Affair (Faira)

Affair (Faira)
Lindungi



Melihat Faira datang, Albert melepaskan bibi Marry dengan kasar. Dia lalu pergi dari tempat itu dengan menatap tajam Faira. Faira balas menatapnya hingg keluar dari pintu ruangan.


Sedangkan, Bibi Marry menopang tubuhnya yang terasa lemas di tembok sembari menangis. Faira lalu datang dan memeluk Bibi Marry.


"Bibi sudah tenanglah," kata Faira.


"Apa kau mendengar semuanya?" tanya Bibi Marry menatap ke arah Faira.


"Sebagian," jawab Faira. Bibi Marry lalu balik membalas pelukan Faira.


"Tolong jangan katakan apapun yang kau ketahui pada Evan, cukup kau dan aku saja yang mengetahui hal ini," ucap Bibi Marry.


"Tapi Bi, Evan berhak tahu untuk melindungi Bibi," kata Faira.


"Dari dulu aku bisa melindungi diriku sendiri," kata Bibi Marry.


"Dengan menyerahkan hidup bibi pada pria berhati hewan itu. Ya, Tuhan dia bahkan memakan adiknya sendiri," ucap Faira.


"Ini semua tidak semua yang kau kira," kata Bibi Marry.


"Dulu Bibi yang melindungi Evan kini dia harus yang bergantian melindungi Bibi?"


"Apa maksud kalian?" tanya Evan tiba-tiba membuat terkejut dua wanita yang sedang saling berpelukan.


"Maksudnya adalah aku ingin agar Kakek dan Bibi tinggal bersama kita, kita bisa melindungi mereka," kilah Faira.


"Oh, itu bisa kita bicarakan nanti yang penting kehadiranmu di pesta di cari oleh semua orang," ujar Evan.


Faira melihat ke arah Bibi Marry.


"Kalian pergi saja terlebih dahulu, aku akan mencari Daddy, takut jika dia melakukan hal aneh lagi," ucap wanita itu sembari mengusap jejak air mata dan tersenyum.


"Oh, mereka sudah saling dekat, kalau begitu kita ke bawah," ajak Faira sembari membawa Evan menjauh dari tempat itu.


"Kakakmu terlihat marah karena Robin mendekati sekretarisnya," bisik Evan.


"Oh, aku belum berkenalan dengan wanita itu. Eh tunggu, kakak marah karena seorang wanita? Ini berita besar. Selama ini kakak terlihat cuek pada semua wanita bukan berarti dia tidak suka dengan mereka hanya saja dia merasa para wanita itu terlihat tidak berharga untuk dicintai," tutur Faira.


"Aku sangat mengenalnya Faira, kami telah bersama bertahun-tahun."


"Sewaktu kalian kuliah dulu?" tanya Faira.


"Ya,jadi aku tahu bagaimana sifatnya dan apa yang tidak kau ketahui aku mengetahuinya," ujar Evan.


Mereka lalu kembali lagi ke pesta dan menyapa semua orang.


***


Setelah semua tamu telah pulang. Evan masuk ke dalam kamar namun dia tidak menemukan Faira di dalam sana. Dia lalu pergi ke kamar Ello dan melihat Faira sedang menidurkan Ello. Evan tersenyum lalu kembali lagi ke kamarnya dan pergi mandi.


Sewaktu dia kembali dia menemukan Faira sedang duduk di tempat tidur dengan bersandar nyaman pada sandaran ranjang.


Di tangannya nampak sebuah handphone yang dia peroleh dari kakaknya tadi karena Evan belum juga memberikan semua barang miliknya.


Tatapan Faira beralih dan terfokus pada tubuh Evan yang terlihat kekar dan berotot. Bekas luka menjadi hal berbeda yang dia lihat ketika mereka bersama dulu. Dia menelan air ludahnya sendiri.


Rambut Evan yang basah meneteskan air yang mengalir ke pundak dan bahunya yang keras dan berbentuk. Pria itu hanya memakai handuk yang Faira yakin tidak ada kain apapun didalamnya. Faira tersenyum menggigit bibir bawahnya sendiri.


Tatapan Evan terasa menghipnotis dirinya membuat tubuhnya meremang walau belum disentuh. Faira mendesah membayangkan tangannya menyentuh kulit Evan.