Affair (Faira)

Affair (Faira)
Pesanan



Lama perjalan yang ditempuh oleh Intan dan yang lainnya adalah sehari semalam membuatnya pegal. Mereka langsung menuju hotel yang dituju dan masuk ke dalam kamar masing-masing.


Raka langsung membuka kemejanya dan membuangnya ke tempat tidur. Dia lalu mengambil koper dan membuka isinya.


"Aku tidak membawa baju, apakah aku harus memakai baju ini hingga esok hari?" tanya Intan pada Raka. Raka lalu mengambil satu koper lagi, meletakkannya di atas tempat tidur dan membukanya.


"Ini punyamu," katanya datar lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Wah, kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Intan antusias saat melihat isi tas itu. Dia lalu membuka semua isinya. Pakaian pesta berwarna putih yang simpel namun indah. Intan mematutnya di cermin. Lalu dua pasang pakaian keluar serta jaketnya itu sudah dikemas dalam satu wadah. Dalaman yang indah dan nomernya pas. Raka tahu nomer pakaiannya, mungkin karena dia terbiasa memegang wanita sehingga tahu ukurannya.


Intan lalu mencari pakaian tidur dan dia hanya menemukan dua lingerie terbuat dari sutera setinggi bagian paha dalam bahkan sepertinya tidak menutupi pantatnya secara seluruh.


Intan membuka mulutnya waktu membentangkan baju itu di depannya. Raka yang telah selesai mandi lantas keluar dari kamarnya hanya dengan memakai handuk. Dia terlihat cuek saja ketika melewati Intan.


"Ka-kau kenapa ti-tidak memakai baju dikamar mandi?" tanya Intan gagap karena shock dengan pemandangan di depannya.


"Jangan shock suci, aku tahu kau menyimpan gambar pria seksi di laptopmu. Sekarang kau bisa menikmatinya." Raka mengambil baju miliknya dan melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya begitu saja.


"Akh!" teriak Intan menutup matanya. Baru kali ini dia melihat senjata laras panjang milik pria secara langsung. Jika melihat video porno itu pernah dia lakukan bersama temannya.


"Huh, kau itu tidak punya malu?" kata Intan.


"Kau harus terbiasa karena aku adalah suamimu," jawab Raka datar sembari memakai celananya.


"Apa kau belum pernah melihatnya?" tanya Raka membuka tangan yang menutup wajah Intan.


"Apa kau sudah memakai baju?" tanya Intan balik.


"Huum," kata Raka. Intan lalu membuka matanya yang ada di depannya adalah tubuh Raka tanpa atasan. Ini lebih baik. Batin Intan. Kedua tangannya masih dipegang oleh Raka.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, apakah kau belum pernah melihatnya?"


"Sudah hanya di video," jawab Intan jujur. Baginya untuk apa membohongi Raka, pria itu sudah membuka semua yang ada dalam dirinya.


"Kalau kau mau mencoba mengenal dan memegangnya boleh," goda Raka membuat wajah Intan memerah.


"Kau itu," ucap Intan lalu mendorong tubuh Raka dan dia lalu berlari ke kamar mandi. Dia menutup pintu itu dan menguncinya langsung. Memegang dadanya yang berdetak kencang. Bukan karena suatu rasa cinta atau suka tetapi lebih pada takut jika Raka meminta hal lain padanya.


Pria itu sengat mesum dan menjijikkan, batin Intan. Berapa banyak wanita yang telah memegang punyanya? Dia merasa sangat tidak beruntung karena memiliki suami bekas rayahan banyak wanita.


Intan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dia baru teringat jika tidak membawa baju. Intan lalu mengambil bathrobe dan keluar dari kamarnya.


Rambut Intan yang basah, wajahnya yang segar membuat Raka menelan ludahnya sendiri ketika melihat hal itu. Namun, dia sudah berkeyakinan jika dia tidak akan melakukan hal itu jika bukan Intan sendiri yang menginginkannya.


Dia tidak akan memaksa wanita itu lagi untuk memenuhi keinginannya. Bukan karena dia tidak mampu membuat Intan bertekuk lutut di hadapannya tetapi dia tidak ingin melukai hati gadis polos di depannya. Dia tidak ingin hati Intan tersakiti karena dia sendiri belum bisa berkomitmen terhadap satu hubungan.


"Ayolah Raka, kau bukan bujang lapuk yang harus tegang melihat kulit halus sepertinya. Itu sudah biasa. Kau harus hanya bertahan untuk beberapa bulan ke depan," gumam Raka.


Intan keluar lagi dari kamar mandi, kali ini dengan rambut yang sudah kering dan kasih memakai bathrobe, lalu imajinasi Raka tentang Intan yang keluar dengan lingeri itu menguap seketika. Namun, penampilan Intan tetap membuat bukit gairah miliknya mengeras. Raka benar-benar harus merutuki nasibnya yang naas mempunyai istri namun tidak bisa menyentuhnya. Sedangkan ketika lajang dia bebas menyentuh wanita manapun.


Raka mencoba memfokuskan diri pada layar laptopnya tapi bayangan Intan yang terpantul di layar terlihat jelas. Intan duduk di atas tempat tidur lalu membuka bathrobe yang menutupi tubuhnya, terlihat sensual padahal itu gerakan biasa. Raka menahan nafasnya seketika ketika bathrobe itu terlepas dan menampilkan kulit wanita itu yang putih dan lembut di tutupi oleh sedikit kain sutera berwarna silver.


Raka menelan ludahnya dalam-dalam. Grafik di layar itu sudah tidak terlihat lagi, yang ada hanya bayangan Intan saja menari-nari di pelupuk matanya.


Raka lalu bangkit dan membawa laptop serta berkas miliknya ke sebuah meja sofa. Dekat dengan Intan membuatnya gerah. Bisa-bisa dia memperkosanya malam ini.


Intan yang melihat hal itu hanya menaikkan bahunya. Setelah itu Intan mencoba untuk tidur tetapi yang ada hanya rasa gelisah.


"Raka apa kau tidak lapar?" tanya Intan yang sudah merasa keroncongan. "Suami lucknut, kaya tetapi tidak berperasaan, tidak memesan makanan dari tadi."


Raka yang sedang konsentrasi lalu teringat jika dia memang melupakan hal itu. Dari mereka tiba di hotel ini mereka belum makan sama sekali.


"Kau ingin makan apa?" tanya Raka hendak memesan makanan lewat interkom.


"Nasi Padang," jawab Intan. Raka menatap malas pada Intan.


"Aku tidak tahu menu masakan di negara ini karena aku tidak berpergian ke luar negeri. Kau bisa pesan apa yang kau tahu asal enak dan halal untuk dimakan," ujar Intan.


Raka lalu mulai memesan makanan itu beserta minumannya.


"Raka kau jangan pesan wine ya! Nanti kau mabuk dan melakukan hal yang tidak-tidak padaku," ujar Intan.


"Asal kau mau aku akan melayanimu," jawab Raka mulai menutup laptopnya. Mempunyai istri membuatnya sedikit terganggu. Biasany dia bekerja tanpa mendengar rengekan wanita sekarang ada wanita yang meminta ini dan itu, lain kali menuntut ini dan itu.


Apakah wanita itu juga bisa mengikuti ritme kerjanya yang di atas rata-rata dan mengerti akan kesibukannya? Raka rasa Intan tidak akan bisa mengerti akan hal itu. Dia akan bosan kepadanya seperti wanita lain dan mulai mencari pria lain untuk menghalau kebosanan itu.


Bagi para wanita Raka hanya sumber uang saja, bukan pria yang patut untuk dicintai dengan sepenuh hati. Bagi Raka wanita hanya hiburan semata tidak layak untuk mendapatkan hati dan cintanya.


Pintu kamar mulai diketuk dan Raka lalu berdiri untuk membuka pintu itu. Seorang pelayan datang membawa troli berisikan makanan. Raka mengambilnya dan membawa troli itu masuk ke dalam kamar.


Dari baunya saja Intan bisa mencium aroma lezat. Perutnya yang keroncongan membuat akal sehatnya hilang. Dia langsung saja membuka selimut dan berjalan menuju makanan itu. Tingkah Intan membuat Raka harus menahan nafas untuk kedua kalinya. Keringatnya mulai membasahi baju.


Ini wanita berniat menggodanya atau bagaimana?


"Raka makanan apa yang kau pesan?" tanya Intan membuka penutup makan di depannya dan melihat tampilannya yang menggiurkan, wanita itu menjilat bibirnya sendiri.


"Kamu yang aku pesan untuk kumakan," gumamnya.