum ramah pada semua orang namun dalam hatinya dia berteriak 'Hentikan! Aku muak dan benci dengan semua ini.'


Cintya dan Ditya sudah duduk di kursi pelaminan di depannya, ada penghulu beberapa orang saksi dari pihaknya dan pihak mempelai wanita. Semua mata kembali menatap ke arahnya ketika tangan Ditya mulai bersalaman dengan penghulu.


Tatapan mereka penuh rasa iba karena dia akan diduakan oleh Ditya.


"Istrinya cantik begitu, kurang apa coba? Masih saja cari wanita lain," bisik seseorang dekat dengan Faira pada wanita lain.


"Iya, cantikan istrinya dari Faira. Aku yakin si Cintya yang menggoda suaminya. Watak ayahnya yang suka main wanita menurun pada diri Cintya. Seharusnya dia belajar dari ibunya yang hidup menderita di tinggal kawin lagi oleh ayahnya," imbuh wanita lain.


"Hooh," jawab yang lain serempak.


Faira yang mendengar hanya menarik nafas panjang. Dia bersikap biasa saja salah apalagi jika dia menangis di depan semua orang. Pasti akan ada keributan nantinya.


"Jadi ananda Cintya ini akan menjadi istri kedua?" tanya Pak Penghulu. Cintya lalu melihat ke arah Ditya. Ditya tersenyum penuh kesedihan menatap ke arah Faira. Sesuatu yang tidak Faira duga. Apa yang Ditya rasakan saat ini sebenarnya?


Cintya menganggukkan kepalanya lemas. dia merasa ada yang berbeda dari Ditya yang dia kenal dulu.


"Apakah istri pertamanya ada di sini untuk memberikan persetujuannya?" tanya Pak penghulu lagi.


Semua mata menatap ke arah Faira. Faira memaksakan dirinya untuk tersenyum canggung.


"Ya saya istri pertama dari Anninditya Maheswara. Saya memberikan restu pada suami saya untuk menikah lagi," jawab Faira tegas memandang ke arah Ditya yang menundukkan kepalanya dengan lemas.


Semua hadirin tertawa tetapi tidak Ditya. Dalam hatinya dia bergumam, "Jika dia mencintainya pasti dia tidak akan menikahkan dia dengan wanita lain. pada kenyataannya istrinya hanya seorang wanita yang ambisius dan mau menang sendiri." Ditya menarik nafas dalam. Lalu acara ijab kabul mulai diucapkan.


Hati Faira seperti tidak kuat menyaksikan hal ini. Bayangan pernikahan mereka dahulu berkelebat di pikiran Faira. Dadanya serasa sesak dan panas, seolah oksigen di tempat itu telah menipis. Setengah mati Faira menahan diri untuk tidak menangis di acara ini.


"Saya terima nikah dan kawinnya Cintya Mahmudah dengan mas kawin tersebut di bayar Tunai," kata Ditya. Dia tidak tahu apa mas kawinnya, karena semua telah diatur oleh Faira. Kini dia merasa seperti boneka Faira saja. Rasa marah kembali merasuk dalam dirinya. Dada Faira bergemuruh cepat. Dia memegang dada dan menghembuskan nafas sedikit keras.


Setelah itu acara tukar cincin akan dilakukan. Faira yang memegang bingkisan berupa perhiasan lengkap dan satu kotak cincin mendekat ke arah pasangan pengantin baru itu. dengan kaki yang gemetar dan terasa lemas.


Wajah Faira terlihat tegang walau senyum masih tersemat di bibirnya. Sakit... melihat cincin pernikahannya dan hari Ditya sudah terlepas dan akan digantikan cincin milik wanita lain. Faira menengadahkan wajahnya dan mengerjap cepat agar air mata tidak jadi keluar ketika rangkaian acara itu terjadi.


"Aku yang merebut Ditya dari Cintya bukan wanita itu yang merebut suamiku," tegas Faira dalam hati. Kalimat itu seperti sebuah mantera yang selalu dia ucapkan agar hatinya kembali tenang Tak ada wanita yang rela berbagi suami dengan wanita lain meskipun itu adalah sahabatnya sendiri.


"Ya Tuhan, apa ini akhirnya atau masih adakah penderitaan yang menantiku nanti. Aku berharap aku menemukan kebahagiaan setelah ini," batin Faira.


Ditya memberikan kecupan singkat pada Cintya sebagai akhir dari acara akad itu. Rasa cemburu kembali menghampiri diri Faira. Setelah itu dia mendekat kembali ke arah pasangan itu dan memberikan ucapan selamat dengan mencium pipi Ditya sebagai suatu sandiwara terakhirnya.


"Selamat Mas Ditya kau telah mendapatkan kebahagiaanmu dan aku juga turut serta bahagia. Kini doakan pula kebahagiaanku."


ucap Faira melirihkan kalimat akhirnya sambil memeluk tubuh Ditya..


"Aku tak tahu apa kebahagiaanmu, Ra tapi yang aku tahu untuk saat ini aku tidak akan melepaskanmu walau kau harus merasa menderita." Faira melepaskan pelukan Ditya dengan pandangan tidak percaya. Setelah apa yang telah dia lakukan mengapa Ditya masih bersikap seperti itu.


"Kalau begitu aku akan mencari kebahagiaanku sendiri yang tidak kutemukan di dirimu, Aninditya Maheswara. Percayalah....aku tidak akan pernah berbohong dan kau sendiri yang akan menyesalinya." jawab Faira berbisik di telinga Ditya. Dan pria itu menatap Faira dengan tatapan marah dan tajam seolah ingin menguliti tubuh Faira.


Kini Faira menuju mempelai wanita.


Cintya langsung memeluk sahabatnya itu,


"Ra, maafkan aku. Aku memang sahabat yang buruk menjadikan suamimu menjadi suamiku. Sungguh maafkan aku. Aku takkan bisa membalas kebaikanmu padaku selama ini, Ra karena telah memberikan kebahagiaanmu padaku." tangis Cintya membasahi sebagian pundak Faira.


"Aku akan menemukan kebahagiaanku segera , Tya. Jangan khawatirkan aku." Faira melepaskan pelukan Cintya yang masih menangis. Dia berdiri dan berjalan keluar dari tempat itu dengan kepala tegak, satu kaca mata hitam dia ambil dari dalam tas dan disematkan di matanya yang mulai memanas.