
Intan terkejut ketika membuka dirinya berada di depan pintu gerbang. Para wartawan sudah berdiri menyambutnya.
"Apakah Anda wanita yang ada dalam video itu Nona?"
"Bukankah Anda bekerja di salah satu perusahaan Permana grup, jika begitu Anda mempunyai hubungan khusus dengan atasan Anda?"
"Saya terangkan bukan saya wanita dalam video itu," ucap Intan gemetar. Matanya sudah memanas menahan tangis.
"Namun, Anda kepergok bersama Tuan Raka dalam sebuah video lainnya, jadi jujur saja!" desak wartawan lainnya.
"Aku," Intan menatap semua wartawan itu. Nampaknya percuma apapun yang dia katakan tidak akan mereka dengar.
"Tetapi semuanya terarah pada Anda, mungkin kepolisian akan segera membuat panggilan pada Anda," ujar salah satu wartawan.
"Polisi," gumam Intan. Akal sehatnya seakan pergi begitu saja, bayangan kedua orang tuanya yang akan mendapat hinaan dan hujatan menjadi momok paling menakutkan baginya. Ibunya pasti akan menderita serangan jantung. Keadaannya ayahnya yang sedang sakit bisa saja memburuk.
"Kau baik-baik saja?" tanya Raka yang tiba-tiba sudah berada di belakang tubuh Intan. Intan lalu membalikkan tubuhnya dan bersembunyi pada dada Raka, tubuhnya bergetar hebat.
"Apakah ini artinya kedekatan kalian memang benar adanya?" tanya beberapa wartawan sekaligus.
"Sudah, sudah, sudah saya akan jawab semuanya dalam konferensi pers." Raka memeluk tubuh Intan dan membawanya masuk kembali.
Intan masih shock. Pandangan matanya kosong, dia diam saja ketika Raka membawanya masuk kembali ke rumah. Ardianto yang melihat menyuruh Raka membawanya ke dalam kamar miliknya.
Raka lalu mendudukkan Intan di pinggir ranjang besar. Intan lalu menatapnya.
"Apa salahku padamu, hingga kau membawaku masuk ke dalam jurang kehancuran?" tanya Intan serak. Nafasnya terdengar tersengal. Buliran bening itu mengalir begitu saja dari dua sudut matanya.
"Kau tidak bersalah. Kau hanya bernasib sial karena bertemu denganku," jawab Raka.
Raka menangkup pipi Intan. "Dengar kita sama-sama akan hancur jika berjalan sendiri tetapi kita bisa mengatasi semuanya jika berjalan bersama," kata Raka.
Intan masih menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Percayalah!"
"Lalu apa yang harus kulakukan agar semuanya membaik."
"Kau tidak perlu melakukan apapun cukup ikuti perkataanku hingga semuanya membaik."
"Mereka mengatakan tentang Polisi apakah aku akan masuk penjara karena perbuatan asusila yang tidak kulakukan?"
"Tidak, karena kita tidak menyebarkan atau mengambil video itu," jawab Raka tegas. Membuat hati Intan sedikit lega.
"Namun jika orang mengira jika pemeran video itu kita berdua. Jika seperti itu kita akan ditangkap dengan pasal tentang perzinahan," jelas Raka.
“Setiap Orang yang melakukan persetubuhan dengan orang yang bukan suami atau istrinya dipidana karena perzinaan dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda kategori II maksimal Rp 10 juta, bunyi Pasal 417 ayat (1).7 Jun 2021," terang Raka membuat Intan terkejut.
"Jadi menikahlah denganku hari ini, jikapun kita dituduh melakukannya kita bisa memberi alasan jika kita melakukannya karena kita berdua adalah pasangan suami istri hanya belum mensahkannya secara hukum," kata Raka.
Mata besar Intan berkedip mendengar penjelasan Raka dengan seksama. "Lalu haruskah kita menikah lagi secara sah?" cetus Intan.
"Orang tuaku akan marah jika tahu aku menikah tanpa meminta doa restu tanpa mengabari mereka."
"Mereka akan lebih marah jika mendengar kabar tentang perzinahan yang dilakukan anaknya. Jika pun iya, kita akan meminta maaf dan membujuk agar kemarahan mereka surut. Hati orang tua akan cepat luluh jika melihat anaknya melakukan itu."
"Lalu bagaimana hubungan kita ke depannya? Ini hanya sandiwara saja kan? Demi Tuhan aku tidak ingin menikah denganmu ataupun berdekatan denganmu," ucap jujur Intan.
"Kita hanya akan melakukan sandiwara pernikahan ini di depan orang lain. Jika kau tidak mau menerimaku aku tidak akan memaksa. Aku pun sama seperti dirimu tidak menginginkan pernikahan ini. Bagiku menikah sama saja mengikat diri pada satu wanita dan itu artinya aku harus mengubur kebebasanku. Aku tidak suka terikat Intan."
"Bukankah status janda dari Raka Permana itu tidak buruk nantinya," celetuk Intan.
"Kau belum saja menikah sudah memikirkan status janda terlebih dahulu," gerutu Raka dirinya sedikit tersinggung karena ditolak mentah-mentah oleh seorang wanita. Wanita ini bahkan sudah mengumumkan perpisahan sebelum pernikahan.
"Bukankah begitu perjanjiannya?'' Raka mendengus kesal.
"Intan, aku berjanji akan melepaskanmu jika kau sudah menemukan pria yang tepat dan lebih baik dari mantan pacarmu, jika tidak aku tidak akan menceraikanmu," janji Raka.
Mendengar Intan terkejut mendengar perkataan Raka. Dia menatap lekat pada pria itu. "Apakah kau juga akan membantuku menemukannya?"
"Iya, aku janji karena kau juga sudah bersedia menolongku keluar dari masalah ini. Bukan hanya kau, nama baik keluargaku pun akan hancur jika aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Posisi ayahku akan berada di ujung tanduk. Dan dia akan jadi bulan-bulanan publik umum."
Intan baru ingat jika keluarga Raka adalah keluarga terpandang dan terhormat serta tersohor di penjuru negeri.
"Baiklah jika begitu, jika di depan umum kita adalah suami istri jika hanya berdua kita adalah teman. Satu lagi kau harus membantuku mencari pria yang tepat untuk menemani hidupku ke depannya," kata Intan mulai bersemangat.
"Aku berjanji," ujar Raka menyudahi kesepatan mereka.
***
Malam harinya mereka melakukan pernikahan siri entah itu sah atau tidak Intan tidak peduli. Baginya ini hanya sebuah sandiwara untuk menyelesaikan semua masalah yang ada.
Tetapi berbeda bagi Raka. Keringat dingin sudah menghampirinya dari tadi. Sebuah beban berat terasa dipundaknya ketika kalimat ijab meluncur dari bibirnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Intan binti Pranoto dengan emas kawin seperangkat perhiasan emas berlian dibayar tunai."
"Sah, sah... ," ucap para saksi lalu lantunan doa dipanjatkan. Ketika semuanya sudah usai beban berat itu kemudian hilang seketika. Raka melirik ke arah Intan yang berdandan biasa saja hanya memakai baju kebaya putih dengan selendang tersampir di kepala mereka.
Merasa di perhatikan Intan menoleh dan tersenyum pada Raka dengan manis. Senyum yang membuat Raka terpana untuk sesaat.
Beberapa foto diambil ketika mereka melakukan ijab dan doa. Lalu oleh tim segera di publish ke media masa.
Sedangkan Intan mendapatkan telephon dari orang tuanya ketika semua acara telah selesai dan dia kembali ke kamar yang dia gunakan tadi.
"Hallo, Pak!" jawab Intan dengan suara takut dan gemetar.
"Intan apa berita di televisi itu benar jika kau telah melakukan hubungan haram dengan seorang pria? Bapak sama Mak mu tidak menyangka kau bisa berbuat seperti itu, padahal Bapak berkali kali sudah mewanti agar bisa menjaga diri di kota besar."
"Bapak... ," lirih Intan menangis.
"Bapak dan Mak mu malu, nduk malu... lebih baik Bapak mati saja dari pada mendengar hinaan dan caci-maki para tetangga," teriak Pak Noto.