
Setelah sambutan hangat yang diterima oleh Intan dia lalu pergi ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri setelah menyerahkan Laura pada seorang pengasuh. Walau awalnya Laura menolak tetapi setelah di bujuk akhirnya dia setuju.
Di dalam kamar Intan sudah ditunggu oleh beberapa pelayan. Membuat wanita itu terkejut.
"Kami di sini untuk melayani Anda Nyonya," ucap salah satu pelayan senior.
"Aku bisa melakukan sendiri tidak perlu dibantu seperti ini!" ucap Intan kesal.
"Maaf Nyonya ini sudah pekerjaan kami jika Anda menolak maka kami akan dipecat." Mendengar hal itu membuat emosi Intan naik. Dia lalu melangkah keluar kamar. Dia kira hanya Laura saja yang memperoleh pelayanan lebih namun ternyata dia juga. Intan tidak suka.
Raka sedang berbicara dengan Evan tatkala dia mendatangi Pria itu.
"Aku ingin berbicara masalah penting," ucapnya langsung tanpa basa basi.
"Tunggu Van," ujar Raka.
Evan tersenyum. Dia lalu berbisik pada Raka, " Kini nasibmu ada di tangan wanita itu. Jika kau membuatnya kesal maka hancur harimu!"
"Aku pergi dahulu kakak ipar karena harus menjemput Ello dari les taekwondo."
Evan lalu pergi meninggalkan pasangan itu.
"Siapa mereka? Kenapa kau menyuruh para pelayan itu untuk mengurusku? Aku sudah dewasa bisa melakukan semuanya sendiri."
Raka mendekat ke arah dan meraih pinggang wanita itu lalu mengecupnya.
"Sudah jangan marah lagi. Aku hanya ingin kau mendapatkan pelayanan layaknya seorang ratu." Raka suka dengan Intan yang seperti ini mengomel. Dia merindukan hal ini.
"Aku bukan Ratu, aku ini Intan anak seorang petani biasa," ucap Intan melepaskan diri dari Raka namun pria itu malah mengencangkan pelukannya, satu tangannya diletakkan di belakang Intan dan mulai ******* bibir wanita itu.
"Apakah sudah?" tanya Faira setelah beberapa menit berdiri di sana membuat terkejut dua insan itu. Raka dengan cuek melihat ke tah adiknya sedangkan wajah Intan memerah seketika.
"Maaf jika mengganggu aku kemari hendak mencari suamiku," ucap Faira.
"Kau memang mengganggu momen saja," rutuk Raka. "Katanya dia akan menjemput Ello."
"Oh, ya sudah kalian bisa lanjutkan tetapi dikamar saja karena ayah dan keponakanmu masih ada di rumah ini jangan sampai mereka melihat apa yang kau... ," ucap Faira.
"Faira, sebaiknya kau cari saja suamimu. Kau membuat moodku turun drastis."
"Sebaiknya kau membawa kakakku ini ke kamar Intan agar barangnya tidak jamuran karena terlalu lama tidak digunakan," ujar Faira tertawa keras lalu berlari pergi.
"Faira, awas kau!" teriak Raka kesal. Intan hany menutup mulutnya menahan tawa dan berjalan meninggalkan Raka sendiri.
"Kau mau kemana?"
"Mengusir orang-orangmu lalu mandi," ucap Intan terus berjalan tanpa melihat ke belakang.
"Biar aku saja yang menggantikan mereka," ujar Raka.
"Tidak biarkan aku melakukannya sendiri," kata Intan berjalan cepat namun Raka lebih cepat meraih tubuhnya dan langsung mengangkatnya.
"Raka turunkan aku," ujar Intan. Raka lalu membawa masuk Intan ke dalam kamar.
Para pelayan yang sedang berdiri lalu beranjak pergi setelah melihat Tuannya menyuruh mereka keluar.
Raka menurunkan Intan setelah mereka berada di dalam kamar mandi. Kedua tangannya mengungkung wanita itu. Membuat Intan terkejut. Satu tangan pria itu mulai memutar keran. Air mulai turun dari pancuran membasahi tubuh mereka berdua.