
Tak pernahkah kau sadari?
Akulah yang kau sakiti
Engkau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari
Oh, Tuhan, tolonglah aku
Hapuskan rasa cintaku
Aku pun ingin bahagia walau tak bersama dia
Intan menunduk dan terisak, teringat kembali kenangannya bersama Bram.
"Sayang, jika menangisi pria yang tidak pernah merasa kehilanganmu!" ujar Raka sedikit keras sehingga terdengar oleh Intan. Wanita itu terhenyak dan menoleh ke arah sumber suara.
"Hai, kita bertemu lagi," ujar Raka..
Bukannya merasa senang Intan malah melihatnya dengan tajam dan turun dari jendela lalu menutupnya dengan keras.
Raka tertawa melihat tingkah Intan. Baru pernah dia melihat ada wanita yang terang-terangan menolak dirinya berkali-kali. Dia baru tahu jika tetangganya itu adalah wanita yang telah bermalam bersamanya.
"Sial, kenapa aku selalu bertemu dengannya. Seolah alam semesta bahagia sekali melihat kebersamaan kami. Jangan sampai! Amit-amit mengenalnya," gerutu Intan di dalam kamarnya.
Malam ini Intan tidak bisa tidur karena sudah tidur tadi sore. Dia lalu turun ke bawah untuk membuat makanan, melewati kamar Bibi Hana yang masih menyala dan terbuka sedikit. Di dalam sana bibinya masih menangis memegang foto almarhum suaminya.
Mungkin itu rasanya kehilangan orang yang kita cintai. Menangisinya setiap hari seperti yang dia lakukan. Bibi Hana kehilangan orang yang mencintainya pasti akan berat baginya karena banyak kenangan indah yang sudah mereka ciptakan bersama. Sedangkan dia kehilangan orang yang telah mengkhianatinya. Rasa sakit, bukan sakit karena ditinggalkan lebih sakit karena kecewa.
Tetapi dia beruntung karena mengetahuinya lebih awal. Andaikan dia tahu ketika telah menikah pasti dia akan hancur.
Intan membuat nasi goreng di dapur setelah matang dia mengambil laptop miliknya di kamar dan membawanya keluar bersama nasi goreng itu ke halaman yang berada di bawah kamarnya.
Dia meletakkan nasi goreng dan laptop di sana lalu kembali lagi ke dapur untuk mengambil segelas kopi panas yang masih mengepul.
"Hai!" sapa Raka yang sudah ada di salah satu kursi di meja.
"Kau? Bagaimana bisa kau datang kemari." Raka melihat ke arah tembok rumah. Rumah Raka dan Intan bersebelahan hanya dibatasi oleh tembok yang mengelilingi rumah pria itu saja. Sedangkan rumah yang ditinggali Intan tanpa pagar yang mengelilingi. Balkon kamar Raka sangat dekat dengan tembok keliling jadi mudah bagi Raka untuk meloncatinya dan masuk ke dalam rumah Intan tanpa harus melewati pintu gerbang
"Kau melewati itu? Tidak bisa dipercaya," ujar Intan meletakkan kopi panas ke atas meja.
"Apa ini untukku?'' tanya Raka.
Intan menatap tajam pada Raka. "Kau sudah masuk tanpa permisi lalu mau mengambil minumanku."
"Kalau bisa sekalian hatimu," kata Raka gombal. Dia bingung bagaimana dia bisa berkata seperti itu. Seorang Raka tidak pernah merayu seorang wanita. Wanita yang merayunya.
"Bisakah aku tertawa keras, tapi sayang tidak lucu apalagi membuatku tersipu," ucap Intan sarkas.
"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Intan melihat ke arah Raka sembari menyendokkan nasi ke mulutnya. Dia bersikap cuek saja tidak menawari pria itu makanan miliknya.
"Untuk meminta makanan," kata Raka.
"Lucu, kau bisa meminta pada pelayanmu," ujar Intan.
"Bisa hanya saja dibuatkan wanita cantik sepertimu sepertinya hal baru untukku," ujar Raka suka membuat Intan kesal.
"Kata-katamu membuat perutku mual saja."
"Sebenarnya aku kemari hanya penasaran padamu," kata Raka. Intan lalu tersedak. Dia hendak minum tapi hanya kopi panas yang dia bawa kemari.
Intan lalu berlari kembali ke dapur meminum segelas air putih. Di saat dia kembali Raka telah membuka laptop miliknya dan membuka file miliknya.
"****! Bagaimana cara pria itu tahu nomer sandi milikku?"
"Aku baru tahu kau ternyata penggemar beratku," kata Raka memegang dagunya.
Wajah Intan menjadi pias seketika. Dia lalu mendekat dan menutup laptop miliknya. Ingin mengambilnya tetapi Raka malah memegangnya erat sehingga terjadi tarik menarik.
Akhirnya Intan menyerah dan duduk di kursi miliknya tadi.
"Kau menang sekarang kembalikan laptop milikku," pinta Intan.
Bukannya mengembalikan Raka malah membuka kembali laptop itu dan membuka akun publik miliknya.
"Tidak ada foto mantanmu disini? Jadi kalian benar-benar berpisah?" tanya Raka membuat Intan memutar bola matanya malas.
"Suaramu itu indah mengapa tidak ikut ajang pencarian bakat saja. Mereka bisa membuatmu terkenal dalam waktu sekejap," lanjutnya sembari memutar lagu yang dinyanyikan oleh Intan di Instagram.
Intan merasa dikuliti oleh Raka semua hal tentangnya dia buka dengan mudah. Entah apa yang ada di otak pria itu sehingga bisa melakukannya padahal ada kata sandi di laptop miliknya.
Intan lalu menarik lagi laptop miliknya. "Kau jangan jadi pria kurang ajar dengan membuka semua fileku!"
"Aku hanya ingin tahu mengapa kau menyimpan semua data tentang diriku," kata Raka menghentikan kegiatannya.
"Karena aku ingin tahu siapa pria yang tidur bersamaku!" ucap Intan berani menatap mata Raka tajam.
Raka tersenyum. Lalu mencondongkan tubuhnya, "Lalu informasi apa yang kau dapatkan?"
Intan terdiam, dia tidak pernah melihat berita jika Raka pernah bersama seorang wanita. Dia hanya mendapatkan berita tentang kesuksesan pria itu.
"Itu bukan urusanmu!" Intan lalu menarik lagi laptop miliknya setelah Raka melepaskan tangan dari laptop itu.
"Itu menjadi masalahku karena itu semua berkaitan denganku," ujar Raka memiringkan kepalanya.
Intan menghela nafas. Dia melakukannya karena takut dia dia hamil karena perbuatan mereka malam itu. Dia harus mencari informasi siapa ayah dari calon anaknya jika itu memang terjadi.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada malam itu, apakah kita melakukan itu?" tanya Intan dengan raut wajah khawatir.
Raka menarik alisnya ke atas. Lalu tertawa keras. Dia kini mengerti pemikiran wanita itu.
"Apa kau telah terlambat datang bulan?"
Wajah Intan memucat seketika. Dia kemudian mengingat-ingat kapan terakhir dia menstruasi. Menghitungnya. Ini belum waktunya dia menstruasi. Dia bisa tenang untuk sejenak.
"Apa kita melakukan itu?" tanya Intan lagi.
"Apa kau melupakan semuanya?" balik Raka membuat Intan kesal.
"Ciumanmu masih terasa di bibirku," imbuh Raka membuat perut Intan terasa makin melilit.
"Kau bahkan memelukku semalaman, tidak mau melepaskan diriku," imbuh Raka membuat mata Intan melebar karena terkejut, wajahnya merah padam. Dia tidak yakin dia telah melakukan itu bersama Raka. *********** tidak terasa sakit sewaktu pagi. Apakah pria ini sedang berbohong atau memang mereka telah melakukan itu?
Intan meletakkan kepalanya di meja sembari membenturkannya pelan. "Matilah aku, bagaimana nasibku ke depan. Mamak, Bapak," gumamnya lirih.
"Aku mau bertanggung jawab jika memang kau hamil?" bisik Raka.
"Tidak! Aku tidak akan pernah mau menikah dengan pria sepertimu sampai kapanpun!" ujar Intan mengambil laptop miliknya dan meninggalkan Raka sendiri lalu menutup pintu rumahnya.
"Dasar pria gila, syaraf, maniak, arrogant, brengsek," umpat Intan kesal. Dalam hatinya yakin, mereka tidak melakukan apapun tetapi perkataan pria itu membuat keraguannya kembali muncul.