
Raka lalu menutup matanya sejenak. Dalam hatinya dia merutuki kebodohannya karena telah terjebak oleh pertanyaan Intan. Tiba-tiba terbersit ide untuk membalikkan keadaan. Dia itu Raka tidak terkalahkan masa tidak bisa membodohi anak kecil seperti Intan. Secara jarak umur mereka terpaut jauh. Empat belas tahun. Dia lebih berpengalaman tentunya.
Raka lalu membalikkan tubuhnya dan menghadap Intan.
"Karena kau tahu kau masih virgin jadi aku tidak memakainya sama sekali. Sayang kalau dilewatkan," kata Raka menahan tawanya dalam hati melihat ekspresi wajah Intan yang memerah karena malu.
Intan lalu membalikkan posisi tidurnya menghadap ke atas. Lalu memejamkan matanya. Merasa diperhatikan oleh Raka dia menutup wajah dengan bantal.
"Apakah kau mau mengulangi hal itu?" tanya Raka. "Kita sudah sah menjadi suami istri."
Bantal yang tadinya menutupi wajah Intan lalu dipukul ke arah Raka dan ditangkap oleh Raka.
Raka menatap Intan dan langsung mengecup pipinya. Membuat Intan terdiam dan mengusap pipinya, risi.
"Jangan sentuh aku, aku tidak mau dekat-dekat denganmu, takut tertular virus di tubuhmu," kata Intan. Penolakan Intan malah membuat Raka semakin tertantang. Dia naik ke tubuh Intan dengan cepat dan duduk dipanggulnya kedua kakinya di tekuk ke belakang menahan pergerakan kaki Intan. Tangannya dia gunakan untuk memegang dagu Intan dan dia menghabisi bibir Intan.
Intan memukul tubuh Raka namun pria itu tidak bergeming sama sekali. Akhirnya dia menggigit bibir Raka. Raka menghentikan kegiatannya sejenak melihat Intan dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Liar!" ucapnya. Lalu mencium Intan lagi untuk kedua kalinya sehingga rasa anyir darah Raka terasa di mulut mereka. Intan melawan
Tempat tidur di rumah itu adalah tempat tidur tua, tidak kuat menahan bobot keduanya disertai dengan pergerakan lebih.
Kretek!
Bruak!
Tempat tidur ambruk. Intan dan Raka terkejut. Mereka terdiam sejenak.
"Nduk, ada apa?" suara dari luar kamar. Intan dan Raka saling berpandangan. Mereka lantas berdiri, Raka memberitahu Intan agar menemui ayahnya dan Intan menolak mendorong Raka yang maju. Raka melebarkan mata pada Intan dan memperlihatkan bibirnya yang berdarah karena wanita itu. Intan tertawa kecil lalu menahannya dan berjalan ke arah pintu.
Pintu kamar di buka beberapa orang berdiri di depan kamar.
"Ada apa Nduk?" tanya bapaknya khawatir dan pengawal Raka juga terlihat penasaran, mereka berdiri di belakang ayah Intan melongok ke arah tempat tidur yang ambruk.
"Oh," hanya itu tanggapan ayah Intan.
"Biar kami yang bereskan Tuan." Beberapa pengawal Raka masuk dan membereskan kekacauan ini.
"Huh, pantas saja jika langsung menikah siri," gumam Ayah Intan lalu pergi. Perkataan ayah Intan membuat wajah Raka dan Intan memerah.
Setelah semua dirapikan seperti semula dan orang-orang beranjak pergi dari kamar, mereka lalu tidur di kasur langsung dengan lantai.
Intan lalu tidur memunggungi Raka. Dia memegang bibirnya yang terasa bengkak dan sakit akibat serangan buas Raka. Sedangkan Raka memegang bibirnya yang sakit akibat gigitan Intan. Batinnya wanita itu seperti kuda liar dari dalam hutan dan Raka merasa tertantang untuk menaklukannya. Namun, dia sudah berjanji untuk membantu wanita itu mencari suami yang baik. Sedangkan, dia bukan pria baik itu. Batin Raka.
***
Mereka bangun kesiangan karena baru tidur sewaktu ayam mulai berkokok. Pintu kamar mulai diketuk oleh Ayah Intan. Ini sudah jam tuju pagi namun anak dan menantunya masih tertidur lelap sedangkan para pengawal Raka sudah gelisah karena ada jadwal penerbangan dua jam lagi.
"Mereka pengantin baru maklum kalau bangun kesiangan, Pak," kata Ibu Intan setengah berbisik.
"Iya, tapi ini urgent darurat Mak e," jawab Pak Noto.
"Intan, bangun Nduk, " panggil Pak Noto lagi. Intan yang dipanggil lalu membuka matanya. Dia terkejut dan langsung berteriak ketika melihat wajah Raka ada di depannya.
"Lepas," teriak Intan pada Raka yang tertidur sambil memeluknya. Dia mendorong tubuh Raka kuat sehingga terjengkang ke belakang.
"Ada apa?" kata Raka yang baru terbangun dari tidurnya.
"Nduk, ada apa?" seru Pak Noto dari luar khawatir.
Intan lalu berdiri dan berjalan membuka pintu.
"Tidak ada apa-apa hanya saja kaget melihat ada pria di sebelahku, aku belum terbiasa."
"Oh, ayah kira ada apa?" Pak Noto dan Ibu Intan tersenyum geli melihat tingkah anak dan menantunya.
"Oh ya, katanya kalian ada keberangkatan ke bandara jam tuju ya untuk perjalanan ke Amerika sana," kata Pak Noto.
"Amerika," gumam Intan melihat ke arah Raka yang melihat mertua dan Intan sedari tadi.
"Sial! Kita harus pergi sekarang," kata Raka memerintahkan pengawalnya untuk membereskan barang-barang miliknya sementara dia menarik tangan Intan untuk keluar rumah.
Ayah dan Ibu Intan panik melihat anak dan menantunya yang berlari keluar rumah.
"Kalian sarapan dulu," teriak mereka.
"Tidak sempat," jawab Raka.
"Kita belum cuci muka!" seru Intan yang sadar jika mereka baru bangun tidur.
"Nanti saja," kata Raka yang masuk ke dalam mobil dengan gugup.
"Kau tidak memakai atasan," ujar Intan menahan tawa. Raka lalu teringat jika piyamanya, dia tinggal di kamar. Dengan cepat dia kembali lagi ke dalam rumah untuk mengambil piyamanya. Intan tertawa keras melihat kekonyolan suaminya.