Affair (Faira)

Affair (Faira)
Obat Maut



Hati Faira dirundung gelisah selama beberapa hari ini. Dia selalu menutup pintu kamarnya rapat sewaktu malam tidak ingin jika Ditya masuk ke dalam. Dia belum siap dengan keadaan dirinya yang sudah berbadan dua, harus bermesraan dengan pria lain walau itu suaminya sendiri. Dia merasa bersalah dan berdosa.


Faira lalu menatap nakas yang berada di samping tempat tidurnya. Lalu mulai membukanya dan mengambil sebotol obat. Obat untuk menggugurkan kandungan.


"Evan andai saja kau memberi kabar atau meninggalkan sebuah alamat tempatmu tinggal ini tidak akan terjadi," batin Faira.


Dia mulai menimang-nimang obat itu ditangannya. Melihat tulisan serta membaca efek dari obat itu.


Faira memegang perutnya sendiri dan mengusapnya. Ada sebersit rasa tidak tega. Dia lalu menjatuhkan tubuh di tempat tidur dengan obat ditangannya.


"Masih kecil, dia belum punya nyawa, akan sangat berakibat fatal jika harus berbohong pada Ditya dan mengatakan jika ini adalah anaknya sedangkan kenyataannya aku hamil pria lain. Pria brengsek yang meninggalkan aku setelah mendapat semuanya."


"Mas Ditya mungkin akan menyingkirkan aku dan anak ini, atau anak ini tidak akan diterima serta dibencinya. Aku tidak bisa membuat anak ini hidup dalam penderitaan, aku harus melakukan sesuatu," ucap Faira sendiri.


Dia melihat lagi obat itu. Entah setan darimana Faira lalu bangkit untuk duduk dan mengambil beberapa butir dari obat itu dan mulai meneguknya.


Faira meletakkan obat itu kembali ke atas nakas. Pandangan matanya mulai kosong. Buliran keringat dingin keluar, rasa mulas mulai terasa, di saat yang sama ketukan pintu mulai terdengar.


"Faira," panggil Ditya dari luar.


Faira lalu menelan Salivanya dalam-dalam. Timbul rasa iba dalam hati, dia tidak ingin menyakiti anak dalam kandungannya.


"Mas Ditya tolong aku!" ucapnya lalu mengaduh kesakitan. Ditya yang melihat Faira kesakitan langsung memapahnya namun Faira menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak kuat lagi!" ucap Faira sembari mendesis.


"Kau kenapa?" tanya Ditya lalu mengangkat tubuh Faira. Dia berjalan cepat menuruni tangga melewati Cintya yang bingung dengan keadaan itu.


"Ditya, Faira kenapa?" tanya Cintya tetapi wajah Ditya terlihat cemas dia lalu berjalan cepat kea arah mobil dan meletakkan Faira di dalamnya Ditya langsung memacu kendaraannya dengan cepat ketika sudah sampai di kursi kemudi.


"Kau kenapa Faira?" tanya Ditya menyibak rambut Faira ke belakang. Namun wajah Faira sudah memutih dan nafasnya mulai terdengar tidak beraturan.


Ditya lalu semakin mempercepat laju kendaraannya. Tidak memerlukan waktu banyak baginya untuk sampai di rumah sakit karena jaraknya yang tidak jauh dari lokasi rumah.


Ditya lalu menghentikan kendaraannya di depan ruang UGD. Dia lalu membuka pintu mobil. Petugas lalu membawa brankar mendekat ke arah Faira dan langsung membawanya pergi.


Satu jam Ditya berada di depan ruang tindakan. Dia berjalan mondar-mandir menunggu dokter keluar dan menyampaikan keadaan Faira saat ini. Semua orang nampak panik keluar masuk ruangan.


Hati Ditya jadi tambah tidak karuan. Tadi pagi dia sempat melihat Faira dalam keadaan baik-baik saja namun mengapa tiba-tiba keadaannya memburuk seperti ini.


Pantas saja jika perasaannya tidak menentu dari tadi ingin melihat keadaan wanita itu dari dekat. Firasatnya mengatakan ada yang terjadi dengan wanita itu ternyata apa yang dia pikirkan terjadi juga.