
"Tidak, ini tidak seperti yang kalian pikirkan. aku bisa jelaskan." Intan mengigau dalam tidurnya membuat Raka yang terlelap lalu terbangun. Dia melihat gadis ini terisak tetapi masih memejamkan matanya.
Rupanya masalah ini membuat trauma besar bagi dirinya sehingga masuk ke dalam alam mimpi.
"Tidak ... tidak ... ," gumam Intan lagi. Raka lalu menepuk pipi Intan.
"Intan bangun," panggil Raka mengoyak tubuhnya pelan. Intan lalu membuka matanya dan menangis.
"Katakan pada mereka jika wanita itu bukan aku," ujarnya pada Raka. Raka lalu memeluk tubuh Intan erat dan mengusap kepalanya.
"Semua akan baik-baik saja," kata Raka. Lama Intan menangis dalam pelukan Raka setelah tangisannya reda Raka mengambilkan segelas air putih untuk wanita itu. Intan duduk dan meminum sedikit lalu menyerahkan lagi pada Raka.
"Tidurlah, ini sudah malam!" kata Raka.
"Apakah kau juga tidur di sini?" tanya Intan bingung.
"Ini kamarku," jawab Raka. Intan lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur lagi.
"Aku sedang tidak ingin bertengkar karena energiku sudah habis memikirkan ini tetapi kau sudah janji jika hubungan kita hanya sebatas teman saja," ujar Intan.
"Aku tidak menyentuhmu tadi. Aku hanya lelah dan ingin berbaring nyaman. Tidak mau berbuat macam-macam."
"Tapi," ujar Intan namun perkataannya terhenti ketika melihat wajah lelah Raka.
"Baiklah, hanya saja jaga jarak," kata Intan meletakkan bantal guling diantara mereka.
"Memangnya kita lagi PPKM," ujar Raka.
"Bukan itu tetapi aku tidak percaya pada sosok pria hidung belang sepertimu," omel Intan.
"Hidungku tidak belang," ujar Raka mendekatkan wajahnya ke arah Intan. Intan lalu meletakkan tangannya ke wajah Raka dan mendorongnya menjauh.
"Jangan dekati aku!" Dia lalu berbaring memunggungi Raka.
Raka terdiam senyum samar terlukis di bibirnya. Dia lebih suka Intan yang ngomel dari pada melihatnya diam, apalagi menangis.
"Sejak kapan kau tidur di kamar ini?" tanya Intan.
"Pukul dua tadi, maka dari itu mataku masih terasa pedih dan kau mengganggu tidurku."
"Kenapa sampai malam kau belum tidur?" tanya Intan membalikkan tubuhnya.
"Mengurus semuanya. Terkadang aku hampir tidak tidur jika banyak rapat dan pertemuan yang harus ku lakukan."
"Sesibuk itu?" tanya Intan.
"Dibalik kehidupan kami yang sukses ada harga yang harus dibayar mahal. Salah satunya masalah tidur. Bagi kami tidur lama dan panjang adalah hal langka. Bisa tidur selama empat atau lima jam saja sudah sangat bersyukur."
Intan tersenyum kecut. Dia tahunya Raka adalah pria yang punya segalanya dan bisa berbuat apa saja sesuka hati.
"Kalau begitu kita tidur lagi," ajak Intan.
"Aku tidak bisa tidur jika tidak memeluk wanita," kata Raka berbohong. Intan yang mendengar memutar bola matanya.
"Peluk saja bantal, anggap itu wanitamu!"
Intan kembali memunggungi Raka. Dia mencoba memejamkan matanya namun terasa sulit. Sedangkan, Raka masih melihat ke arahnya. Dia lalu membuang bantal itu ke belakang tubuhnya dan menarik tubuh Intan mendekat. Intan yang terkejut membelalakkan matanya. Dia lalu membalikkan tubuh sehingga mereka saling berdekatan dan berhadapan.
"Sudah kukatakan jangan sentuh aku!" ujar Intan.
"Kata orang untuk bisa tidur dengan nyenyak harus dipeluk atau memeluk."
"Aku tidak pernah melakukannya."
Intan memilih diam jika menyangkut pembicaraan soal itu.
"Seorang anak akan tidur nyaman ketika dipeluk olah orang tuanya. Seorang kekasih pun akan merasakannya jika sedang bersama."
"Kau bukan orang tuaku atau kekasihku."
"Aku suamimu, tapi lupakan itu. Aku sangat lelah dan ingin memejamkan mata. Kau juga pasti ingin tidur lagi kan? Kini coba caraku agar kita bisa tertidur," ujar Raka.
"Kau tidak akan melakukan hal lain kan?"
"Tidak aku janji," ucap Raka.
Intan lalu terdiam ketika kepalanya dimasukkan ke dada Raka. Mencium, bau harum pria itu yang masuk ke hidungnya. Mendengar detak jantungnya.
"Ini terasa aneh."
"Sudah diam dan cobalah untuk memejamkan matamu, jangan pikirkan apapun," ucap Raka yang sudah menutup matanya.
Intan menurut. Dia memang butuh tempat yang nyaman untuk bersandar. Dulu dia suka sekali bersandar pada dada Bram dan menceritakan semuanya. Namun, semua itu telah berakhir.
Tiga tahun membina hubungan dengan nyatanya, tidak membuat mereka menikah dan tiga hari bertemu Raka membuat mereka telah sah menjadi suami dan istri.
Lama kelamaan suara nafas Raka yang teratur mulai terdengar. Intan ingin melepaskan dirinya tetapi tidak bisa, pegangan tangan Raka di pinggangnya terasa kuat.
"Jika kau terus bergerak maka kau membangunkan adik kecilku," kata Raka membuat Intan gelagapan.
Intan tahu benar dengan istilah 'Adik kecil'. Dia lalu menghentikan gerakannya dan mulai memejamkan matanya.
Pagi harinya Intan membuka mata dan menemukan Raka sudah tidak ada di tempatnya. Intan lalu duduk di tempat tidur.
Pintu terbuka dan Raka datang membawa beberapa paper bag bertuliskan nama branded baju terkenal. Pria itu sudah terlihat rapi dan segar, dengan celana kain berwarna biru gelap dan kemeja biru terang. Sebuah jam mewah juga melingkar ditangannya. Pria itu duduk di tepi ranjang dan meletakkan paper bag itu.
"Mandi dan pakai ini. Satu jam lagi kita akan pergi ke bandara untuk pergi ke rumah orang tuamu menjelaskan semuanya."
Intan membelalakkan matanya dan tidak tahu harus berkata apa. Kata-katanya semua tertelan dalam tenggorokan.
"Ayo cepat!" perintah Raka.
"Apa kau juga membelikan make up sekalian?" tanya Intan.
"Tanpa itu kau sudah cantik," jawab Raka.
Intan lalu melempar bantal. "Gombal!" Dia bangkit dan pergi masuk ke kamar mandi. Raka kembali keluar dari kamar itu mengurus semua hal terkait kepergian mereka.
Setengah jam kemudian Intan keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Raka. Dia melihat pria itu sedang berbincang dengan beberapa pria dan satu wanita. Intan mengenal mereka. Mereka semua adalah pegawai di kantor Raka. Salah satunya asisten kepercayaan Raka, Kenan.
Perbincangan itu terlihat serius jadi Intan hanya berdiri saja menunggu Raka selesai. Kenan yang melihat memberi tanda pada bosnya. Raka lalu menoleh dan melihat Intan. Dia tersenyum.
"Seperti yang tadi kita bicarakan lakukan itu semua dengan baik. Jika tidak mengerti hubungi aku, atau jika ada masalah terbaru hubungi aku secepatnya. Mungkin beberapa hari ini aku tidak bisa ke kantor untuk mengurusi masalah pribadi tetapi urusan kantor tetap akan kukerjakan. Jadi kirim saja lewat email biar aku pelajari."
"Baik, Pak!" kata mereka semua lalu berpamitan pergi. Raka sendiri lalu berbalik dan mendekat ke arah Intan.
"Sudah kukatakan kau cantik tanpa make up," katanya.
"Aku sudah tahu itu dari lama," jawab Intan percaya diri.
"Itu baru istriku, selalu percaya diri walau apapun keadaannya," puji Raka.
"Istri dalam kertas saja," ujar Intan. Raka lalu memegang tangan Intan dan membawanya ke ruang makan.
"Apapun itu, namamu kini telah bersanding dengan namaku," jawab Raka. "Ayo kita makan dan setelah itu pergi menemui keluargamu."