
Evan terbangun ketika matahari sudah naik ke atas. Sebuah senyum tersimpul dari bibirnya yang penuh. Untuk pertama kali dalam hidup dia bisa tidur selelap itu. Itu pasti karena dia tidur bersama orang-orang yang menyayanginya.
Netra Evan menyapu ke sekelilingnya tidak melihat ada penampakan dari Faira dan Ello.
"Fay," batin Evan tersenyum memikirkan mimpinya semalam. Dia bermimpi wanita itu memeluknya dengan lembut sehingga hatinya terasa hangat. Semoga itu adalah kenyataan namun Evan tidak mau berharap lebih setelah apa yang dia lakukan pada wanita itu.
Evan lalu bangkit dan pergi mencuci mukanya setelah itu dia pergi mencari keberadaan Faira dan Ello. Baru saja keluar dari kamar Evan, indera penciumannya merasakan bau masakan yang lezat.
Seorang cleaning servis yang datang untuk membersihkan penthouse miliknya dua hari sekali, menyapa dirinya. "Selamat Pagi, Sir."
Evan menganggukkan kepalanya dan melewati petugas kebersihan dari pihak apartemen.
Evan langsung pergi ke arah dapur dan di sana dia melihat pemandangan yang indah. Faira tertawa bersama Ello sembari membuat sarapan untuk mereka.
"No, Mom, monster itu menggigitku semalam, aku bisa merasakannya tetapi aku jatuhkan buk... buk .... ," tutur Ello menceritakan mimpinya.
"Dan kau menang," ujar Faira.
"Ya, karena aku adalah pahlawan super yang kuat," ujar Ello sambil membusungkan dada dan menepuknya.
"Ada apa ini?" tanya Evan ikut bergabung dengan mereka berdua.
"Om, itu kopi buat Om," tunjuk Elo pada secangkir kopi di atas meja bar dapur. Evan menatap Faira namun wanita itu langsung membalikkan tubuhnya.
Seulas senyum yang hampir tidak terlihat tercermin di wajahnya. Apakah ini sinyal yang bagus untuk hubungan mereka ke depannya? Evan berharap semoga mimpinya itu menjadi kenyataan.
Evan mulai menyesap kopinya. Terasa segar walau sudah sedikit dingin karena sudah lama dibuat tetapi itu tidak mengurangi dari kenikmatan rasa kopi itu sendiri.
Faira meletakkan empat potong sandwich telor yang terlihat menggiurkan.
"Mom aku tidak menyukainya, aku lebih suka roti dengan selai coklat yang lezat," tolak Ello.
"Ini juga lezat dan bergizi karena ada telor dan sayurannya," ucap Faira meletakkan dua piring di dekat Ello dan Evan.
"Mana piringmu?" tanya Evan.
"Aku bisa makan sembari menyuapi Ello, itu biasa kulakukan setiap pagi,'' terang Faira.
"Dia sudah besar bisa belajar mandiri," kata Evan. Faira melihatnya tidak senang.
"Bukan, bukan berarti aku menginterupsi hanya saja biarkan dia mengekspresikan dirinya kecuali dia memintamu untuk menyuapi. Faira kotor itu bisa dibersihkan tetapi mandiri itu butuh proses yang panjang."
Kali ini Faira mendengarkan ucapan Evan bukan karena menurut tetapi merasa jika ucapan Evan ada benarnya juga.
"Bagaimana jika kau makan sendiri apa bisa?" tanya Faira ragu.
"Aku sudah besar, tapi ... ." ujar Ello keberatan melihat sandwich itu.
"Tidak! kau harus mencoba memakannya," kata Faira.
"Mom," panggil Ello ragu.
Faira lalu memotong sandwich milik Ello dan menyerahkannya di depan Ello.
"Jangan menghina makanan dengan menolaknya, banyak orang diluaran sana yang ingin makan tetapi tidak punya uang untuk membelinya kita harus banyak bersyukur karena bisa makan apa yang kita mau tanpa harus bersusah payah untuk mendapatkannya."
"Iya Mom," kata Ello yang sering diajak oleh Faira datang ke kolong jembatan hanya untuk berbagi makanan dengan anak-anak pinggir jalan yang mencari uang dengan cara mengamen atau berdagang.
Ello tahu bagaimana ekspresi mereka jika melihat kotak makanan yang dia bagikan, anak-anak itu langsung memakannya lahap walau di pinggir jalan yang berasap dan berdebu. Mereka tetap menikmati.
Jika sudah begitu Ello tidak akan berani membantah ibunya.
Mereka lalu makan dalam diam. Sesekali Evan menggoda Ello yang sedang makan dengan serius dan anak itu lalu terkekeh.
"Akan kemana kita hari ini?" tawar Evan ketika mereka selesai makan.
"Kau, pas sekali kami sedang sarapan. Mari ikut makan bersama," ajak Evan terdengar ceria.
"Bos, ada berita yang ingin ku sampaikan," ucap Kendrick dengan suara yang terdengar serius.
Evan langsung bisa menebak ada yang tidak beres terjadi dengan perusahaannya.
"Ayo, keruang kerja saja," ajak Evan. Dia lalu berdiri berjalan ke ruang kerja sedangkan Kendrick mengikutinya.
Ello mulai bermain handphone setelah makanannya selesai. Faira yang penasaran lalu berjalan ke arah ruang kerja dengan mengendap-endap.
Dia menempelkan telinganya di dinding pintu yang terbuat dari kayu, mencoba mendengarkan masalah apa yang terjadi.
"Lin benar-benar mengucapkan ancamannya, dia menyuruh ayahnya Tuan Xie An meminta penggantian Chairman terbaru dalam perusahaan," terang Kendrick.
Evan meninju meja.
"Bagaimana dengan pemilik saham yang lain?" tanya Evan.
"Entahlah namun jika semua pemilik saham minoritas bersatu maka kita akan jumlah."
"Mereka pasti mencari kesalahanku," ujar Evan.
"Karena itu sebaiknya Anda kembali ke kantor untuk mengurus masalah ini. Perusahaan selama ini dalam keadaan stabil tetapi jika terlalu lama Anda tinggalkan saya tidak tahu apa yang mereka rencanakan untuk mengguncang perusahaan dan mencari celah masuk menjadi petinggi perusahaan."
"Robin dia pasti sangat berambisi dalam hal ini?" ujar Evan.
"Ya, aku dengar desas desus jika kemarin Mei Lin datang ke ruangan Robin, entah apa yang mereka bicarakan namun paginya aku dapat kabar jika Tuan Xie meminta peninjauan ulang tentang kepemimpinan baru."
Evan menarik nafas panjang.
"Lindungi Faira dan Ello, jika perlu cari pengawal khusus. Aku ingin mereka mendapatkan pengawasan penuh 24 jam tanpa
mereka tahu, aku ingin mereka merasa nyaman," kata Evan.
Faira yang berada di luar pintu lalu berjalan menjauh dan mulai berpikir. Sebenarnya apa yang terjadi pada kehidupan Evan?
Faira kembali ke ruang makan dan melihat Ello sedang duduk di kursi masih asik dengan handphonenya.
Faira tersenyum kecil. Dia lalu mendekati anaknya dan membisikkan sesuatu. Ello menganggukkan kepalanya.
Setengah jam kemudian Evan terlihat sudah keluar dari ruang kerja. Faira dan Ello yang sedang di ruang tengah menonton TV mengamati.
Evan lalu menjatuhkan tubuhnya duduk di sofa besar dekat dengan Ello.
"Om, apakah kita jadi jalan-jalan?" tanya Ello.
Evan terlihat berpikir bagaimana caranya untuk menjelaskan pada anak ini jika dia harus ke kantor untuk bekerja. Faira terlihat asik dengan acara televisi di depannya.
"Om ada pekerjaan penting jadi Om harus pergi bekerja ke kantor tetapi nanti setelah Om selesai bekerja kita bisa keluar untuk makan malam," kata Evan hati-hati.
Ello menekuk wajahnya dan menunduk lalu melirik ke arah Faira yang tetap fokus ke depan.
"Ello bosan jika di rumah seharian tanpa teman," rajuknya.
Evan lalu melihat ke arah Kendrick, sedangkan pria itu malah pura-pura melihat ke arah lain.
"Inilah drama anak kecil yang menyulitkan," batin Kendrick yang masih single hingga di umurnya yang sudah beranjak ke usia 38 tahun.
"Bagaimana jika Ello ikut Om ke kantor? Ello bisa melihat seperti apa tempat kerja Om," cetus Ello.
"Anak pintar," batin Faira.