Affair (Faira)

Affair (Faira)
Terperangkap



Malam harinya adalah waktu paling aneh untuk Intan. Saat ini, dia sedang membersihkan dan merapikan kamar tidurnya sendiri untuk tempat beristirahat Raka sedangkan dia tidak tahu harus tidur di mana.


Dia yang sudah lelah dengan apa yang terjadi selama seharian ini lalu duduk bersandar di ranjang sembari memegang sapu lidi yang dia gunakan untuk membersihkan tempat tidur. Dia memikirkan semua yang telah terjadi selama dua hari ini. Tidak dapat dinalar dengan akal sehat.


Dua hari lalu statusnya lajang bahkan harus memikirkan bagaimana caranya memberitahu orang tuanya perihal rencana pernikahannya dengan Bram yang batal. Namun, kini dia malah sudah menikah dengan pria yang tidak dia kenal, pria asing yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya dan membuat cerita baru yang terdengar aneh.


Mungkin karena terlalu capai dengan semua yang terjadi Intan tanpa sadar tertidur lelap. Raka yang telah selesai menerima tamu hingga larut malam masuk ke dalam kamarnya dan menemukan Intan yang sudah tertidur nyenyak terlebih dahulu dengan posisi duduk.


Raka lalu melihat seisi kamar sederhana berwarna pink. Hanya ada satu lemari berukuran sedang, satu set meja belajar yang dirangkap menjadi meja rias dan sebuah jendela menghadap ke arah halaman depan rumah dengan korden tokoh kartun Keropi.


Raka mengambil sapu ditangan Intan dan meletakkannya di atas meja belajar. Dia lalu membetulkan posisi tidur wanita itu.


Pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Raka lalu berjalan membuka pintu. Di depannya ada pengawal yang membawakan barang-barang miliknya. Koper berisi baju dan laptop serta beberapa berkas.


Setelah pengawal itu meletakkan dalam kamar mereka berpamitan keluar. Raka lalu membuka tas kopernya dan mengeluarkan piyama tidur miliknya. Raka lalu melepas pakaiannya dan memakai celana tidur. Namun, rasa gerah yang teramat sangat menerpa dirinya karena tidak ada AC di kamar ini. Dia lalu memilih meletakkan piyamanya dan bertelanjang dada.


Setelah itu dia mengambil laptop dan beberapa berkas kerjanya meletakkannya di atas tempat tidur. Di atas meja belajar Intan berisi banyak barang akan sangat merepotkan jika dia harus menyingkirkan itu terlebih dahulu untuk menggarap tugasnya.


Malam terus beranjak hingga pukul satu lebih Raka masih fokus mengurus bisnisnya yang sedang limbung karena skandal yang menimpanya. Dia harus menyelesaikan semua secepatnya.


Intan mengeliat dan membuka matanya. Sejenak dia melihat ada pria tampan tanpa baju di depannya, memerhatikan dalam diam.


"Aku memang tampan kau tidak harus menatapku terus seperti itu," kata Raka menoleh tiba-tiba membuat Intan gelagapan.


"Aku tidak berpikir kau tampan hanya heran...,"


"Heran mengapa kau mendapatkan suami sesempurna sepertiku?" ujar Raka mencondongkan tubuh ke arah Intan tetapi kepala Intan di mundurkan ke belakang.


Raka terkekeh melihat ekspresi takut di wajah cantik itu. Dia lalu kembali melihat layar dalam laptopnya.


"Ih, kau itu terlalu narsis," kata Intan duduk sembari menopang pipi di lutut memerhatikan pekerjaan Raka.


"Narsis itu perlu agar kita tidak merasa kecil dihadapan orang lain."


Sejenak mereka terdiam.


"Apa kau tidak lelah harus bekerja sepanjang waktu seperti itu," kata Intan. Raka lalu menghentikan pekerjaannya dan menatap pada Intan.


"Ada puluhan ribu karyawan yang menggantungkan nasib pada kinerjaku, jika aku lengah sedikit saja maka nasib mereka dipertaruhkan." Raka kembali mengerjakan pekerjaannya dan Intan memerhatikannya dalam bekerja.


"Waktu istirahat juga perlu," kata Intan.


"Aku istirahat hanya seperlunya. Dua tiga jam tidur itu sudah cukup bagiku."


"Lalu bagaimana kau membagi waktu dengan keluarga dan wanita?" tanya Intan penasaran.


Raka lalu menghentikan pekerjaannya menatap Intan lekat. "Kau mau jawaban jujur atau bohong."


"Seberapapun menyakitkan kejujuran itu penting dalam suatu hubungan entah itu dalam keluarga, persahabatan ataupun percintaan."


"Aku hanya menganggap wanita hiburan ditengah aktivitasku yang padat."


"Hanya hiburan? Pernahkah kau mempunyai rasa terhadap mereka walaupun satu orang saja?" Intan terkejut mendengar jawaban Raka.


"Kau membuang mereka seperti kau membuang Cindy? Kejam!"


Raka sudah tidak konsentrasi dengan perkerjaannya dia lalu menutup laptop dan berkasnya. Lalu meletakkannya di atas meja belajar Intan.


"Dari awal hubungan kami hanya sebatas kesenangan. Dia tidak bisa mengatur hidupku karena dia bukan siapa-siapaku," jawab Raka datar. Intan membuka mulutnya lebar tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari mulut Raka.


"Jika kau ingin kita melakukan itu aku akan melayanimu dengan baik," ujar Raka mencondongkan tubuh ke arah Intan dengan wajah sensual.


Bugh!


"Ya Tuhan, galak sekali wanita ini?" pikir Raka mengusap wajahnya sendiri.


Bukannya terkesan Intan malah geli dan jijik melihatnya. Dia bergidik ngeri melihat Raka membayangkan jika pria itu telah dijamah oleh banyak wanita.


"Apakah kau pernah ke dokter untuk memeriksakan kondisimu?"


"Tidak ada yang salah denganku, aku sehat dan dalam kondisi fit."


"Kau tidak takut terkena HIV karena telah bersama puluhan wanita atau bahkan ratusan wanita?"


Raka terhenyak dengan pertanyaan Intan. Baru kali ini ada wanita yang berpikiran dia mengidap virus itu. Itukah sebabnya Intan selalu bersikap antipati padanya.


"Terus terang aku takut kau dekati, aku takut tertular virus itu." Raka mengusap wajahnya kasar mendengar penuturan Intan.


"Kau membuat kepalaku sakit," ucap Raka berbaring di tempat tidur. Dia kira dia bisa merayu wanita itu dengan tatapannya namun tidak wanita itu malah mengatakan hal menyeramkan tentang dirinya. Penyakit HIV? Dia selalu memakai pengaman ketika bermain dengan wanita manapun. Dia tidak mungkin terkena penyakit itu.


Namun, pikiran itu terus mengganggunya. Berapa banyak wanita yang bersamanya Raka sampai tidak bisa menghitung. Apakah ada salah satu diantara mereka yang mengidap penyakit kelamin? Raka tidak bisa memastikannya. Intan benar dia harus memeriksakan diri ke dokter.


Raka mulai memejamkan matanya. Hal berbeda terjadi pada Intan. Dia sulit sekali memejamkan matanya teringat akan rencana pernikahannya dengan pria itu. Intan lalu melirik pada Raka.


"Apalagi yang kau pikirkan?" tanya Raka dengan mata yang masih terpejam. Intan meringis. Dia kira pria itu sudah tertidur lelap.


"Pasti hal aneh lagi," kata Raka membalikkkan tubuh memunggungi Intan.


Intan memainkan tangannya. "Raka," panggilnya lirih.


"Hmmm."


"Apakah pernikahan itu harus terjadi? Bisakah kita batalkan saja?"


Raka lalu membuka matanya dan membalikkan tubuh menatap ke arah Intan.


"Kita sudah sepakat sebelumnya mengenai hal ini." Intan terlihat ragu mengatakannya. "Ada apa lagi?"


"Tadi kau mengatakan jika kau selalu memakai pengaman jika berhubungan dengan wanita berarti aku tidak mungkin hamil jika pernah melakukannya denganmu?"


Raka terperangkap dengan kata-katanya sendiri.


***


Like, Vote, dan komentarnya ya... tempelkan jejak yang indah di sini ya...