
Raka di rawat di rumah sakit hampir dua Minggu lebih. Virus meningitis yang menyerangnya sangat berbahaya namun masih bisa diatasi. Intan selalu menjaga Raka dengan baik dan bersamanya selama dua puluh empat jam. Untung saja ada Faira yang mau merawat Laura selama dua Minggu ini jadi dia tidak bisa fokus pada diri Raka.
Kondisi Raka sudah berlangsung membaik. Begitu banyak tamu yang datang untuk melihat keadaan Raka dan semua di sambut oleh Intan dengan senyuman dan baik. Walau Intan sendiri dalam keadaan hati yang sedih dan pikiran yang kalut.
"Kau mau jeruk?" tanya Intan pada Raka.
Pria itu menggeleng sedikit sembari memberi isyarat dengan matanya. Intan melihat keringat di dahi Raka lalu dia segera menyekanya.
Raka memegang tangan Intan.
"Kau pasti lelah, tidurlah di sampingku, menemaniku," pinta Raka.
Intan lalu naik ke tempat tidur dan memeluk pinggang suaminya. Bersandar di bahunya.
"Yah, aku begitu takut ketika kau tidak membuka mata selama tiga hari kemarin," ujar Intan memasukkan jarinya ke dalam sela jari Raka dan menggenggamnya perlahan.
"Aku sudah pasrah kemarin. Aku rela karena kau dan Laura sudah berada di sisiku, setelah beberapa tahun lamanya aku mencari kalian. Aku tidak akan mati penasaran lagi nantinya."
"Kalau begitu kau ingin membuatku janda," ujar Intan menangis.
Satu tangan Raka memegang kepala Intan tanpa menggerakkan tubuhnya. "Aku tidak ingin hanya saja jika takdir itu terjadi, aku bisa apa hanya bisa menerimanya dengan pasrah."
"Aku tidak rela jika kau meninggalkanku setelah kita baru saja bertemu, itu tidak adil untukku."
"Kenapa tidak rela kau bisa mencari suami lagi yang baik, kaya, tampan melebihi aku," ledek Raka.
Intan mencubit pinggang Raka.
"Kau menganiaya orang yang sedang tidak berdaya, jika tidak aku sudah memakanmu habis," ujarnya.
"Benar?"
"Hmmm, aku lebih suka melihatmu marah daripada sakit seperti ini," ungkap Intan.
"Andai aku lumpuh apa kau akan tetap berada di sisiku?" tanya Raka.
"Aku tidak perlu mengatakan ya atau tidak. Kau tahu mengapa? Karena cinta butuh bukti bukan kata-kata."
"Apa kau mencintaiku Intan? Kau belum pernah mengatakannya," kata Raka penuh harap.
"Apa harus dikatakan? Sedangkan apa yang kulakukan itu semua untukmu," jawab Intan.
"Harus karena hal itu bisa membuat semangat hidupku bangkit dan membuatku percaya diri bahwa hati dan jiwamu hanya milikku bukan hanya tubuhmu saja."
Intan lalu menghadap Raka. "Aku mencintaimu dengan segenap hati dan jiwaku. Aku adalah bagian dari dirimu jadi bagaimana bisa aku pergi darimu karena kau pasti kehilangan dan aku merasa hilang." Intan lalu mencium bibir pria itu, dalam dan penuh penghayatan. Raka menerimanya dengan hati yang berbunga-bunga.
Tiba-tiba tanpa mereka sadari pintu ruang rawat itu terbuka.
"Ya, Tuhan Nduk," teriak ibu Intan sembari menutup wajahnya
"Nduk Kowe lagi ngapa kiye rumah sakit bukan kamar, ngisinake Bae," seru ayah Intan menggelengkan kepalanya. Pak Ardianto hanya tersenyum geli saja melihat kelakukan anak dan menantunya itu.
Intan membulatkan matanya lebar beserta Raka. Pasangan itu segera mengakhiri kegiatan panas mereka dan melihat ke belakang.
"Pak e Mak e," pekik Intan senang lalu turun dari tempat tidur dengan cepat, memeluk kedua orang tuanya.