Affair (Faira)

Affair (Faira)
Rindu?



Akhirnya Ello tertidur lagi setelah lelah menonton film animasi bersama dengan Evan sembari membantu Evan memasang Gundam yang baru dia beli bulan kemarin dan belum sempat dia rangkai menjadi sebuah robot.


Sedangkan Faira terlihat bosan melihat saluran TV di kamar yang dia gunakan. Dia ingin pergi dari rumah itu tetapi tidak tahu caranya dan dia berpikir jika Evan pasti telah memasang keamanan yang berlapis untuk mencegahnya pergi dari apartemen ini.


Setelah menonton televisi dia kini tahu jika dia berada di Kansas Amerika Serikat malalui berita TV Lokal yang dia lihat.


Evan benar-benar gila menculiknya dari Indonesia dan membawanya kemari melewati berbagai pemeriksaan di seluruh negara yang mereka lewati.


Siapa dia? Bagaimana bisa mempunyai kekuasaan seperti itu, hingga penjagaan dari Raka saja bisa dia lewati dengan mudah dan bisa keluar dari Indonesia dengan membawanya. Ayahnya adalah wakil ketua DPR dan petinggi suatu partai politik, tentu saja punya kekuatan lebih untuk melindungi anaknya namun itu bukan halangan untuk Evan melakukan aksinya.


Faira berpikir ada yang salah dalam hal ini. Ada yang dia lewati tetapi apa? Semua masih misteri. Masih banyak pertanyaan yang mengendap dan dia tidak tahu jawabannya.


Bagaimana jika Raka sudah tahu jika Evan adalah ayah dari Ello dan ikut merencanakan semua ini. Secara, Raka itu tidak menyukai Ditya.


Faira mengacak rambutnya kasar memikirkan hal itu, kepalanya seperti mau pecah. Belum juga satu malam di rumah ini tetapi tekanan darahnya sudah naik. Dia akan menunggu Ello tertidur lalu mengajak bertengkar pria itu.


Faira memijit kepalanya ketika Evan masuk menggendong Ello yang sedang tertidur pulas. Faira menatapnya tajam lalu memberi tempat pada Evan untuk meletakkan Ello di sisi tempat tidurnya yang lain.


Setelah itu Evan berbalik untuk pergi dari kamar itu tanpa mengucap sepatah katapun.


"Kau, aku ingin berbicara denganmu," seru Faira. Evan terdiam hanya menatap Faira.


"Kita bicara di ruang sebelah saja," ucap pria itu berjalan keluar dari kamar. Faira mengepalkan tangannya dan bangkit lalu berjalan keluar dari kamar itu.


Evan kembali ke ruang santai di lantai dua dan menyalakan kembali TV.


"Apa yang ingin kau katakan? Atau adakah yang ingin kau tanyakan?" tanya Evan.


Faira duduk di salah tempat tidur. Dia menatap bajunya sendiri.


"Siapa yang mengganti bajuku?" tanya Faira curiga.


Evan tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.


"Hanya itu yang kau ingin tanyakan?"


"Cepat jawab," sungut Faira.


"Aku ingin sekali membuka semua pakaianmu itu tetapi ketika kau tersadar bukan ketika kau tertidur lelap. Seorang pramugari di pesawatku yang melakukannya."


Faira menghela nafas lega.


"Apa kau ingin aku yang melakukannya?'' tanya Evan. "Aku masih ingat bentuk tubuhmu yang bertambah besar di tempat yang seharusnya berbeda dari pertama kali kita bertemu."


Wajah Faira memerah tangannya bergerak menutupi dada. "Kau mengintip?" tanya penuh curiga.


"Percayalah aku melihat semuanya," goda Evan geli membuat wajah Faira merebak merebak merah entah karena malu atau marah. Faira lalu melemparkan bantal di sofa keras kepada Evan yang duduk tidak jauh dari dirinya.


"Kau pria paling breng suwek yang pernah aku temui."


"Namun hanya aku yang kau ingat," imbuh Evan. Ingatan Faira kembali pada noda merah di lehernya kemarin.


Wajah Faira menegang seketika. "Kau!" Faira mengerang seketika tangannya mencengkeram udara, marah.


"Faira, kenapa kau tidak mengatakan padaku jika kau telah melahirkan anakku kemarin ketika kita bertemu," tanya Evan lembut dan tenang.


"Untuk apa? Toh kau meninggalkanku seperti sampah tidak berharga," jawab Faira ada nada kepedihan dari suara.


Evan mendesah dia lalu memejamkan mata sejenak. "Aku tidak berniat seperti itu, hanya saja situasinya tidak memungkinkan kita untuk bersama pada saat itu."


"Terlalu alasan klise yang dibuat semua pria setelah melakukan kesalahan berharap jika keterangannya akan bisa membodohi pasangannya. Aku bukan wanita seperti itu."


"Kita tutup saja urusan ini dan biarkan aku pergi dari sini," kata Faira.


"Faira sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan mu dan Ello," ucap Evan.


"Dan sampai kapanpun, aku tidak akan memaafkanmu dan membiarkan kau menyentuh hidup kami," ujar Faira menunjuk ke arah Evan.


"Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan kalian apalagi menyerahkan kalian pada pria itu."


"Dia suamiku," kata Faira memalingkan wajah kesal. Evan menatap tajam Faira.


"Dia suamimu, tetapi tidak pernah ada di hatimu!" tegas Evan.


Faira menelan Salivanya sulit. "Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Kau berkhayal!"


"Faira tidak usah membohongi diri sendiri, aku tahu hanya aku yang ada dihatimu!"


Faira menyipitkan mata dan menatap tidak senang pada pernyataan Evan. Dia tersenyum sinis.


"Ku kira kau mabuk, percuma saja berbicara denganmu," ucap Faira lalu bangkit dan melangkah pergi namun tangan Evan dengan cepat meraih tangan wanita itu dan satu tangannya memegang pinggang Faira membanting tubuh kecil Faira ke atas sofa lalu mulai mengungkungnya.


"Aku mabuk, mabuk oleh cintamu," ucap Evan sembari menelusuri leher Faira dengan ibu jarinya hingga turun ke bawah tulang selangka.


Tubuh Faira menegang seketika. Wajahnya merah padam karena marah. Tangan Faira hendak menampar pipi Evan namun sudah Evan genggam terlebih dahulu dan ditarik ke atas kepala Faira. Satu tangan lain berusaha untuk mendorong tubuh Evan namun sekali lagi Evan menangkapnya dan menyatukan di atas kepala Faira.


Faira masih berusaha memberontak tetapi kedua paha Faira di tekan oleh punggung pria itu sehingga tidak dapat bergerak.


Wajah Evan sangat dekat dengan wajahnya sehingga hidung mereka saling bersentuhan.


"Apa kau merindukan ini Faira, sungguh aku sangat merindukan dan memimpikannya selama ini," ucap Evan. Faira memalingkan wajahnya namun tangan Evan memegang dagunya dan mengusap labium merah itu dengan ibu jarinya.


"Evan jangan lakukan ini!" ucap Faira memelas.


"Kenapa? Apa kau tidak menginginkannya?"


"Hanya dalam mimpimu!" ucap Faira namun bibir Evan segera mendarat mulus di bibir Faira mengeksplornya. Faira menggigit bibir Evan namun pria itu tidak mengindahkannya dia tetap membuai Faira dan memaksa wanita itu membuka mulutnya.


Faira tetap melawan tetapi pertahanannya sia-sia ketika Evan meremas salah satu bukit hangatnya. Faira terkejut dan membuka mulutnya. Rasa asin dan anyir terasa di mulut Faira ketika Evan mulai bisa menguasainya, mencari madu dan menghisapnya.


Faira akhirnya terdiam menyerah, namun buliran air mata keluar dengan deras. Evan tidak mengindahkannya.