Affair (Faira)

Affair (Faira)
Hukuman dan Siksaan



"Kau masih bertanya apa kau salah?" bentak Raka geram dengan mata yang hampir keluar karena ingin mengeluarkan semua isi hatinya yang lama dia pendam sendiri. Pria itu mulai menyerang Intan kasar, bagai binatang kelaparan tidak perduli dengan perlawanan wanita itu.


Dia seperti mencabik-cabik tubuh Intan dan mengoyaknya, tidak memberikan satu kesempatan pada Intan untuk melawan walau tubuhnya sendiri di penuhi luka cakar wanita itu.


Hentakan kasar mengiri penyatuan mereka tidak ada perasaan nikmat ataupun puas hanya ada kemarahan dan dendam. Intan menangis karena merasa telah dilecehkan. Dia marah pada pria ini yang telah mempermainkan hidupnya selama ini.


Namun, tangisan itu tidak berarti apa-apa untuk Raka dia kembali lagi melakukan penyatuan itu hingga malam hingga mereka melewatkan dua kali waktu makan hingga Intan tidak sadarkan diri karena terlalu lelah.


Raka sendiri meninggalkan wanita itu dan pergi. Dia menyuruh seorang pelayan untuk merawat wanita itu dan memberinya makan.


Esok harinya Intan terbangun. Di sebelahnya nampak seorang wanita sedang mengobati lukanya. Rasa sakit dan perih menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia teringat bagaimana brutalnya Raka menyerangnya semalam hingga tidak memberinya nafas atau jeda untuk beristirahat walau sekejap.


Bagian bawah tubuhnya terasa sakit dan perih, sama seperti saat pertama kali dia berhubungan dengan Raka tetapi ini jauh lebih sakit karena hatinya juga terluka oleh sikap Raka yang diluar batas kewajaran. Inikah siksaan dan pelajaran yang ingin diberikan Raka? Namun sampai kapan?


Laura, anak itu bagaimana keadaannya? Apakah Raka berhasil menemukannya? Semoga saja tidak. Biarlah dia yang akan membayar semuanya asal anak itu bisa selamat dan hidup bahagia.


Melihat wanita yang sedang dia obati tersadar pelayan itu langsung menghentikan kegiatannya.


"Nona Anda telah tersadar. Apakah Anda ingin makan?" tanya wanita itu.


Intan hanya terdiam pandangannya kosong ke depan. Pelayan itu lantas mengambil inisiatif untuk menyuapi Intan air minum dia mengambil sesendok air dan memberikannya ke mulut Intan. Intan terkejut melihat ke arah wanita itu.


"Saya tidak tahu apa yang Den Raka lakukan, tetapi setahu saja dia tidak pernah melakukan hal diluar batas seperti ini." Rasa sesak menghujam dari diri Intan. Kali ini dia merasa kotor atas pelecehan yang dilakukan pria itu. Air mata mulai mengalir dari matanya membasahi seprai di samping kepalanya dan sebagian rambut tebalnya.


Wanita itu hendak menyuapi Intan tetapi wanita itu menampik dengan keras sehingga gelas terjatuh ke lantai dan pecah berserakan.


"Ya, Tuhan Nona!"


"Pergi!" kata Intan dengan suara hampir hilang dan serak.


"Saya diperintahkan oleh Den Raka untuk melayani Nona," kata wanita paruh baya itu. Namun Intan mengusirnya lagi dengan suara yang tercekat. Dia tidak punya tenaga untuk sekedar mengeluarkan suaranya. Intan lalu menangis dalam tempat tidur itu. Pelayan itu akhirnya pergi menyingkir.


Ketika pelayan itu telah pergi Intan berusaha untuk bangkit walau tubuhnya terasa remuk. Dia bangkit dan berjalan terseok-seok menuju kamar mandi. Dia melepaskan baju yang tidur yang melekat di tubuhnya begitu saja dan berdiri di bawah shower lalu mulai membuka air keran.


Dia hendak marah tetapi marah pada siapa? Adakah seseorang yang tahu penderitaannya selama ini tidak ada. Adakah yang bisa dia ajak bicara tentang rasa yang dia pendam, tidak ada.


Intan larut dalam lamunannya sendiri, dia hanya duduk berjongkok selama berjam-jam dibawah guyuran air hingga tubuhnya menggigil kedinginan. Dia tidak peduli. Dia sudah lelah menangisi keadaan.


Hingga sayup-sayup dia mendengar namanya dipanggil dari luar. Intan terdiam karena pandangannya telah mulai berkabut dan dia kembali tidak sadarkan diri.


Raka mendengar cerita dari pelayan yang dia percayakan khusus menangani Intan. Pelayan itu mengatakan jika Intan tidak mau makan ataupun minum hanya menangis saja selama seharian. Raka langsung pergi ke kamarnya untuk melihat keadaan Intan.


Namun, wanita itu tidak ada di tempatnya. Raka mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, dia memanggil nama Intan tetapi tidak ada sahutan. Dia lalu mendobrak pintu itu hingga terbuka lebar.


Setelah di baringkan dia mengelap seluruh tubuh Intan dengan handuk. Kulit putih wanita itu bertambah pucat. Tubuhnya juga terasa sangat dingin mungkin karena berada di bawah air terlalu lama.


"Maafkan Ibu, Nak. Maaf!'' gumam Intan dalam keadaan tidak sadar Isak kecil tangisnya terdengar membuat hati Raka terasa pilu. Dia sangat marah pada wanita itu namun hatinya juga sangat mencintainya.


"Kenapa harus seperti ini Intan?" kata Raka. Dia lalu menyelimuti Intan dan masuk ke dalamnya mencoba memberi kehangatan pada tubuh lemah itu.


"Kau sudah sadar," kata Raka ketika merasakan pergerakan Intan.


"Lepaskan aku," kata Intan lemah. Bergerak mencoba melepaskan diri dari Raka.


Raka mengusap kulit wajah Intan dan menarik nafas panjang. Dia lalu bergerak ke intercom meminta makanan halus untuk istrinya.


Tidak lama kemudian semangkuk mangkuk sereal dan susu hangat datang. Raka lalu membawa makanan itu ke tempat tidur hendak menyuapi Intan namun wanita itu memalingkan wajahnya ke samping.


"Setidaknya minum susu ini agar tubuhmu bertenaga untuk melawanku," kata Raka. "Aku bahkan belum menanyaimu tentang anakku tidak lucu kan jika kau harus mati terlebih dahulu. Sedangkan aku menantikan saat ini sudah bertahun-tahun lamanya.


"Saat untuk menyiksaku!"


"Jika kau mau jujur dari awal dan koorperatif, kau tidak akan memperoleh perlakuan kasar dariku!"


"Ha ... ha ... kau lucu Raka, aku mengenalmu dengan baik. Kau selalu memaksakan kehendak pada siapapun."


"Aku sedang tidak ingin bertengkar untuk saat ini. Kau makan dulu," kata Raka hendak menyuapi Intan.


Tangan Intan menampik untuk menolaknya. Raka menghela nafas panjang. Dia menatap Intan.


"Kau tahu jika aku tidak suka dibantahkan dan aku bukan pria yang mudah menyerah!" Intan terdiam pandangan matanya menatap jauh ke depan. Tidak memperdulikan apa yang pria itu katakan.


Tiba-tiba Raka memakan bubur dan menjapit keras hidung wanita itu. Intan membuka mulutnya karena butuh oksigen di saat itu Raka memasukkan makanan ke dalam mulut Intan. Intan langsung menelannya Raka baru melepaskan hidung wanita itu.


Seperti itu hingga makanan hampir habis.


"Kau gila melakukan itu!" teriak Intan kesal.


"Hanya itu caranya agar membuatmu makan."


"Sekarang minum obatmu, atau aku juga akan memaksamu dengan memberikannya melalui ciuman," ancam Raka. Intan lalu mengambil obat dari tangan Raka dan meminumnya.


"Intan katakan padaku anakku perempuan atau lelaki?" tanya Raka membuat Intan tersedak.