Affair (Faira)

Affair (Faira)
Ingin Seperti Dulu



Faira pulang ke rumah setelah hari malam. Dia lalu langsung berjalan pergi ke kamarnya.


"Faira ayo kita makan bersama kami sudah menunggumu dari tadi," panggil Cintya yang datang mendekati Faira.


"Aku sudah kenyang," tolak Faira. Wajah Cintya terlihat bersedih dia lalu melihat ke arah suaminya.


"Kami sengaja menunggumu pulang," kata Cintya.


"Sebaiknya kalian tidak menungguku karena biasanya pun Mas Ditya tidak pernah makan bersamaku, " ucap Faira melirik ke arah Ditya.


"Aku lelah mau ke atas terlebih dahulu," kata Faira beralasan padahal seharian ini dia tidak makan walau sebutir beras pun. Di hanya duduk di sebuah cafe yang menikmati cofee sembari menulis cerita untuk melupakan masalahnya.


"Faira," panggil Ditya namun Faira mengabaikannya tetap berjalan ke atas menuju kamarnya.


Cintya mengendorkan bahu ke atas sedangkan Ditya hanya menghela nafas. Dia tidak tahu bagaimana cara untuk mendekati Faira lagi setelah apa yang dia lakukan.


Ditya lalu berjalan ke atas.


"Ditya kau mau kemana?" tanya Cintya. Ditya hanya diam tetap naik ke atas bukan ke kamar Faira tetapi ke rooftop atas. Tempat kesukaaan Ditya jika sedang dirundung masalah. Entah di kantor atau di rumah berdiri di atas ketinggian sembari menikmati semilir angin membuat hatinya tenang.


Sedangkan Cintya merasa sedih, kesal dan marah karena diabaikan oleh suami serta sahabatnya. Kini perannya seperti tidak ada artinya bagi kedua orang itu. Mereka menganggapnya tidak ada. Dia sudah memasak berbagai makanan untuk kedua orang itu berharap semuanya akan membaik seperti dahulu, berbicara dan bercanda riang tanpa beban.


"Bu, ini makanannya mau diapakan?" tanya Mbok Nah.


"Kasih saja sama yang lain mungkin ada yang mau jika tidak Mbok bisa buang itu ke sampah," ucap Cintya kesal.


"Bu Faira juga sering seperti itu Bu Cintya, dia sering memasakkan berbagai macam makanan kesukaan Bapak namun Bapak tidak pernah mau makan bersamanya seringnya Bapak tidak menyentuhnya," terang Mbok Nah.


"Betulkah seperti itu jika iya kini aku merasaka. apa yang dirasakan Faira," batin Cintya.


Cintya yang sedih lalu merasa tegar kembali. Mbok biarkan aku ambil satu piring nasi berserta lauk pauknya untuk Faira," pinta Cintya.


Faira langsung membaringkan tubuhnya yang lelah setibanya di kamar. Tanpa melepaskan sepatunya dia memejamkan mata.


Tiba-tiba Cintya masuk ke dalam kamar dengan membawa baki tanpa permisi.


"Faira ayo kita makan," ajak Cintya duduk di sebelah Faira.


"Aku sudah kenyang, Cintya," tolak Faira. Dia ingin sendiri tidak ingin diganggu oleh siapapun.


"Faira aku belum makan sedari siang tadi, Ditya juga tidak makan sama sekali dari pagi, apakah kau ingin melihatku kurus karena kekurangan makan?" tanya Cintya mendramatisir suasana.


Faira langsung membalikkan tubuhnya melihat ke arah Cintya.


"Kau ingin apa Cintya?" tanya Faira.


"Kita makan bersama seperti dulu, aku sangat merindukannya," pinta Cintya.


Faira lalu duduk sembari menutup matanya sejenak menahan diri. Dia lalu memandang Cintya lagi.


"Cintya semua sudah tidak seperti dulu?" ungkap Faira.


"Kenapa tidak bisa? Kita yang membuat batasan itu maka tidak bisa melakukannya lagi. Hancurkan dinding itu Faira jadilah temanku lagi yang ceria dan selalu tersenyum," pinta Cintya.


"Kau yang selalu ceria Cintya aku adalah anak paling pendiam di kelas," ujar Faira.


"Tetapi aku ingin melihat Faira yang dahulu," bujuk Cintya.


"Tidak setelah kau menikah dengan Ditya, semua tidak baik-baik saja," batin Faira.