
Sudah setengah jam sendiri Intan masih asik berbincang dengan Robin. Sesekali mereka terlihat tertawa lepas.
Raka meneguk beberapa gelas untuk melampiaskan kekesalannya. Evan yang telah selesai menyapa semua tamu mendekat ke arah Raka. Sedangkan Faira masih menenangkan Ello, anak itu terlihat cemburu atas kedekatannya dengan Faira.
Evan duduk di sebelah Raka di meja bar. Dia mengikuti arah pandang Raka. Melihat Robin bersama seorang wanita. Sedang menebak dia marah pada Robin atau kesal pada wanita itu.
Raut muka Raka tidak seperti biasanya yang terlihat tenang dan datar. Dia nampak sangat emosional sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Kesal karena wanita?" tanya Evan.
Raka menoleh dan terkejut Evan sudah berada di sebelahnya.
"Tidak!" ucap Raka meneguk kembali segelas wine.
"Wanita itu cantik dan menarik," kata Evan.
"Hah!" Evan menunjuk ke arah Intan dengan matanya.
"Dia cuma gadis bodoh saja," terang Raka.
"Aku dengar kau sudah melangsungkan pernikahan dengannya?" tanya Evan langsung. Raka menatapnya. Lalu menyentuh hidungnya dan merapikan melonggarkan dasi.
"Ternyata berita itu telah sampai ke negeri ini?" tanya Raka. "Apa Faira sudah tahu?"
Evan menggeleng sembari meminum wine miliknya.
"Syukurlah karena ini hanya pernikahan untuk menutupi skandal dan yang asli adalah wanita itu bukan pemeran dalam video itu," kata Raka tanpa mau menutupi apapun dari Evan.
"Kau memintanya dengan membayarnya untuk melakukan ini atau kalian punya hubungan khusus? sepertinya opsi kedua tidak kan?"
"Keduanya tidak benar. Aku menjebaknya masuk dalam lingkar masalah ini?"
"Dan dia setuju? Wanita bodoh karena mau berurusan denganmu!"
"Dia tidak mau tetapi semua sudah terjadi. Semua orang tahunya dia adalah pemeran wanitanya, jadi kami buat itu memang dia dengan dalih dia istriku. Aku juga mengikatnya dengan pernikahan dan restu orang tuanya sehingga dia tidak bisa mengelak atau menolak."
"Jika dia adalah istrimu mengapa kau biarkan dia bersama Robin?''
"Dia ingin mempunyai suami tampan sepertimu, ha .. ha...!" ujar Raka tertawa hambar.
"Dia sudah menikah denganmu tetapi ingin mencari pria lain, aku tidak mengerti," kata Evan.
"Pernikahan kami hanya terjadi atas dasar kesepakatan dan kesepakatannya adalah dia mau ikut membersihkan nama baikku asal dia juga diperbolehkan mencari suami ideal bagi dirinya kelak jika kami telah bercerai."
"Sekarang pertanyaanku adalah kau menganggapnya istrimu atau tidak?"
Raka terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Tidak," akhirnya jawaban itu yang terlontar dari bibirnya.
"Kalau begitu biarkan dia mencari pasangannya dan bebaskan dia setelah mendapatkannya. Aku kira Robin pun terlihat tertarik padanya." Raka menatap tajam pada Evan. Pria itu seperti sengaja menyiram bensin dalam percikan api yang telah menyala.
"Apa ada yang salah? Jika kau tidak menyukainya biarkan dia bebas menentukan hidupnya toh kau juga telah memperoleh apa yang kau inginkan. Jika kau sadar bahwa dia berharga jangan lepaskan dia." Evan menepuk pundak Raka dan bangkit setelah menghabiskan minumannya.
"Aku harus ke atas dulu untuk melihat keadaan Ello dan Faira."
Sepeninggal Evan, Raka mengusap wajahnya kasar. Perkataan Evan terngiang terus di telinganya. Robin terlihat mengeluarkan handphone dan begitu pula Intan. Sepertinya mereka saling menukar nomer. Pria itu bahkan menyentuh pipi Intan dan membuat wanita itu merona. Raka mengepalkan tangan dan memukul meja bar membuat bartender di depannya terkejut.
Pria itu lalu bangkit dan mendekati Intan.
"Tunggu, Pak Bosku sedang kemari," ucap Intan pada Robin.
"Hai Raka," sapa Robin membuat Intan terkejut karena ternyata mereka saling mengenal. Oh matilah dia. Batinnya dalam hati.
"Intan ayo kita pulang ini sudah malam," ajak Raka tanpa mau menjawab pertanyaan Robin.
"Nanti biar kuhubungi," kata Robin. Intan menganggukkan kepalanya.
"Kau kenapa sih!" ucap Intan ketika tangannya ditarik cepat oleh Raka untuk segera keluar dari tempat itu.
"Dan kau kenapa genit dengannya. Tahukah kau bahwa dia adalah pemain wanita yang sangat berbahaya?" ujar Raka kesal ketika mereka sudah berdua dalam lift.
"Lalu apa bedanya denganmu," sungut Intan kesal.
Raka hanya terdiam. Intan lalu tersenyum ketika melihat sebuah pesan dalam handphonenya. Robin mengiriminya pesan.
'Senang berkenalan denganmu, Cantik.'
Intan lalu membalas pesan yang disampaikan Robin dan mengabaikan kekesalan Raka.
'Aku juga senang mengenal pria baik dan sopan seperti mu.'
Intan mendekap handphonenya dan tersenyum sendiri membuat Raka curiga.
"Kenapa wajahmu seperti itu?''
"Ih, mau tahu aja urusan orang," kata Intan meletakkan handphonenya ke dalam tas.
"Kau yakin, kita pulang ke Indonesia besok pagi?" tanya Intan.
"Hmmm," jawab Raka.
"Kalau begitu kita jalan-jalan dulu yuk mengelilingi kota ini," ajak Intan. "Aku ingin tahu seperti apa Amerika dan kotanya," imbuhnya lagi.
Raka hanya terdiam. Dia lalu berjalan keluar terlebih dahulu meninggalkan Intan.
"Dasar pria egois, oportunis, kasar, keras kepala dan suka memerintah," omel Intan lirih.
"Kau bilang apa?" tanya Raka menghentikan langkahnya.
"Tidak!" jawab Intan menggigit bibirnya. Raka melirik tajam lalu kembali melangkah ke arah mobil yang akan mengantar mereka kembali ke hotel. Dia langsung masuk tanpa menunggu Intan masuk ke dalam.
"Kita pergi memutari kota ini terlebih dahulu baru kembali ke hotel," ucap Raka begitu masuk ke dalam.
"Baik, Pak," jawab sopir itu. Sedangkan Intan masih berada di luar mobil melihat keadaan sekeliling gedung itu yang terlihat sangat bagus dan indah penataannya.
"Ayo kita masuk," perintah Raka pada Intan.
"Iya, cerewet," kata Intan lalu masuk ke dalam.
Sesampainya di dalam mobil Intan membuka kaca jendelanya dan melihat pemandangan kota Kansas di malam hari.
"Aku selalu bermimpi ingin pergi ke Times square bersama dengan pasanganku, jalan kaki di Broadway. Kota Manhattan, kota yang sering muncul di setiap film kesukaan, menjadi imajinasi tersendiri bagiku," ungkap Intan.
Raka terlihat cuek saja tidak menanggapi ucapan Intan. Wanita itu mencebik bibirnya dan terdiam. Akhirnya karena lelah Intan tertidur lelap.
"Kita kembali ke hotel," perintah Raka pada sopir mereka.
Sesampainya di depan hotel Raka turun dan menggendong Intan masuk ke dalam hotel.
"Kau masih saja berat seperti pertama kita bertemu," rutuk Raka ketika menurunkan Intan ke tempat tidur. Dia lalu mulai melepaskan sepatu di kaki Intan dan mengamati kakinya yang langsing dan panjang, putih dan mulus serta terasa halus. Natural.
Dia lalu memiringkan tubuh Intan dan melepaskan ikat yang ada dibelakang rambutnya. Setelah itu menyelimutinya. Dia mulai melepaskan jas yang melekat di tubuhnya ketika sebuah panggilan terdengar dari tas Intan.
Awalnya Raka mengabaikannya tetapi panggilan itu terus ada hingga akhirnya Raka penasaran untuk mengetahui siapa yang menghubungi istrinya pada malam hari.
Raka membuka tas itu dan melihat panggilan dari siapa. Future Husband. Nama itu yang tertera. Raka penasaran dengan pemilik nama itu, dia lalu mengangkat telepon itu.
"Hallo Intan, ini Robin."