
Lidah Faira kelu, bibirnya terkatup rapat. Namun pupil mata yang berkaca-kaca menggambarkan semau perasaannya.
Evan lalu memeluk tubuh Faira erat. Memasukkannya lebih dalam ke tubuhnya. Ingin agar wanita itu merasakan debaran jantungnya yang akan berdetak lebih cepat ketika bersamanya.
"Kembalilah padaku Fay, kita buat masa depan bersama," pinta Evan. Bahu Faira mulai terasa basah. Hatinya mulai merasa sangat sakit. Dia takut untuk berharap lebih yang akhirnya hanya berujung pada penderitaan semata.
"Aku akan melakukan apapun yang kau mau asalkan kau dan Ello akan tetap bersamaku, selamanya," lanjut pria itu dengan suara yang terisak.
Faira hanya bisa menggigit bibirnya. Tangannya yang terkepal mulai mengendur, dia ingin memeluk balik Evan namun di urungkannya.
"Evan aku masih bersuami," kata Faira dengan suara yang bergetar. Evan terdengar menarik nafas panjang. Dia merenggangkan pelukannya kedua tangannya dia letakkan di rahang Faira sebagian masuk ke sela rambut hitam yang lebat.
"Katakan lagi Faira, jangan berbohong padaku," kata Evan dengan tatapan tajam serta mata yang memerah.
Mendengar ucapan Evan membuat mata Faira membulat seketika. Nafasnya tercekat.
"Kau... ?!"
"Aku tahu semuanya," kata Evan tegas. Faira menelan ludahnya dengan sulit.
"Evan, itu?"
Bagaimana bisa pria itu tahu kenyataan bahwa sebenarnya dia telah bercerai dengan Ditya setelah Ello lahir. Proses itu tetap berlangsung karena Ditya tidak ingin menghalangi keinginan Faira yang ingin berpisah. Bagaimanapun pria itu sadar diri jika sudah ada pria lain dalam hati Faira dan dia sudah terlanjur melukai hati wanita itu dan tidak bisa dimaafkan begitu saja.
Mereka berdua menyembunyikan kenyataan itu pada siapapun termasuk pada Cintya. Wanita itu bahkan tidak boleh menanyakan mengapa wajah Ello berbeda dengan Ditya. Ditya selalu menutupinya dan terkesan selalu membela Faira.
Ditya bisa menggantikan posisi Ayah yang kosong, nama Faira pun tetap terjaga karena mereka tahunya jika status Faira masih istri sah Ditya. Ditya berjanji akan melepaskan Faira jika wanita itu mempunyai calon pasangan hidup yang akan mencintainya dengan sepenuh hati.
Setelah bertahun-tahun akhirnya Faira merasa tidak tega memisahkan Ello dengan keluarga Ditya. Dia juga tidak bisa melihat Ello terluka karena tahu jika keluarga itu bukanlah keluarga aslinya. Akhirnya Faira memutuskan untuk kembali bersama Ditya.
Rencana rujuk kembali dan pernikahan ulang sebenarnya akan dilangsungkan namun kedatangan Evan merusak semua. Ditya meminta Faira untuk pergi dari kehidupannya sementara waktu. Dia ingin Faira berpikir ulang tentang hubungan mereka.
"Menikahlah denganku besok," tanya Evan membuat Faira terkejut.
"Ha... ha... ," tawa Faira sumbang.
"Kau bermimpi," ungkap Faira.
"Tidak, aku akan menjadikan itu suatu kenyataan."
"Aku tidak mau," kata Faira memalingkan wajah ke samping.
"Apa alasannya?" tanya Evan.
"Aku tidak mengenalmu dan aku tidak ingin hatiku terluka lagi. Kau tidak tahu bagaimana sakitnya itu," ujar Faira.
"Aku pun sama-sama terluka sepertimu namun aku akan mengobati lukamu jika kau ijinkan," ungkap Evan.
"Evan pernikahan tidak semudah yang dikatakan," ucap Faira.
"Apapun itu aku akan bertahan, karena bagiku kau adalah nafas hidup dan matiku."
"Mungkin kau tidak langsung bisa memaafkan ku tapi beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Jika kau tidak nyaman dengan sebuah pernikahan itu tidak masalah kita bisa hidup bersama hingga kau siap," ucap Evan.
"Kalau begitu menikahlah denganku. Kita besarkan Ello bersama-sama," ucap Evan.
"Evan, aku," tubuh Faira membeku ketika sebuah ciuman hangat mampir di bibirnya. Matanya membulat seketika dan dadanya berdetak lebih keras.
Pelan dan lembut menyesap bibir itu, menggoda dan menggelitik lidah Evan membuat Faira terhanyut, pikirannya mengatakan tidak tetapi tubuhnya melakukan hal lain. Mulutnya terbuka dan lidah itu masuk menaut lidah Faira, lalu seperti mencari madu didalam, bergerak dan terus bergerak membuat Faira lupa akan dirinya.
Sial, dia menikmati dan merindukan hal ini selama bertahun-tahun. Batin Faira. Bahkan kebersamaan dengan Ditya selama ini tidak bisa membangkitkan gairahnya yang terpendam.
Sedangkan bersama Evan, satu sentuhannya saja mampu menyalakan api dalam dirinya yang membakar darah dan menghidupkan birahi yang telah mati.
Di sisi lain tangan Evan membelai perut Faira dan mulai bergerak ke atas sehingga menemukan buah padat yang berisi meremasnya sedikit. Seketika suara erangan kecil keluar dari tenggorokan Faira.
Membuat pria itu makin bersemangat, bibir basah itu lalu mulai berpindah ke leher jenjang Faira menyesapnya terus turun hingga akhirnya dia menghentikan aksinya dan melihat wajah Faira yang sudah merona merah dengan nafas terengah-engah.
"Aku ingin melakukan lebih namun akan lebih terhormat jika aku melakukannya ketika kau sudah menjadi istriku. Di tempat tidur penuh dengan bunga, bukan di kamar mandi seperti ini," kata Evan membuat Faira malu.
Evan membuktikan jika dirinya memang merindukan pria itu tanpa harus banyak berbicara.
Evan mengusap bibir Faira. Memandangnya penuh cinta.
"Aku sungguh-sungguh mencintaimu Faira," ucap Evan.
"Bagaimana dengan Lin?" tanya Faira tersenyum kaku.
"Dia tunanganku tetapi aku akan memutuskannya," jawab Evan.
"Akan, kau membawaku kemari mengajakku menikah sedangkan kau masih bertunangan dengan wanita lain. Itukah cintamu?" sudut Faira.
"Lalu aku harus bagaimana untuk membuktikannya?" tanya Evan.
"Entahlah aku juga tidak percaya padamu sepenuhnya," jawab Faira jujur. " Yang aku lakukan Ini hanya hasrat sesaat bukan cinta Evan."
Evan memiringkan kepalanya. "Hasrat?" tanya Evan menaikkan kedua alisnya.
Tubuh Faira meremang seketika. Dia takut dengan apa yang akan Evan lakukan.
"Baiklah kita buktikan apa hasrat itu hanya sebuah keinginan semata atau sebuah ungkapan hatimu untukku," kata Evan tersenyum sinis.
"Apa yang akan engkau lakukan?" tanya Faira gugup.
"Memberikan pelajaran padamu," kata Evan lalu menggotong Faira tiba-tiba dan membawanya ke kotak mandi yang terbuat dari kaca.
Faira mencoba lari namun tubuh besar pria itu mencoba menghalanginya. Keran mulai diputar lalu air turun deras dari pancuran membasahi keduanya.
"Evan maafkan aku dan lepaskan aku," pinta Faira sembari mengusap wajahnya yang basah. Namun pupil mata Evan telah memadat dan menggelap.
"Kau terlambat, dari tadi aku menahan hasrat ku sendiri tetapi kau malah menantang ku," ucap pria itu. Menekan tubuh Faira di tembok dengan tubuhnya. Dua tangan wanita itu dia pegang.
"Evan ini tidak benar," kata Faira. Dengan suara yang bergetar, kakinya sudah melemas seketika.
"Dulu juga tidak benar dan kita menikmatinya," kata Evan. Evan lalu mulai menelusuri leher jenjang wanita itu. Menyesapnya dan memainkan lidahnya di kulit hangat Faira. Faira terus berusaha untuk menolaknya.