
Faira terbangun keesokan paginya dengan badan yang pegal dan sakit. Apalagi bagian pangkal pahanya terasa mengganjal.
Tangannya dia ulurkan untuk mencari keberadaan Evan, namun kosong. Faira lalu mulai membuka matanya. Matanya menatap ke sekeliling ruangan mencari keberadaan Evan.
Tidak ada.
Faira mulai meraih selimutnya untuk menutupi tubuhnya dan berdiri berjalan ke kamar mandi. Namun, sosok Evan tidak terlihat dan kamar mandi itu masih terlihat kering.
Rasa takut mulai menggelayut di hari Faira. Di kira dia telah jatuh cinta dan menemukan pria yang tepat untuk menggantikan Ditya nyatanya, pria itu telah pergi. Rasa marah mulai menggelayut di hari Faira.
Tetapi dia melihat sebuah paper bag dengan sebuah merk terkenal ada di atas meja sofa dan sebuah kertas.
Hati Faira menghangat seketika. Dia lalu berjalan untuk melihatnya. Tangannya meraih paper bag dan menarik sebuah dress merah maron yang cantik. Sepasang dalaman dan sepasang sepatu cantik dan indah.
Dengan hati berbunga Faira meraih pesan yang tertulis dalam secarik kertas.
Fay, maaf aku harus pergi terlebih dahulu. Bukan karena aku tidak mau bertanggung jawab atas semua yang kulakukan tetapi ini semua demi kebaikanmu sendiri.
note:
Aku sudah menyiapkan sebuah mobil sedan putih untuk mengantarmu kembali ke penginapan.
Nafas Faira terhenti seketika. Matanya membulat dan kosong. Tubuh membeku. Detik kemudian dia memejamkan matanya. Tubuhnya bergetar hebat.
"Akh!" jerit Faira marah. Tubuhnya seketika luruh ke lantai. Belum juga luka di tubuhnya hilang pria itu meninggalkan luka lagi. Ini lebih sakit dari luka yang Ditya berikan.
Faira terbujur di lantai meratapi nasibnya, hanya bisa menangis hingga langit berubah menjadi gelap. Dia mulai bangkit dan mengambil handphone nya dan menelfon seseorang.
Faira tidak mengira Evan yang begitu manis bisa tega mempermainkan dan mencampakkannya begitu saja. Dia sudah menyerahkan segalanya dan mulai berharap bisa menemukan kebahagiaan dari pria yang dia kenal selama satu Minggu ini.
Dia begitu percaya setiap kata-kata yang Evan keluarkan dari mulutnya. Terasa nyata dan tulus dari hati pria itu. Nyatanya dia seperti bajingan tengik yang ada di jalanan. Menyesal tetapi semua telah terjadi.
Satu tahun bersama Ditya tidak sekalipun pria itu menyentuh dirinya karena tidak ingin mempermainkan Faira. Sedangkan satu Minggu bersama Evan dirinya merenggut semuanya lalu meninggalkannya seperti barang habis pakai.
Tragis dan sangat ironis.
Evan atau Ditya sama-sama bukan pria yang baik. Atau dirinya yang salah sehingga semua pria tidak ingin hidup bersamanya.
Faira terpuruk dan jatuh dalam jurang kepedihan yang dalam.
Faira lalu duduk di tempat tidur masih memakai selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Menunggu kehadirannya Kakaknya.
Pintu mulai dibuka kasar dan Raka datang bersama beberapa pengawalnya.
Raka begitu terkejut melihat keadaan Faira yang kusut dengan hanya di tutupi oleh sehelai selimut putih. Wajahnya basah oleh air mata.
Raka langsung menyuruh anak buahnya untuk menutup pintu kamar.
"Siapa yang melakukan ini padamu!" kata Raka mendekat ke arah adiknya. Dia lalu memeluk Faira. Tubuh Faira terguncang dalam pelukan itu. Dia menangis keras sesuatu yang selama bertahun-tahun lamanya tidak dia lakukan. Pertahanannya sebagai seorang wanita kini hancur.
"Faira tenang ada aku ceritakan semua biar aku membantumu," ucap Raka ingin menenangkan adiknya.