
Setelah membawa Evan dan Faira ke rumah sakit. Raka kembali lagi hotel miliknya. Dia melihat anak buahnya sedang menginterogasi pengunjung. Dia lalu masuk ke dalam ruang CCTV bersama ayahnya dan mengeceknya.
CCTV di lantai atas mereka dimana kerek lampu gantung itu berada telah mati ini pasti sabotase dari seseorang pikir Raka. Dia mulai membaca situasi melihat semua sisi dalam hotelnya beberapa menit sebelum dan setelah kejadian.
"Yah, lihat ini," kata Raka memperlihatkan gambar seorang wanita yang mirip dengan Renata berciuman dengan seorang pria di sudut ruangan sepi.
Wajah Ardianto menggelap.
"Seekor ***** tetaplah seperti itu. Sudah dipelihara untuk naik derajatnya tetapi tetap tidak berubah kelakuannya," geram Ardianto.
"Kita akan mengurusnya nanti yang terpenting sekarang cari pelakunya dulu. Kita tidak bisa menundu seseorang tanpa punya bukti yang kuat," kata Raka tenang padahal hatinya sudah merasa panas. Dia sudah bisa menebak jika Alberth dan Robin yang berada dalam kasus ini tetapi mereka belum mempunyai bukti yang kuat.
Raka melihat bayangan seorang pria berpakaian kaos putih melintas dari arah tempat kejadian perkara di CCTV. Pria ini sudah ada semenjak setengah jam sebelum acara dimulai dan langsung pergi ketika kejadian turunnya lampu kristal terjadi.
"Cepat cari pria ini," kata Raka pada para anak buahnya menunjuk pada pria berkaos putih itu.
"Albert dan Robin masukkan ke ruanganku sekarang," perintah Raka pada Kenan.
"Kami meletakkan dua orang pria itu di ruang tunggu ruangan Anda, Pak," kata Kenan.
"Ya, sudah aku akan kesana," ujar Raka berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Tetapi sebelum itu dia melihat ke arah ayahnya yang masih shock karena masalah Faira dan Renata.
"Ayah sebaiknya kau tenang, biar aku saja yang mengurus masalah ini Faira. Renata buang dan usir dia dari hidup Ayah. Dia tidak pantas untuk memilikimu," ujar Raka.
Dia lalu keluar dari ruangan itu menuju ke ruangan di mana Alberth dan Robin berada.
"Raka kenapa kau menahan kami?" teriak Alberth begitu melihat Raka.
"Hallo Tuan-tuan. Well, aku hanya ingin bertanya tentang beberapa hal pada kalian. Terutama kau Robin." Raka menatap tajam pada pria di depannya. Robin yang duduk dengan posisi melipat tangan di dada.
Raka duduk di depan dua pria berbeda generasi itu.
"Sebelum aku bertanya tentang masalah kecelakaan itu. Aku ingin bertanya tentang Intan padamu."
Robin tersenyum mengejek pada Raka. "Apakah kekuasaanmu tidak bisa membuat kau menemukannya?"
Raka mengeratkan kepalan tangannya. Namun, wajahnya masih terlihat datar.
"Aku hanya ingin bertanya baik-baik padamu dimana kau menyembunyikan Intan saat ini?" tanya Raka tenang namun menghanyutkan.
"Dia tidak ingin melihatmu lagi, kau sudah mendengarnya kan!" ujar Robin sengit.
"Tetapi bukan berarti kau membantunya keluar dari negara ini?" kata Raka.
"Dia merasa terintimidasi jika berada di sini dan dia meminta bantuanku. Aku tidak tega melihat wanita sebaiknya di permainkan olehmu ja... "
Bugh!
Raka langsung menarik tubuh Robin dan memukul wajahnya.
"Kau bisa memukul sepuasmu atau membunuhku sekalian tetapi kau tidak akan bisa menemukannya, Raka Permana," ujar Robin tertawa sinis. Dia lalu memperlihatkan video berisi Intan yang sedang tertawa di sebuah taman bunga.
"Kau lihat dia bahagia jauh darimu."
"Dia sudah sangat membencimu dan aku akan menggantikan tempatmu di hatinya," imbuh Robin. Raka lalu melompati meja dan memukul Robin bertubi-tubi.
"Sudah, Pak , kita tidak bisa menanyai mereka jika Anda tidak dalam keadaan tenang seperti ini." Kenan berdiri di antara dua pria ini.
"Aku sudah menahan orangmu jika dia mengatakan bahwa kau adalah dalam masalah ini. Aku pastikan kau akan mati ditangan ku," ancam Raka.
"Jika aku mati kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan Intan," ujar Robin.
Raka lalu meninggalkan tempat itu dengan kesal.
Video tentang Intan yang tertawa membuat konsentrasinya hilang. Dia disini terluka karena ditinggal pergi olehnya dan wanita itu malah terlihat tentram. Raka lalu menendang udara dengan kuat sembari mengerang keras.
"Kuatkan diri Anda, Pak," kata Kenan.
"Semua masalah ini serasa membuat kepalaku pecah. Evan tadi sempat mengatakan jika Intan sudah berada luar negeri."
"Berarti Evan sudah tahu letak keberadaan Bu Intan?"
"Ditya yang tahu," rutuk Raka kesal.
"Oh, Anda tidak beruntung," celetuk Kenan tetapi dia langsung menutup mulutnya ketika mendapat tatapan tajam Raka.
"Cari istri lain saja Tuan," kata Kenan.
"Kau itu sama seperti yang lain," kesal Raka.
Batin Kenan mengapa majikannya itu marah, biasanya jika ada wanita yang pergi dari hidupnya beberapa hari kemudian sudah ada pengganti baru. Apa bedanya Intan dengan wanita-wanita itu? Apa Tuannya telah jatuh cinta? Rasanya tidak mungkin dunia akan terbalik jika Raka Permana jatuh cinta. Jika itu terjadi maka dia akan menggunduli rambutnya.
Raka lalu masuk ke ruangannya untuk menenangkan diri. Dia mengambil sebotol whiskey dan meneguknya langsung dari botol. Tetapi bukannya tenang hatinya malah bertambah sakit dan nyeri. Dia tidak terima Intan dengan mudahnya melupakannya begitu saja. Sedangkan dia di sini terpuruk mencari dan menunggunya kembali.
Raka lalu membanting botol itu keras ke lantai. Berjalan mengelilingi ruangan itu sembari menengadahkan wajahnya ke atas menatap langit-langit ruangan. Dia melakukan itu agar tangisnya tidak keluar.
Raka tidak pernah menangisi wanita. Wanita yang menangisinya. Itu yang dia gumamkan.
Dia lalu membuka galeri di handphonenya dan melihat foto-foto Intan yang dia ambil saat wanita itu sedang tertidur dalam pelukannya. Foto kebersamaan mereka yang pertama yang menyatukan mereka secara tubuh dan jiwa. Pikir Raka.
Rasanya menyesakkan. Inikah yang namanya patah hati. Dia tidak bisa menahannya lebih lama.
"Intan, tidakkah kau merindukan aku sama seperti aku merindukanmu?" ucap lirih Raka. Tanpa terasa air mata menetes di pipinya. Ya, dia adalah manusia biasa yang tidak bisa menahan hati dan perasaannya sendiri untuk berjalan sesuai dengan apa yang dipikirkan atau inginkan. Dia ingin melupakan wanita itu namun hatinya selalu memanggil nama Intan.
Sebuah ketukan di pintu membuatnya terkejut. Dia lalu menyeka air matanya.
"Ya, masuk." Kenan lalu masuk ke dalam ruangan itu.
"Pak, setelah diinterogasi dan dilakukan sedikit penyiksaan akhirnya pria itu mengaku jika dia disuruh oleh seseorang namun dia tidak tahu siapa orang itu karena dalang itu selalu memerintahkan lewat panggilan handphone."
"Oh, Sial!"
"Ada berita lain juga Pak. Tuan Alberth dan Robin pergi dari ruangan interogasi itu dengan bantuan anak buahnya."
Raka langsung berdiri. Dia membuka laci meja kerjanya dan mengambil dua pistol dari sana, di selipkan di belakang tubuhnya.
"Jangan harap mereka bisa melarikan diri dariku!" ucap pria itu.