
"Telephon majikanmu," perintah Faira. Kesabarannya telah hilang jika menghadapi Evan.
"Tetapi ... ." Pria itu ragu namun Faira berkacak pinggang sembari menajamkan matanya ke arah pria itu. Pria itu lalu menuruti kemauan Faira dengan menelfon Evan.
"Sir, Madame Faira would like to speak to you."
Pria itu lalu menyerahkan handphone pada Faira setelah mendengar kata-kata Evan.
"Hentikan kegilaanmu dan pergilah jauh dari hidupku, jangan lagi berusaha untuk mendekatiku. Asal kau tahu aku sangat membencimu," teriak Faira kesal lalu membanting handphone itu membuat si pemilik membuka mulutnya lebar.
"Minta ganti pada Tuanmu!" Faira lalu pergi meninggalkan lokasi itu.
"Oh, ****! dia bahkan lebih menyeramkan dibanding dengan Tuan Evan."
Faira mulai menjalankan mobilnya lagi berharap tidak ada lagi orang suruhan Evan yang mengintai. Sesampainya di rumah Faira pergi ke kamarnya, mengambil koper besar dan memasukkan semua barang miliknya di sana. Dia lalu mengambil koper lain untuk barang-barang milik Ello.
Memesan tiga taksi untuk datang ke rumah. Dia lalu membawa koper itu keluar dari kamarnya. Cintya terkejut melihatnya. Sedangkan Ello langsung berlari ke arah Faira.
"Mom, kau mau kemana?" tanya Ello.
"Kita akan pergi, Sayang ke rumah Om Raka," jawab Faira.
"Jika ke tempat kakakmu mengapa harus membawa sebanyak ini. Bukankah rumahnya masih ada di sekitaran sini?"
"Aku harus pergi sekarang, aku tidak bisa menjelaskan semuanya padamu. Maaf Cintya," kata Faira.
"Apa kau punya masalah lagi dengan Ditya?"
"Mas Ditya dan aku baik-baik saja tidak ada masalah, hanya saja aku ada sedikit masalah yang membuatku harus pergi dari sini secepatnya."
"Bu, benar Anda memesan tiga taksi?" tanya seorang pelayan.
"Ya, benar. Panggilkan Yuni dan Ningsih kemari," ujar Faira. "Dan Mbok Nah," lanjutnya lagi.
Cintya semakin bingung melihat ulah Faira. Dia menyuruh para pelayan itu masuk ke dalam tiga taksi online itu. Sedangkan dia masuk ke dalam taksi yang ada Mbok Nah. Lalu meminta Ello untuk bersembunyi dan dia juga memakai penutup kepala seperti yang lainnya.
Faira lalu mendekat ke arah Ella dan menciumnya. "Sayang Maafkan Mom harus meninggalkanmu dan membawa Ello pergi tanpa membawamu. Kau bersama Ibu di rumah dan jaga dia dengan baik jangan membuat ibumu menangis, Okey!"
Ella menganggukkan kepalanya tetapi wajahnya terlihat sedang menahan tangis.
"Apakah kalian akan pergi lama?" tanya Ella keberatan.
"Semoga saja tidak agar kita dapat berkumpul kembali," kata Faira memeluk tubuh mungil Ella.
"Mom menyayangimu," kata Faira. Dia menciumi kepala Ella.
"Mengapa ini terasa seperti sebuah kalimat perpisahan!'' celetuk Cintya dengan mata merebak.
"Aku harap tidak dan aku tidak tahu bagaimana ke depannya nanti," kata Faira bangkit dan memeluk Cintya.
"Faira sebenarnya ada apa? Bukankah kita satu keluarga harus saling berbagi," kata Cintya.
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu tentang masalahku, namun ketahuilah jika aku sangat menyayangi kalian."
"Faira," lirih Cintya.
"Aku titip Mas Ditya selama aku pergi, jaga dia dengan baik." Faira lalu melihat ke arah Ella dan Ello yang saling bergenggaman tangan.
"Mom, aku ingin bersama Ella, ajak dia juga ya Mom," pinta Ello.
"Tidak bisa Sayang, nanti Ibumu akan merindukan Ella. Siapa yang akan menemani Ibu jika Ella ikut bersama kita," kata Faira. Lalu membawa Ello berjalan ke depan.
Dengan berat hati Ello melepaskan genggamannya sembari menatap Ella. Ella berjalan mengikuti Ello hingga sampai ke mobilnya.
"Besok aku akan kembali lagi kemari," kata Ello sebelum masuk ke dalam mobil.
Ella menangis melihat kepergian Ello. Ello lalu memeluk Ella.
"Aku menyayangimu," kata Ello mencium pipi Ella.
"Aku juga menyayangimu, aku pasti akan merindukanmu," kata Ella.
"Ayo, Ello," kata Faira yang telah masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Dengan berat hati Ello masuk ke dalam mobil. Ini kali pertama dia harus berpisah dari saudara sekaligus sahabatnya itu. Selama ini mereka berdua selalu pergi bersama dan terlihat akur.
Ella mengejar mobil Ello hingga hilang dibalik gerbang. Cintya memegang tubuh anaknya.
"Ibu, aku ingin bersama Ello," teriak Ella.
"Ello akan kembali lagi," kata Cintya memeluk tubuh Ella. Namun, jauh di dalam hatinya dia merasa jika mereka akan berpisah lama. Faira dan Ditya sama-sama menyembunyikan sesuatu yang tidak pernah dia ketahui selama ini. Terkadang dirinya bagai orang asing di rumah ini.
Sedangkan, Faira serta Ello bersembunyi di mobil dengan menundukkan tubuhnya. Dia bertanya pada sopir adakah yang mengejar mereka karena dia telah mengelabui anak buah Evan dengan memesan dua mobil lain. Mereka lalu mengambil jalan sendiri-sendiri.
Faira yakin jika mobilnya tidak akan diikuti karena sengaja membuka jendela mobil dan memperlihatkan Mbok Nah yang ada di mobil itu.
"Sepertinya tidak ada yang mengejar mobil kita Nyonya," kata sopir itu. Faira lalu memutuskan ke rumah Raka. Sedangkan Mbok Nah memutuskan kembali ke rumah Ditya.
"Ello, Faira," kata Raka yang berdiri di atas balkon kamarnya. Dia heran melihat adiknya sudah ada di ruang tamu.
"Siapa Raka?" tanya seorang wanita asing memegang bahu pria itu.
Faira memutar matanya dengan malas.
"Aku kekasihnya dan ini adalah anak kami," ujar Faira kesal. Lalu mengajak Ello naik ke atas.
"Kau pergi saja dari sini sekarang," usir Raka pada wanita itu.
"Raka?" panggil wanita itu dengan logat baratnya yang kental.
"Sorry, aku hanya ingin hubungan kita sampai di sini," lanjut Raka.
Faira dengan sebal melewati Raka dan wanita itu masuk ke dalam kamar khusus yang sering dia gunakan jika pergi kemari.
''Hai, Om," kata Ello mengepalkan tangan dan dua pria itu lalu bertos ria. Raka menggendong keponakannya ke atas bahu memasuki kamar Faira.
"Kau ada masalah dengan suamimu?" tanya Raka. Dia lalu menurunkan Ello dari punggungnya. Anak itu mulai bermain di kamar itu.
"Tidak!"
"Lalu?"
"Kau tahu pria itu telah mengikuti kemanapun dan aku butuh tempat berlindung yang baik," ujar Faira.
"Pria?"
"Ayah ... ," ucap Raka terhenti karena Faira menajamkan matanya.
"Siapa dia Faira? Aku ingin tahu wajahnya. Jika aku bertemu dengannya akan kupukul dia hingga habis."
"Kau benar, jika kau bertemu dengannya kau harus menghabisinya," kata Faira yang tahu jika Raka dan Evan bersahabat baik.
"Bukan hanya menghabisi aku akan mencincangnya sampai habis," imbuh Raka geram.
"Aku akan menagih janji itu suatu saat nanti," kata Faira.
"Lalu bagaimana dengan Ditya?" tanya Raka.
"Dia setuju jika aku menyembunyikan diri untuk sementara waktu."
Raka lalu duduk di sebelah Faira. "Ku pikir pria itu sebenarnya baik dengan tetap menerimamu walau kau sudah berselingkuh dengan seorang pria, dia juga menerima anakmu dengan baik tanpa membedakannya dengan anak kandung."
"Mas Ditya memang sangat baik. Jika tidak ada dia mungkin Ello tiada, dan jika bukan karenanya Ello tidak akan tahu bagaimana kasih sayang seorang Ayah," ujar Faira.
"Walau dia telah kumaki dan kuejek, dia tetap saja bersikap menghormatiku."
Faira menganggukkan kepalanya.
"Sayangnya dia mempunyai wanita lain lagi itu yang membuatku tidak senang pada hubungan kalian. Tetapi sejujurnya aku suka dengan perangainya," lanjut Raka.
"Berarti kau telah merestui hubungan kami?"
"Jika kau menemukan pria lain yang lebih baik aku memilih kau berpisah dari Ditya," jawab Raka membuat Faira membuka mulutnya.
"Bersembunyi di rumah kakak nampaknya bukan jalan terbaik."