Affair (Faira)

Affair (Faira)
Siksaan Hati



Raka mencari nama identitas orang yang mengirimkan foto ke handphonenya. Ternyata nama yang digunakan adalah nama fiktif. Orang itu sudah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu.


Rasa kesal dan marah menghantui Raka dalam dirinya. Tersiksa, sedih dan merana menjadi satu. Hanya minuman keras yang menjadi pelampiasannya ketika malam telah tiba.


Evan yang mengerti kesedihan sahabat sekaligus kakak iparnya itu mendatangi rumahnya. Dia mencari keberadaan pria itu da menemukannya tergeletak bersama botol minuman keras di lantai kamar.


Miris dan ironis, begitu yang bisa dia katakan ketika melihat keadaan Raka. Pria itu biasanya terlihat gagah dan tegap kini seperti menjadi pecundang yang hanya bisa bersembunyi dibalik kesedihannya.


Semua orang ikut hancur melihat keadaan Raka tetapi pengirim foto itu seperti malah menikmati keterpurukannya.


"Raka, bangun ini sudah siang," kata Evan membangunkan Raka. Dia lalu membuka tirai yang menutupi cahaya masuk ke dalam kamar itu.


Mata Raka mulai mengerjap. Dia menutupi wajahnya dengan tangan untuk menghalangi sinar matahari yang menyilaukan matanya.


"Bangun ini sudah siang. Ayah Ardianto memanggil kita semua ke rumahnya."


"Aku ada pertemuan dengan klien nanti siang." Kata Raka bangkit dan duduk bersandar di pinggiran tempat tidur.


"Kau bisa membatalkannya," kata Evan.


"Ayah pasti akan membahas soal kemajuan usahanya dan tentang pemilu yang akan diadakan dua tahun lagi. Perlu persiapan yang matang untuk merencanakan hal itu agar berhasil. Aku sedang tidak bersemangat. Aku bahkan ingin keluar dari perusahaan dan mencari keberadaan istri dan calon anakku," kata Raka. Rasa sakit kembali menghujam jantung Raka ketika menyebut kata anak.


"Kau tidak bisa lakukan itu, semuanya sudah dibicarakan di rapat partai, kata Ayah dan kau ditugaskan untuk menjadi juru kampanye di publik lewat siaran televisi."


"Perseeeetan dengan semua itu. Apa mereka peduli tentang hancurnya hidupku sedangkan aku harus bekerja demi hal yang tidak ingin aku lakukan!" seru Raka berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi.


"Tetapi kau tidak bisa selamanya seperti ini! Kau harus bangkit dan membuktikan bahwa kau bisa berdiri tegak. Mungkin ada oknum yang menginginkan kau hancur dengan menjadikan Intan sebagai pionnya?" nasihat Evan. Membuat Raka terdiam. Dia lalu bersandar di tembok dekat kamar mandi.


Matanya memerah. "Aku memang hancur Evan. Jika mencintai rasanya sesakit ini. Aku tidak menginginkannya. Jika bisa tolong sembuhkan aku dari luka ini, dari rasa sakit yang tidak terlihat ini, dari kegelapan dan rasa dingin yang selalu menyiksaku," Tubuh Raka merosot ke lantai dia menutupi wajahnya dibalik lutut.


Evan menghela nafasnya. Dia sangat prihatin dengan yang terjadi pada Raka. Jika dia yang mengalami hal ini mungkin dia juga akan sangat terpukul jauh dari anak dan istri.


Evan lalu berjalan mendekat ke arah Raka.


"Jika suatu hari kau bertemu anakmu dan dia melihat kau seperti ini apa yang akan kau katakan?"


Raka menengadahkan wajahnya dan melihat ke arah Evan.Terdiam dan mulai berpikir.


"Kau tahu, aku merasa bangga ketika bisa mengajak putraku ke tempat kerja dan dia berdecak kagum di sana. Dia merasa mempunyai ayah yang hebat dan menjadikan aku panutannya." Evan lalu berjongkok di depan Raka.


"Aku tidak menyuruhmu melupakan Intan dan calon anakmu. Tetapi tetaplah jadi Raka yang hebat dan tidak mudah menyerah. Jangan pernah perlihatkan kesedihanmu pada musuh karena mereka hanya bersorak sorai saat melihat hal itu! Intan jika dia itu memang jodohmu entah dengan cara apa dia akan kembali ke sisimu. Jika tidak aku yakin kau akan menemukan wanita yang lebih baik dari dirinya."


"Sekarang memang terasa tidak mungkin melakukan hal ini, tetapi teruslah berusaha untuk mengenyahkan pikiranmu tentang wanita itu. Anak, selamanya dia adalah anakmu. Jika Intan masih menyembunyikan keberadaan mereka berarti ini waktu bagimu untuk menata hidup. Kau hanya perlu untuk terus maju dan perlihatkan padanya bahwa kau baik-baik saja."


"Aku sudah berusaha tetapi tidak semudah itu untuk melupakan."


"Jika dia mencintaimu dia akan kembali padamu, jika tidak untuk apa menunggu wanita yang tidak ingin hidup bersama kita."


"Kau benar," kata Raka.


"Jadikan kehadiran anakmu itu sebagai pecut agar kau lebih maju lagi. Kau bisa mencari keberadaan mereka sembari mengepakkan sayap. Ketika kau sudah terbang tinggi, mungkin kau akan melihat mereka diujung dunia lain. Atau mereka akan melihatmu dan memanggilmu turun. Jika kau terpuruk apa yang akan mereka lihat dari dirimu?"


"Tanks bro, kau selalu bisa membuat moodku membaik."


"Itulah gunanya teman yang menjadi saudara," kata Evan.


"Ayo aku tunggu kau dibawah." Evan hendak membuka pintu kamarnya ketika Raka memanggil.


"Kapan perkiraan Faira melahirkan?" tanya Raka.


"Ini sudah tanggalnya tetapi dia masih belum merasakan apapun."


"Kau pasti tegang."


"Sangat, aku yang sangat khawatir, sedangkan dia terlihat santai."


"Aku juga tegang namun aku tidak bisa melihat bagaimana keadaan Intan. Aku menunggu sebuah kiriman foto tentang anak kami, entah dia akan melakukannya atau tidak?" kata Raka getir.


"Semoga saja semua akan membaik," kata Evan.


Raka menghela nafasnya.


Evan lalu pergi ke bawah untuk menunggu Raka bersiap. Sedangkan Raka mulai mandi dan bersiap pergi. Dia melihat keadaan dirinya di kamar mandi. Tubuhnya kurus kering. Jambang dan kumis menutupi sebagian wajahnya karena tidak pernah dia urus. Rambutnya sedikit panjang sudah dua bulan dia tidak mencukurnya semenjak melihat foto Intan lebih tepatnya. Dia lupa mengurus dirinya sendiri.


Evan benar. Dia harus bangkit dan menata diri agar suatu hari ketika dia bertemu dengan anak mereka dia tidak akan malu. Dengan bangga anaknya akan menyebut namanya.


Sebuah semangat mengalir dalam diri Raka. Semangat yang membuatnya bangkit dari keterpurukan.


Dia lalu masuk ke dalam kamarnya setelah mandi mulai memakai bajunya dan bersiap dengan rapi sama seperti Raka tujuh bulan yang lalu. Rapi, elegan ,dan berkelas.


Raka hendak memakai jam ditangannya ketika sebuah pesan masuk ke dalam handphone miliknya.


Panggilan video dari orang yang tidak dikenal.


Deg! Apakah ini dari Intan?


Hatinya ingin bersorak Sorai senang. Dia lalu menggeser tanda hijau pada layar benda pipih itu.


Nafasnya terhenti seketika ketika melihat pemandangan di depannya. Dia terperanjat.


"Intan," teriak Raka panik. Dia melihat wanita itu dilantai dengan permukaan lantai yang penuh dengan cairan. Wajah wanita itu meringis kesakitan.


"Akh! Tolong aku," kata Intan memegang perutnya. Raka kesal sendiri melihat hal itu, dia ingin menolong istrinya namun dia tidak tahu dimana dia berada.


Sambungan lalu dimatikan. Dan seperti biasa nomer itu diblokir.


Raka terpaku, terdiam, hanya tetes air mata saja yang menggambarkan perasaan hatinya. Dia lalu membanting handphone itu dengan keras ke lantai.


Like, vote dan komentarnya.... Jangan pelit!!!