
Melihat Faira menangis membuat Evan menghentikan apa yang dia lakukan. Dia hanya ingin memberi pelajaran pada Faira yang membuatnya marah dan kesal. Benar walau dia telah meninggalkan Faira begitu saja namun wanita itu tidak berhak untuk menghalanginya bertemu dengan Ello.
Evan lalu menghapus air mata Faira. ''Jangan menangis lagi karena aku tidak suka melihat air mata keluar dari netramu yang indah."
"Itu sama saja mengiris hatiku." lanjut Evan dalam hati.
"Kalau begitu turun dari tubuhku sekarang!" seru Faira menyeka air matanya.
"Kau tidak selembut sewaktu kita baru saja bertemu, kau terlihat lebih garang namun aku suka," rayu Evan sembari turun dari tubuh Faira.
Pria itu lalu memegang bibirnya yang terluka. Faira melihatnya, nafasnya masih tersengal-sengal karena menangis.
"Aku mau tidur," ucap Faira.
"Itu lebih baik, jika kau di sini terus aku takut menerkammu kembali!" Evan tersenyum genit pada Faira membuat wanita itu jijik dan mual.
Dia membuang muka lalu menghentakkan kaki ke tanah dan pergi dari ruangan itu dengan wajah memerah karena marah.
Sepeninggal Faira Evan lalu pergi ke ruang kerjanya. Dia mulai membuka laptop sembari memegang bibirnya dengan tissue. Pekerjaannya dalam beberapa hari ini dia abaikan karena masalah Faira sehingga dia harus menghabiskan malam ini untuk membereskan semuanya.
Langit sudah berwarna merah di ufuk timur, saatnya gelap berganti terang dan bunga-bunga indah yang kuncup untuk kembali mekar. Faira masih berdiri di jendela kamarnya melihat pemandangan kota di pagi hari. Semalaman dia tidak tidur memikirkan masa depan dan perasaannya.
Ello masih tertidur lelap di tempat tidur. Faira lantas keluar dari kamar menuju dapur. Dia membutuhkan secangkir kopi yang panas.
Tidak ada pelayan di rumah ini tapi Faira tahu ada penjaga yang berjaga di luar pintu apartemen Evan.
Faira lalu berjalan mencari dapur dan tidak sengaja dia melihat Evan duduk di salah satu meja dengan menghadap komputer. Pria itu terlihat serius dan pakaiannya pun masih sama dengan pakaiannya semalam. Berarti pria itu sama dengannya yang tidak tidur tadi malam. Jika Faira hanya melamun semalaman ini Evan malah sedang menyelesaikan pekerjaannya.
Faira tidak mau ambil pusing. Entah dia mau kerja atau mau pergi bahkan mau matipun dia tidak peduli. Faira lalu berjalan ke bawah dan menemukan dapur yang cantik dengan beberapa kursi dan perabotan berwarna putih.
Sungguh indah cantik. Batin Faira.
Dia lalu pergi mencari peralatan memasak dan mulai mengisi teko air dan mulai memanaskannya. Dia lalu mulai mencari bubuk kopi dan gula meletakkannya pada cangkir kecil.
"Aku juga mau," kata Evan tiba-tiba. Dia bertingkah seolah keadaan mereka baik-baik saja padahal mereka baru saja bertengkar beberapa jam yang lalu.
Faira tidak menjawab tetapi dia tetap membuatkan kopi untuk Evan dan menghidangkannya di depan pria itu. Evan lalu menerimanya.
"Terima kasih baunya sangat harum," ujar Evan mencium bau harum dari kopi itu.
Faira tidak mengindahkan Evan, dia kemudian berjalan melihat keadaan dapur itu.
"Apa kau menyukainya?" tanya Evan namun tidak dijawab oleh Faira.
"Semua ini akan menjadi milikmu jika kau tinggal di sini menemaniku," ucap Evan penuh harap.
Faira masih terdiam seperti tidak menganggap Evan ada. Dia lalu mulai menyeruput kopi sembari melihat pemandangan keluar jendela.
Evan lalu berjalan mendekat ke arah Faira dan berdiri disampingnya. "Bukankah indah bila melihat Surya menyapa di pagi hari dengan orang yang kita cintai."
Faira lantas menatap sengit pada Evan. Dia berjalan meninggalkan pria itu.
"Faira jika kau marah karena aku mengabaikanmu bertahun-tahun lalu itu karena aku punya masalah yang tidak dapat kuselesaikan pada saat itu."
"Aku tidak peduli dengan masa lalu bagiku yang terpenting adalah masa depanku dengan anak dan suamiku?" jawab Faira.
"Suami yang telah menikahi pria lain dan karena itu kau lari dalam pelukanku Faira, tidakkah kau ingat hal itu?"
"Dia menikah lagi namun tidak pernah mengabaikan aku. Menerima semua kesalahanmu dan bahkan menerima anak hasil hubungan gelap kita. Dia pria baik Evan sedangkan kau. Kau itu hanya pecundang saja yang bersembunyi dari kesalahan. Kau mendatangiku karena Ello bukan karena diriku. Andaipun kau mendekatiku karena cinta itu sudah tidak mungkin lagi karena hatiku sudah tertutup untukmu selamanya. Dirimu dan semua kenangan tentangmu sudah kubakar habis hingga menjadi abu, lalu aku membuangnya saat itu juga di pantai, di pantai sama tempat kau menceritakan perasaanmu."
"Faira... ," lirih Evan.
"Demi Tuhan. Evan aku membencimu dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Bagiku kau jasnya masalalu uang perlu kumusnahkan. Kau hanya datang untuk mengganggu kebahagiaanku saja."
"Faira biarkan aku menjelaskan semuanya," pinta Evan memelas.
"Apanya yang perlu di jelaskan kita tidak punya hubungan apapun, aku tidak terikat denganmu."
"Kita punya Ello sebagai penyatu hubungan ini."
"Ello ya hany Ello." Faira lalu menatap Evan dengan kesal.
"Bagaimana jika aku memberi waktu untuk bertemu dengan Ello namun kau kembalikan aku ke rumah Ditya kembali."
"Faira di sini rumahmu dan sana hanya rumah suami palsumu dan istrinya!" seru Evan.
"Mengapa kau mengatakan jika Ditya suami palsuku?" tanya Faira terkejut.
"Karena aku tahu sedikit tentang kehidupan kalian. Aku bahkan tahu jika istri kedua Ditya selalu bersama Pria itu dan kau seperti wanita yang dicampakkan karena suamimu hanya tidur dengannya dan tidak memperdulikan. dirimu.
Plak;
Tampar wanita itu pada Evan. Evan terkejut hanya mengusap pipinya yang terasa panas.
"Kau boleh mengatakan apapun tentangku tetapi tidak tentang Ditya. Asal kau tahu selama ini Ditya yang menghidupi kami, aku dan Ello dan keluarga. Kami bertiga cukup bahagia merasakan kebersamaan itu." kilah Faira.
"Faira hentikan sandiwara konyolmu itu, aku tahu jika hubunganmu dengan Ditya tidak normal. Pasti ada yang ditutupi."
"Kau jangan menghina suamiku. Karena Mas Ditya sampai hari ini Ello masih hidup. Aku hampir saja membunuhnya jika Mas Ditya tidak menolongku," ungkap Faira.
"Apa maksudmu?"
"Aku hampir saja mengugurkan kandunganku dan Mas Ditya yang mencegahnya. Jadi kau berhutang nyawa padanya," ujar Faira.
"Mengapa kau ingin membunuh anak kita?" tanya Evan lagi.
"Dua karena aku sangat membencimu;" ungkap Faira membuat Evan terdiam. "Aku tidak punya muka untuk meminta bantuan tetapi Ditya malah menawarkan diri untuk membantuku menyelesaikan masalah secepatnya. Dia ingin agar kami bisa bersama kembali."
"Hai semuanya?" Sapa Mei Lin anak pengusaha yang sedang bertunangan dengan Faira.
"Apa maksudmu Evan, siapa dia?"