Affair (Faira)

Affair (Faira)
Cemburu



"Ayah sudah lelah dengan semua tingkahmu tetapi ayah yakin jika suatu saat kau akan menyesali segalanya!" ucap Radit jengkel dia lalu bangkit dari tempat duduknya.


"Ayah malu telah menikahkan mu dengan putraku. Namun, Ayah tidak menyesalinya karena Ayah mendapatkan menantu sebaik dirimu. Kau sudah kuanggap sebagai putriku sendiri jadi jangan sungkan jika kau mau berbagi kesulitan dan kesedihanmu. Dan biarkan anak tidak tahu diuntung itu menjalani hidupnya sendiri. Dia merasa hebat sehingga tidak pernah membutuhkanmu sebagai istrinya. Serta tidak mendengarkan kami selaku orang tuanya," ujar Radit kecewa tanpa mau melihat ke arah Ditya.


Perkataan Radit terasa menohok hati Ditya kini posisinya seperti tidak dianggap di keluarganya. Semua itu karena Faira, dia yang merencanakan ini semua, dia yang ingin hidupnya hancur, baik percintaan, karir dan kini hidup sebagai anak dari Radit dan Tri juga dihancurkan lagi olehnya.


"Jika aku hancur kau pun harus ikut hancur," batin Radit jengkel memandangi Faira yang dipeluk oleh kedua orang tuanya.


"Aku akan mengantar Ayah dan Ibu," kata Faira keluar bersama kedua orang tua Ditya. Ditya hanya diam melihat kepergian tiga orang itu hingga hilang dibalik pintu.


"Maaf, karena aku," Cintya tidak meneruskan kata-katanya karena Radit memeluk kepala wanita itu ke dadanya.


"Bukan kau yang salah di sini. Kau hanya datang di saat yang tidak tepat." Cintya lalu tersenyum tenang. Dia kira Ditya akan menuruti perkataan orang tuanya dan meninggalkan dia lagi. Biarlah dia egois kali ini. Dia ingin menjadi milik Ditya, pria yang sebelumnya telah bertanya selama beberapa tahun. Hidup jauh dari pria itu selama satu tahun ini membuatnya menderita dan dia tidak ingin mengulanginya lagi.


Bagi Cintya, Ditya adalah nafas hidup, tanpanya hidupnya seperti tidak punya semangat lagi.


"Aku harus segera berkemas untuk mengantarmu pulang ke rumah," ujar Cintya.


"Apakah kau akan pergi dari sana setelah aku kembali? Aku mohon tetaplah di sisiku," pinta Ditya. Dia ingin memberi pelajaran pada Faira yang telah merencanakan ini semua.


Cintya melihat ke arah Ditya dan menyungging seulas senyuman. Dia lalu menganggukkan kepalanya.


"Apakah kau sudah siap untuk pulang?' tanya Faira.


"Tinggal memasukkan barang-barang itu, yang lainnya sudah aku kemas," jawab Cintya.


"Kalian keluar dulu saja biar barang itu aku yang bawakan. Aku tidak bawa sopir kemari," ujar Faira.


"Baiklah, itu ide yang bagus." Jawaban Ditya terasa menusuk hati Faira. Dia terlihat senang pergi bersama Cintya tanpa merasa sedikitpun kasihan kepadanya.


Ditya lalu turun dari tempat tidur dibantu Cintya dan duduk di kursi roda. Mereka terlihat seperti pasangan yang serasi. Batin Faira. Dia cemburu tentu saja.


"Kami pergi dulu Faira," ucap lemah Cintya. Faira hanya menganggukkan kepalanya. Mereka lalu keluar dari kamar itu tanpa melihat ke arah Faira lagi.


Faira menengadah dan menahan air matanya. Dia menghembuskan nafas keras mencoba mengurangi beban di hatinya.


"Sedikit lagi Faira kau pasti bisa dan kuat. Setelah ini kau tidak akan pernah merasakan sakitnya hidup bersama Ditya," ucapnya sendiri.


Faira membereskan barang-barang Ditya. Di sana dia menemukan kotak bekas wadah alat kontrasepsi pria. Faira menghela nafas panjang.


Sebegitu rindu kah mereka hingga tidak bisa menahan diri hingga Ditya sembuh. Kesal, marah, jengkel dan jijik bercampur jadi satu.