
Hari ini adalah kunjungan kerjanya ke sebuah desa kecil dekat perbatasan negara. Dia sedang melihat pembangunan daerah tersebut untuk melihat dan mengecek pembangunan infrastruktur yang sudah pemerintah lakukan dengan dana besar-besaran. Program partainya adalah membenarkan jalanan utama setiap kecamatan agar mempermudahkan keluar masuknya transportasi ke seluruh desa di wilayah pelosok.
Raka meringis kesakitan di daerah lambungnya. Dokter sudah melarangnya minum-minuman keras namun dia tetap melakukannya jika dia teringat akan nasib anaknya dan Intan yang tidak tahu kemana rimbanya.
"Tuan apa sebaiknya kita batalkan saja acara hari ini?" tanya Kenan asisten setia Raka. Dia khawatir melihat wajah Raka yang memucat.
"Tidak usah, aku akan baik-baik saja. Aku hanya butuh obatku saja," kata Raka.
"Maaf Tuan obat Anda tertinggal di rumah tadi. Di tas milik saya yang lain," sesal Raka.
"Sial!" rutuk Raka. "Tidak apa-apa aku masih bisa menahannya, hanya saja setelah acara ini selesai kita langsung membelinya di apotik."
"Baik Tuan. Namun, wajah Anda terlihat sangat pucat," kata Kenan.
"Yang penting masih terlihat menawan."
"Ya, diumur Anda yang telah menginjak empat puluh tahun Anda masih terlihat tampan," kata Kenan.
"41 Tahun Kenan," ujar Raka.
Setengah jam kemudian mereka berada di sebuah desa setelah melewati jalanan aspal baru. Sedangkan jalan masuk desanya yang harus naik bukit dibuat dari cor-coran semen yang kuat. Raka senang dengan hasil yang didapatkan.
Sebelum dia turun dari mobil orang-orang sudah berdiri untuk menyambut kedatangannya. Sebagian wanita dan pria mudanya memakai baju adat sebagian lainnya memakai baju batik bebas.
Raka turun dari mobil. Satu orang paling berkuasa di daerah ini maju dan mengalungi dengan untaian bunga setelah itu dia disambut oleh tari-tarian daerah. Raka tersenyum ramah pada semuanya sembari terlihat sedikit berjoget mengikuti gerakan penari daerah itu untuk menunjukkan antusiasmenya. Padahal dia sendiri sedang merasakan perutnya yang perih dan nyeri.
Tepuk tangan membahana ketika tarian itu selesai. Para penari itu berebut ingin bersalaman atau memeluk Raka. Bagi mereka Raka adalah contoh panutan yang patut ditiru. Penggiat politik yang tidak sombong, humble dan enak diajak berbicara tidak sering terlihat emosi. Dia seperti ayahnya yang ramah dan sabar pada keluh kesah rakyat jelata. Begitu kata orang-orang mengenai sosok Raka.
Raka lalu duduk dengan para pemuka adat mereka banyak bercerita tentang daerah ini. Raka mendengarkan dengan seksama sembari sesekali menimpali perkataan mereka. Rasa nyeri menggerus perutnya membuatnya mulai mengeluarkan keringat sebiji jagung.
"Apakah Tuan Raka sedang sakit?" tanya salah seorang pemuka adat.
"Tidak keadaan saya baik-baik saja," bohong Raka.
Pemuka adat itu nampak tidak percaya mungkin dari penelusurannya dia bisa melihat jika keadaan Raka sedang lemah.
Hingga tiba saatnya dia maju ke depan untuk memberikan pidatonya. Sepuluh menit lamanya dia memberikan kata sambutan dan mengapresiasi kebuadayaan daerah ini. Setelah itu dia menyelesaikan kata-katanya. Sebenarnya dia harus mengisi acara selama tiga puluh menit dan membicarakan tentang program pemerintah ke depannya namun tubuhnya sudah tidak kuat untuk tetap berdiri tegap. Kepalanya terasa berat. Dia lalu turun dari podium. Hendak menjejakkan kaki ke tanah tetapi tubuhnya telah tumbang terlebih dahulu.
Semua orang menjerit terkejut dan melihat ke arahnya. Untung Kenan yang menunggunya turun, langsung menangkap tubuh atasannya.
"Tuan apakah Anda baik-baik saja?" tanya Kenan. Raka tersenyum tetapi malah pingsan.
Tubuh Raka tadinya mau diobati secara tradisional namun Kenan melarangnya. Dia minta agar Raka dibawa ke Klinik atau rumah sakit terdekat.
"Kita bawa dia ke rumah sakit terdekat atau puskesmas," perintah Kenan
"Klinik terdekat adanya di ibukota kabupaten sekitar lima belas kilometer dari tempat ini."
"Kita bawa ke sana," ucap Kenan mereka lalu menggotong Raka membawanya ke mobil.
Sesampainya di sebuah klinik Raka langsung saja di gotong masuk ke UGD. Dia menjalani proses pemeriksaan.
Ketika sedang diperiksa Raka telah siuman dari pingsannya.
"Di mana saya?" tanya Raka yang melihat seorang pria memakai baju putih berada di dekatnya.
"Anda sedang kami periksa, Tuan," kata pria itu.
"Memang apa yang terjadi?"
"Katanya tadi Anda pingsan ketika sedang melakukan kunjungan kerja. Saya kira lambung Anda yang sedang bermasalah ka... ," perkataan Dokter itu terhenti ketika mendengar suara seorang anak perempuan memanggilnya.
"Ayah, dimana Ibu, kenapa aku tidak melihatnya?" tanya anak kecil berambut hitam panjang dikucir tinggi.
"Ibumu sudah pulang Sayang, biar nanti kau pulang bersama Ayah saja, Okey," kata Dokter itu. Raka menoleh ke arahnya dan tersenyum melihat tubuh kecil itu bergerak dengan mencebik bibirnya lucu.
"Ibu meninggalkanku! Aku akan marah kalau begitu," ujarnya menggenggam kedua tangan tangan dengan mata ditajamkan.
"Kau tidak boleh seperti itu. Sekarang Ayah ada pasien Om ini. Laura bisa kan menunggu Ayah di luar."
"Laura mau di sini saja melihat Ayah bekerja," kata Laura.
"Baiklah, kalau begitu kau boleh lihat Ayah bekerja namun duduk yang manis, ya," kata Dokter itu. Anak itu malah memegangi ujung baju kerja Dokter itu
"Maaf Pak, jadi mengganggu pembicaraan kita tadi," kata Dokter itu.
"Tidak apa-apa memang harus mendahulukan anak dari pekerjaan kita," ujar Raka. Matanya tidak bisa lepas dari memandang putri kecil sang Dokter. Kedua netra kecil yang bulat itu seperti mengingatkannya pada siapa, Raka lupa. Namun, wajah anak itu terlihat familiar di otaknya.
"Bisakah saya kembali ke hotel hari ini Dokter?" tanya Raka.
"Itu yang kau saya katakan. Sebaiknya Anda dibawa ke rumah sakit pusat daerah sini untuk mendapatkan perawatan yang lebih lanjut. Ada sedikit luka dilambung Anda sepertinya yang menyebabkan Anda merasa sakit perut. Apakah Anda punya penyakit lambung atau Hepatitis sebelumnya?"
"Ya, saya punya riwayat penyakit itu," jawab Raka sambil tetap memandangi anak itu.
"Anda alkoholik?" Raka menarik dua sudut bibirnya ke samping dan menganggukkan kepala.
"Oh, pantas. Lambung Anda sudah tidak bisa menerima minuman itu, jika Anda paksakan berakibat fatal," kata Dokter itu.
"Om, terlihat tampan dan sehat, mengapa sakit?" tanya anak itu tiba-tiba.
"Oh, dia tidak boleh minum minuman yang dilarang, Sayang, tetapi tetap meminumnya," terang Dokter itu.
"Jangan meminumnya, nanti perutnya sakit dan disuntik oleh Ayah," peringat anak itu terdengar seperti orang tua yang memarahi anaknya.
"Kau dengar apa kata putriku," kata Dokter itu. Raka mengangguk.
"Putri Anda cerdas pasti menuruni kepandaian ayahnya," ujar Raka kagum pada sosok kecil di depannya.