Affair (Faira)

Affair (Faira)
Wanita Sempurna



Suasana di gang ini sepi, mungkin karena ini waktunya jam tidur siang sehinga mayoritas orang berada di dalam rumah untuk istirahat. Faira tidak sadar dibelakangnya ada yang memperhatikan setiap langkahnya. Hingga dia sampai di perempatan gang menuju jalan utama, sebuah motor dengan cepat menyambar tas yang dipegangnya. Dia hampir terjatuh karenanya tetapi dia langsung bangkit dan berlari cepat.


"Jambret ... jambret ... tolong tas saya...!" teriak Faira. Tiba-tiba sebuah motor sport datang dan menendang motor penjambret tadi. Motor itu langsung jatuh dan tubuh penjambret itu terpental jatuh, kepala salah seorang penjambret itu mengenai trotoar jalan raya. Sedang orang yang memboncengnya terus berlari ketakutan. Namun dengan cepat pemilik motor sport tadi menghentikan motornya di depan penjambret tadi. Dengan gaya laksana jagoan dia turun dari motor dan mengambil tas milik Faira dari tangan penjambret tadi.


"Pergilah sebelum warga memukulmu hingga mati," kata pria itu yang wajahnya tertutup oleh helm. Orang itu langsung berlari pergi.


Faira yang mengejar penjambret itu menghentikan larinya dan berjongkok dengan nafas yang terengah-engah. "Kenapa kau lepaskan dia?"


Pria tadi menyerahkan tas milik Faira. " Yang penting tasmu sudah kembali. Aku membiarkannya pergi karena takut para warga akan menghakiminya dan jika pun dia di serahkan ke kantor polisi maka dia masuk ke penjara. Kita tidak tahu apakah alasan dia menjambret karena terdesak atau itu memang pekerjaannya. Yang kukhawatirkan hanya keluarga penjahat itu pasti akan kesulitan nantinya."


"Jawaban bodoh apa itu...?" jawab Faira tidak mengerti walau dalam hatinya menyetujui perkataan pria tersebut. Faira melihat pria yang jatuh dan terluka itu sedang dikelilingi oleh orang-orang sekitar yang marah dan ingin menghajarnya.


"Ampun tolong lepaskan saya... ," ujar pria itu, darah yang mengalir dari dahinya tidak dia hiraukan dia takut jika orang orang itu memukulnya hingga mati.


Faira teringat perkataan pemilik motor tadi. Dia lalu merangsek masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang sudah bersiap memukul pria tadi.


"Sudah... sudah... lepaskan saja, biarkan dia pergi. Kalian lihat lukanya kan? Yang penting tas saya sudah kembali," ucap Faira emndorong orang-orang itu agar menjauhi pelaku kejahatan.


"Nona biar kita bawa saja ke polisi!" saran salah seorang diantara kerumunan itu.


"Koruptor saja dimaafkan oleh negara jika sudah memgembalikan apa yang diambil oleh mereka, kalau pencuri kecil seperti mereka di hakimi masssa yang ada babak belur bahkan bisa tewas.Kasihanilah dia atau keluarga yang sedang menunggunya di rumah," kata Faira.


"Jika seperti itu pria seperti mereka tidak akan jera mereka akan melakukan lagi karena selalu dimaafkan!" kata salah seorang warga.


"Betul!" ucap semua orang serentak.


" Mungkin kali ini dia selamat aku juga tidak menjamin jika dia tertangkap lagi akan selamat juga. Kita berdoa saja semoga dia bertaubat."


"Iya... nona saya janji tidak akan melakukan ini lagi," ucap penjambret tadi dengan suara yang gemetar dan kepala menunduk. Sembari memegang kaki Faira.


"Alah... omongan kamu itu tidak mungkin bisa dipercaya ... kita hajar dia saja biar kapok ya nggak?" kata seorang berwajah garang dan berbadan besar.


"Sudah biarkan saja ... ." kata Faira berusaha membujuk warga. Akhirnya setelah melalui perundingan yang cukup alot orang-orang itu melepaskan penjambret tersebut.


"Memangnya ini game kali ya, ini itu manusia, kalau mati gara gara uang tidak seberapa akunya yang merasa bersalah," gerutu Faira.


"Nona, terima kasih banyak ... ," kata penjambret itu sambil bersujud di depan Faira.


"Kalau mau sujud itu di depan Tuhan bukan aku. Aku juga manusia yang banyak melakukan dosa," ucap Faira mengangkat tubuh orang itu.


"Oh ya, ini uang buat mengobati lukamu," cetus Faira sambil membuka tas dan memberikan segepok uang yang masih berlabel sepuluh juta.


"Tapi nona, itu tidak perlu. Saya berbuat jahat pada anda, dengan anda melepaskan saja itu sudah cukup buat saya dan anda malah berniat berbuat baik pada saya," tolak penjambret tapi matanya tetap menuju ke arah uang itu.


"Ambil saja engkau lebih membutuhkan, buka usaha dengan uang itu sehingga mampu membiayai kebutuhanmu, ada yang menunggumu dirumah jangan kecewakan mereka dengan kedatanganmu yang hanya tinggal nyawa karena mencuri." Faira lalu memberikan uang itu ke tangan penjambret itu.


"Terimakasih nona, saya akan memulai hidup baru saya untuk menjadi lebih baik. Semoga nona menemukan kebahagiaan yang tidak terhingga," kata orang itu mencium pucuk tangan Faira.


Faira lantas pergi meneruskan perjalanannya dengan perasaan ringan. Dalam hatinya dia berdoa semoga pria tadi bisa menemukan jalan yang lebih baik dari pada menjadi seorang penjahat.


Disisi lain pemilik motor sport itu duduk di pinggir trotoar jalan dan memperhatikan yang terjadi.


"Siapa dirimu..?" gumam pria itu sembari melepaskan helmnya. Dia kagum melihat Faira yang baru dilihatnya. Cantik, elegan dan baik. Sebuah perpaduan yang sempurna dan tidak semua wanita memilikinya.


Dia hendak mengejar Faira namun sebuah panggilan dari handphonenya menghentikan langkahnya.


"Tuan Evan Wilson rapat akan dilakukan lima belas menit lagi. Anda dimana?" tanya suara dari seberang telephon itu.


"Baiklah, aku akan sampai di sana sebelum rapat," Evan lalu mematikan handphonenya.


"Sayang sekali Cantik, aku tidak bisa berkenalan denganmu saat ini. Tetapi jika aku melihatmu lagi, aku pasti akan mencari tahu siapa dirimu?" gumam Evan. Dia lalu naik menjalan lagi motornya meninggalkan tempat itu.


Faira sendiri masuk ke dalam gedung milik sebuah penerbit besar.