
Faira memandang sosok menyedihkan di hadapannya. Wanita dengan raut wajah yang terlihat sedih dan lusuh. Lingkaran hitam pada matanya yang bengkak. Garis halus di dahi yang mulai terlihat, bibir kering dan sorotan mata sendunya masih memerah, menyimpan penderitaan di dada.
"Huh," Faira mengeluarkan nafas kasar melihat pantulan dirinya di cermin.
Dia harus kuat untuk melakukan ini semua. Dia tidak boleh kalah oleh takdir yang dia ciptakan sendiri. Bukankah keinginannya telah kuat untuk melakukannya. Dia tidak ingin melihat ke belakang lagi.
"Faira, ini terakhir kali aku bertanya padamu apakah kau rela aku menikah lagi! Jika tidak hentikan semua kegilaanmu. Kau pikir jika kau melakukan semua ini maka semua orang akan bahagia?" tanya Ditya dua Minggu lalu.
"Aku tidak tahu hari esok tetapi tadi aku bisa melihat kau menikmati kebersamaan mu dengan Cintya. Jadi untuk apa aku menahan semuanya percuma saja. Aku seperti seekor semut yang mencoba menahan badai besar dan badai besar itu adalah hubunganmu dan Cintya yang terus-menerus membayangi pernikahan kita. Kau terus menerus menyalahkan ku atas kandasnya hubungan kalian. Kau itu pandai namun tidak bisa melihat apa yang tersirat dari apa yang kulakukan."
"Jika kau merasa kau akan bahagia bersama Cintya lakukanlah karena aku orang pertama yang akan mendukungmu. Namun, satu hal yang harus kau ketahui. Aku sudah tidak berniat untuk memperbaiki pernikahan kita ini!"
Ucap Faira terakhir kali pada Ditya karena setelah itu dia selalu menghindari suaminya.
Faira mulai mengoleskan conselar ke wajahnya untuk menutupi wajahnya yang kusam. Diikuti dengan langkah lainnya. Merias wajahnya seapik mungkin. Tidak perlu bantuan MUA karena dia bisa melakukannya sendiri.
Setelah puas dengan hasil riasannya dia mulai mengambil dress panjang tanpa lengan berwarna putih dipadukan dengan blazer brokat berwarna senada. Gaun yang dibuat khusus dari seorang perancang terkenal. Faira sendiri tidak tahu apa yang dipakai oleh calon maduku itu tetapi aku tahu jika dia hanya memakai gaun pengantin biasa. Sisi didirinya yang lain ingin agar Faira tak mau kalah dari lawan. Ironi ... dia bahkan sudah kalah sebelumnya. Jika dia menang, Ditya akan menolak kedatangan Cintya dari awal dan mengatakan bahwa dia sudah menikah.
Faira menatap miris dirinya di balik cermin, menarik nafas dalam untuk mengisi dadanya yang sudah mulai terasa sesak.
Dia lalu memakai anting beserta kalung dari mutiara yang indah. Jam berharga ratusan juta hadiah dari kakaknya tersemat apik di tangannya.
Faira bukan ingin pamer tapi ingin menyembunyikan kesedihanku dibalik penampilanku yang memukau. Cantik dan elegan sehingga menarik opini orang lain bahwa dia baik baik saja menjalani semua ini dan Ditya, bisa merawat istrinya dengan baik selama ini. Bagaimanapun dia tidak mau nama suaminya menjadi tercemar dan jadi gunjingan publik.
Setelah merasa penampilannya kali ini telah sempurna Faira lalu mengambil tas Hemes putih miliknya dan pergi keluar dari kamarnya.
Kaki panjang dan langsing yang berbalut sepatu saint Laurent berwarna putih gading mulai menuruni tangga. Untuk sesat Ditya terpakai dengan penampilan Faira tetapi dia memalingkan wajahnya lagi.
"Kau sudah siap rupanya. Kau kira kau sedang menangis di kamar dari tadi sehingga pernikahan ini akan diundur karenamu atau akan dibatalkan mungkin," cetus Ditya.
"Kau salah, aku baik-baik saja bahkan lebih baik dari hari kemarin karena mulai hari ini tanggung jawabku sebagai istri akan kulepaskan untuk kuberikan pada wanita lain," balas Faira lalu melangkah pergi mendahului Ditya.
"Keras kepala!" gumam Ditya yang masih didengar wanita itu tetapi dia tidak memperdulikannya.
Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil menuju tempat akad nikah. Mobil mulai dilajukan ke tempat akad pernikahan.
Suaminya ini memang tampan. Berkulit sawo matang namun malah terlihat eksotis. Alis hitam dan tebal diatas matanya yang masuk ke dalam dan tajam, setajam setiap kata yang keluar dari mulutnya. Bentuk bibirnya tipis namun berisi. Hidungnya mancung, tegak dan sedikit besar. Satu hal yang membuat Faira terpikat adalah senyum ramah yang selalu Ditya berikan sebelum pernikahan mereka. Sekarang senyum itu lenyap ditelan bumi
Pria itu memakai baju pernikahan berwarna putih gading dengan hiasan jarum rantai yang terbuat dari emas di dadanya. Dia memakai peci berwarna senada dengan pakaiannya.
"Baju ini mengingatkanku pada pernikahan kita dulu," kata Ditya pada Faira seraya memandangnya.
Mata Faira melebar tetapi memalingkan wajahnya lagi ke jendela kaca.
"Apakah pernikahan itu tidak berarti untukmu?" tanya Ditya lagi.
"Sudahlah jangan bahas yang telah lalu. Aku sudah lelah, jika kau mau bertanya seharusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri!" ujar Faira tanpa mau melihat ke arah Ditya.
"Bertanya pada diri sendiri!" Ditya menarik nafasnya dan melepaskan satu kancing bajunya bagian atas karena mulai merasa sesak.
"Aku sudah bertanya pada diriku, mengapa kau menjebak dengan pura-pura tidur denganku sehingga menimbulkan persepsi buruk pada keluarga kita?Jika kau menginginkan aku, kau pasti akan sudah merayuku seperti ja**ng yang lain tetapi tidak kau tetap seperti Faira yang kukenal sebagai teman baik Cintya dan aku. Kau memang melaksanakan semua kewajiban mu sebagai istri tetapi kau tidak pernah sengaja datang ke kamarku untuk sekedar minta hak itu!"
"Apa sebenarnya niatmu melakukannya? Sampai sekarang aku tidak mengerti!"
"Kau tidak mengerti tetapi kau terus menyalahkan ku. Waktu yang kugunakan sebelumnya untuk menjadi istri yang baik dan layak untukmu telah habis. Kau tidak memberi kesempatan padaku untuk melakukannya. Sekarang semua sudah terlambat. Aku sudah tidak akan mau lagi membicarakan hubungan kita. Menikahlah dengan Cintya karena kau akan hidup bahagia bersama dengannya."
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Ditya.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu apakah aku melakukan ini karena mencintaimu atau karena aku ingin bebas dari neraka yang kau ciptakan! Jika aku mencintaimu, aku akan tetap berada di sisimu jika tidak aku akan pergi dengan sebuah senyuman," jawab Faira.
"Jika kau mencintaiku apakah kau mau hidup bertiga dengan Cintya?" tanya Ditya balik. "Jika iya kita akan mencoba semuanya lagi dari awal," tawar Ditya.
Faira menatap tidak percaya atas tawaran Ditya. Itu seperti sebuah pelecehan atas dirinya. Dia mengira cintanya bisa dengan mudah Ditya permainkan.
"Aku tidak tahu dan aku tidak bisa memutuskannya sekarang." Faira langsung memalingkan wajahnya ke arah lain menatap jalanan kota Bandung yang mulai semakin padat. Mereka telah berada di kota ini semenjak malam untuk melangsungkan pernikahan Ditya dan Cintya.
Mudah bagi pria untuk membagi cintanya sedangkan sulit bagi wanita untuk berbagi. Walau dia sabar tetapi dia tidak akan sebodoh itu untuk dipoligami. Mereka yang mau melakukannya hanya orang-orang yang berhati besar. Sedangkan hati Faira tidak sebesar itu.