
"Aku sedang tidak ingin makan," ujar Intan.
"Kalau begitu aku suapi," kata Raka.
"Tidak usah," ucap Intan minum dan hendak bangkit namun tangan Raka mencegahnya.
"Temani aku makan dulu," kata Raka mulai makan sesekali dia menyuapi Intan.
Walau Intan terlihat menolak tetapi melihat tatapan Raka membuat dia menerima suapan itu. Hingga mereka makan dua piring bersama.
"Dulu jika Faira sedang tidak ingin makan aku akan menyuapinya," ingat Raka pada sosok adiknya. " Hingga dewasa pun aku masih suka melakukannya jika dia sedang mengambek atau bersedih. Dia adalah wanita yang manja walau terlihat mandiri di depan semua orang."
"Kau sangat menyayanginya?" tanya Intan.
"Sangat, hingga aku mengira hanya Faira wanita yang kucintai dalam hidupku selain ibuku tentunya."
"Tetapi dia adikmu," kata Intan.
"Karena dia adikku jadi aku sangat mencintainya melebihi nyawaku sendiri. Aku bahkan tidak rela jika dia disakiti."
"Maka dari itu kau sangat membenci Kak Ditya?" Raka menganggukkan kepalanya.
"Mengapa kau tidak mencari kekasih yang bisa kau cintai dan mencintaimu?" tanya Intan.
"Sulit, sangat sulit menemukan yang tulus. Mereka hanya ingin uang dan ketenaran."
"Bagaimana jika kau menemukannya?" tanya Intan.
"Aku akan mengejarnya hingga aku mendapatkannya dan tidak akan pernah kulepaskan."
Intan tersenyum sedih. Dia lalu bangkit mengambil piring bekas makan mereka dan membawanya ke wastafel.
"Intan pernikahan kita akan dilakukan satu bulan lagi tepatnya dua minggu setelah pernikahan Faira. Rencananya itu akan diadakan di daerahmu terlebih dahulu. Sedangkan di Jakarta aku akan membicarakannya dengan WO sebaiknya kapan waktu yang tepat yang bisa kita lakukan untuk melakukan resepsi yang meriah.
"Untuk apa meriah ini hanya pernikahan pura-pura saja," ucap Faira. "Oh, aku lupa jika kau adalah orang penting dan kita sedang melakukan sandiwara ini untuk mengembalikan citra kita yang telah buruk terutama citraku," ujar Intan ketus.
"Intan apa maksud ucapanmu?'' tanya Raka bangkit. Intan yang sudah selesai mencuci piring dan membereskan makanannya lalu berjalan melewati Raka. Namun, tangannya dicekal oleh Raka.
"Aku tidak bermaksud apa-apa," ucapnya hendak menepis tangan Raka. Tetapi pria itu mempererat cekalannya.
"Intan tatap aku katakan kenapa kau diam dan marah sedari tadi?" Intan hanya diam tidak bersuara.Raka lalu memegang kedua bahunya.
"Katakan apa yang kau inginkan," ulang Raka.
"Katakan ada apa?" tanya Raka.
"Tidak ada apa-apa?" kata Intan menunduk. Raka mengangkat wajah wanita itu.
"Katakan ada apa?" kata Raka tenang. Padahal dalam hatinya timbul emosi yang membuncah dan sebentar lagi siap untuk meledak.
"Aku lelah dengan semua ini," ucap Intan dengan mata berkaca-kaca.
"Semuanya akan membaik ketika kita telah menikah secara resmi," kata Raka.
"Apakah itu bisa membuat skandal ini lepas dari hidupku?" tanya Intan. "Aku ingin hidup normal kembali. Bekerja, pergi bersama teman-teman, dan mendapatkan kekasih yang akan mencintaiku dan kucintai," tangis Intan.
Raka lalu mendekap tubuh Intan erat dalam pelukannya. Semua yang terjadi pada Intan memang akibat ulahnya dan mengapa dia saat ini tidak pernah mendapatkan pekerjaan adalah karena dia menelfon ke perusahaan yang menjadi tempat wawancara Intan untuk menolak Intan.
Dia ingin Intan hanya mengurus rumah saja tetapi dia tidak bisa mengatakannya pada wanita itu. Satu-satunya cara adalah melakukan itu. Dia bahkan menyuruh dua orang untuk mengikuti pergerakan wanita itu tanpa dia ketahui. Untuk menjaganya dari marabahaya atau sesuatu yang mengancam.
"Jika kau ingin bekerja maka jadilah sekretarisku lagi atau bekerja di perusahaanku. Mudah bukan tidak perlu mencari pekerjaan kesana kemari. Jika kau sudah punya pria yang mencintaimu, aku akan membantumu menerangkan masalah ini padanya atau keluarganya agar tidak terjadi kesalahapahaman," janji Raka.
"Aku tidak mau jadi sekretarismu. Lagi pula kau juga sudah punya sekretaris jadi untuk apa menyuruhku melakukannya?" tolak Intan mengusap air matanya.
"Kau bisa memilih pekerjaan yang kau sukai," kata Raka lagi.
"Aku tidak mau, aku akan bekerja bersama Arik saja," kata Intan.
"Kenapa kau malah memilih bekerja pada pria lain," selidik Raka curiga.
"Kau bilang kau membebaskanku untuk memilih hidup giliran aku menentukan keinginanku kau malah bertanya untuk apa?"
"Untuk mendekati mantanmu?" tebak Raka.
"Arik pria yang baik dan dia juga telah tahu hubungan kita seperti apa? Dia juga dokter bisa tahu jika aku memang masih virgin jadi aku tidak perlu membuktikan apapun padanya," terang Intan.
Rahang Raka mengetat. Namun, dia mencoba bersikap seperti biasa. Dia telah berjanji maka harus ditepati.
"Baiklah, jika itu maumu kau bebas melakukan apapun tapi ingat jangan melakukan apapun yang dapat memancing opini publik tentang hubungan kita."
"Baiklah," jawab Intan.
"Jangan melakukan hal yang aneh sebelum kita menikah resmi, kita harus terlihat normal ketika melakukannya seperti pasangan lainnya. Setelah beberapa bulan pernikahan kau bisa mengajukan perceraian, jika ... jika kau menemukan pria yang tepat untuk hidupmu,"kata Raka.
"Ini terdengar aneh, aku meminta ijin suamiku untuk berselingkuh," kata Intan tertawa hambar.