
Empat tahun kemudian.
"Ella, Ello, jangan berlari," seorang wanita yang berjalan di pusat perbelanjaan mengejar dua anak berumur tiga tahunan.
Brugh!
Ello terjatuh dan lututnya terkena lantai keramik yang keras sehingga berdarah. Ella yang melihat langsung bergerak mendatangi saudaranya.
"Ello kau tidak apa-apa?" tanya Ella cemas. Ello hanya memegangi lututnya yang berdarah menahan rasa sakit.
Seorang pria yang sedang berjalan di dekat Ello menghentikan langkahnya dan berjongkok.
"Kau tidak apa-apa?"
"Sssshhh," desis Ello kesakitan.
"Kau berdarah? Di mana orang tuamu?" tanya pria itu. Mata Ello yang berwarna biru terang melihat ke arah pria itu. Pria itu terkesiap. Dia seperti mengenal anak dengan wajah seperti itu, tetapi siapa dia tidak mengingatnya.
"Ibu," teriak Ella berlari ke arah ibunya.
"Ella ya Tuhan, Ibu mengejarmu dari tadi tapi kau malah duduk di sini," kata Cintya. Cintya menengok ke kanan dan ke kiri mencari Ello.
"Ello jatuh, Bu," beritahu Ella.
"Di mana dia?" tanya Cintya. Ella menunjuk tempat di mana Ello dan orang asing sedang berjongkok bersama.
Cintya lalu mendatangi Ello dengan cepat.
"Ello, kau kenapa?" tanya Cintya melihat Ello sedang duduk dilantai sembari memegang lututnya. Seorang pria asing memberikan sapu tangan putih miliknya, mengikatnya di lutut untuk menutup luka Ello.
"Anakmu sangat kuat Bu, dia terluka dalam namun tidak menangis," ujar Evan menengadah.
"Oh, Ya Tuhan kau terluka, Nak? Bagaimana jika Ayahmu tahu?" desah Cintya.
"Ibu tenang saja. Aku anak kuat tidak akan menangis," kata Ello berdiri sembari menahan sakitnya. Dia lalu mencoba berjalan.
"Ibu lihat aku baik-baik saja?" kata Ello.
Ello langsung menarik tangan Evan dari rambutnya. "Jangan Om, nanti rambutku akan berantakan. Mom tidak suka melihat rambutku kusut," ujar Ello.
Evan menautkan kedua alisnya. Cintya yang mendengar perkataan Ello langsung tersenyum miris.
"Saya permisi dulu, ayah anak-anak pasti sudah menunggu kami di tempat parkir," ujar Cintya.
Cintya lalu membawa Ello dan Ella dari tempat itu dan membuat Evan terpaku melihat mata anak itu yang berbalik memandangnya.
"Terima kasih, Om," teriak Ello.
Evan melihat ketiga orang itu hingga turun di lantai bawah. Entah mengapa matanya tidak ingin lepas memandang anak itu.
Setelah anak itu menghilang di balik pintu baru Evan melanjutkan perjalanannya lagi. Tiga orang kepercayaannya berpakaian bebas berjalan di sampingnya.
"Tuan, Tuan Brian sedang bergerak untuk membalas dendam," ujar asisten Evan. Kendrick.
"Mereka menekan harga saham kita di bursa."
"Biarkan saja seolah kita sudah terpuruk. Kalian hanya perlu selidiki kelemahan perusahaan itu. Cek semua sistemnya dan jika menemukannya maka unggah di publik," ujar Evan yang berjalan di deretan pakaian-pakaian.
"Baik Tuan saya akan menyuruh orang kita untuk menghack sistem mereka dan mencari kelemahan dari musuh kita," kata asisten Evan. Dia lalu meninggalkan Evan.
Seorang wanita berjalan terburu-buru ,dia berjalan sembari menoleh ke kanan kiri tanpa melihat ke depan. hingga tanpa sadar menubruk tubuh tegap Evan.
"Maaf!" ucap wanita itu. Menunduk mengambil tasnya yang terjatuh.
Deg!
Hati Evan berhenti berdetak. Tubuhnya membeku seketika. Dia memandang wanita di hadapannya tanpa berkedip. Takut jika berkedip maka itu semua akan hilang karena hanya sebatas mimpi saja.
Tubuh Faira lalu ditegakkan. "A ... ku," wanita itu menelan Salivanya dalam-dalam melihat pria yang ada di hadapannya. Air mukanya berubah memutih seketika.
"Faira!" gumam Evan tidak percaya jika wanita yang dicari selama ini ada dihadapannya. "Aku tidak percaya jika kau ada di hadapanku saat ini."