
Semalaman Intan menahan lapar hingga dia tertidur. Pria itu telah membuat malamnya merasa tersiksa karena perut yang melilit. Dia harus mencari makanan lagi di kulkas. Untung saja ada beberapa camilan dan pisang yang bisa mengganjal perutnya.
Intan langsung turun ke bawah untuk sarapan pagi. Di sana ada tantenya yang sudah menyiapkan dua tangkup roti bakar dengan selai kacang kesukaannya.
"Kau buat kopi atau susu sendiri ya, Tante ada pertemuan dengan klien pagi ini. Jadi harus pergi lebih dini."
Intan menganggukan kepalanya. "Oh ya, kalau habis makan bawa masuk ke dalam gelas dan piringnya jangan tinggal di luar," kata Tante Hana. "Tante baru ambil dan piring gelasnya tapi belum Tante cuci. Itu masih di wastafel."
Intan membuka mulutnya membentuk huruf O. Jadi makanannya juga dicuri oleh pria itu? Dasar menyebalkan.
"Oh, ya satu lagi. Jika kau mau keluar rumah kunci pintunya dan letakkan kuncinya di bawah pot bunga dekat pintu. Sepertinya tante akan pulang malam."
"Memang Mbak Sri tidak datang hari ini Tante?" tanya Intan.
"Tidak, dia datang dua hari sekali untuk membersihkan rumah selebihnya kita sendiri yang melakukannya," terang Tante Hana.
Intan menganggukkan kepalanya. Selama ini dia tahunya asisten rumah tangga itu akan datang setiap hari dan pulang sore hari. Ternyata tidak.
"Tante aku keluar dari pekerjaanku. Jika ada lowongan pekerjaan baru ditempat Tante aku diberi tahu," kata Intan membuat Hana membuka mulutnya lebar.
"Kenapa kau keluar dari sana? Bukankah kau sudah lama bekerja di sana dan jadi karyawan tetap. Sepertinya kau baru saja bilang jika direkomendasikan naik jabatan," tanya Tante Hana bertubi sembari menyandarkan tubuh di meja dengan satu tangan lain berada di pinggang.
"Aku tidak suka dengan bos baruku, dia pria genit yang suka pada sekretarisnya lalu membuang mereka seperti sampah," terang Intan.
"Memang banyak bos seperti itu, kau harus berhati-hati jika ingin selamat," kata Tante Hana yang sudah lama menjadi karyawati sebuah bank terkenal. Almarhum suaminya dulu adalah seorang petinggi perusahaan BUMN jadi dia menjadi orang berada dibanding dengan ayahnya yang masih menjadi petani biasa di desa.
Intan menganggukkan kepalanya.
"Apa kau sudah memberitahukan pembatalan pernikahanmu pada bapak dan mamakmu di desa?" Intan menggelengkan kepalanya.
"Kau harus memberi tahu mereka secepatnya."
Tante Hana lalu berpamitan pergi bekerja. Sedangkan Intan larut dengan pekerjaan rumah setelah makan roti panggang buatan Tante Hana.
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah. Intan lalu pergi ke kamar mandi untuk melakukan perawatan bagi tubuhnya. Memanjakan diri untuk melupakan sejenak penat hidupnya dengan memakai lulur dan masker.
Dia melepas semua pakaiannya dan mulai meluluri tubuh dengan ramuan tradisional yang ada dia beli kemarin. Dia lalu mengusap masker di wajahnya sekalian.
"Kurang mentimun, aku lupa mengambilnya di dapur."
Intan lalu memakai handuk putih dan berjalan keluar dari kamar mandi menuju ke dapur untuk mengambil mentimun.
Di saat yang sama Raka sedang kebingungan karena depan rumahnya di serbu oleh wartawan yang ingin mencari berita tentang dirinya. Cindy telah mengupload video mereka yang sedang berpelukan tanpa penutup bagian atas di laman publik. Walau hanya terlihat separuh badan dan punggungnya namun wajahnya sempat terlihat sekilas dan itu menjadi konsumsi masyarakat luas. Nama baik dirinya terutama ayahnya dipertaruhkan.
"Raka, ayah menunggumu di rumah satu jam lagi!" panggil Ardianto lewat sambungan telepon.
Para pengawalnya tidak tahu bagaimana caranya bisa mengeluarkan Tuannya Raka dari dalam rumah ini. Haruskah mobil mereka menerobos rombongan para wartawan itu?
Di saat para pengawalnya kehabisan akal. Raka diam-diam melewati pagar pembatas rumahnya dan rumah Tante Hana lalu turun ke bawah. Dia terkejut ketika melihat wartawan yang duduk di sekitar halaman rumah Hana.
"Jangan berteriak! Ada banyak wartawan yang mengejarku," kata Raka sembari menengok pintu yang terbuat dari kaca. Intan menganggukkan kepalanya mengerti.
"Jangan pegang-pegang dan untuk apa kau malah lari kesini," Intan menyingkirkan tangan Raka dari dekatnya tetapi Raka berniat membekap mulutnya lagi agar tidak bersuara. Hingga tanpa disadari simpul handuk terlepas dan handuk melorot dengan sempurna memperlihatkan tubuh Intan yang hanya mengenakan dalaman dan berwarna kuning keemasan karena penuh lulur di sekujur tubuh.
Intan lalu menutup mata Raka dengan tangannya sembari mencari handuk dengan tangan yang lain.
"Tutup matamu aku mau memakai handuk." Raka lalu menutup matanya walau sedikit mengintip melihat bentuk tubuh Intan yang memunggunginya. Untung saja dia memakai masker berwarna hitam, kalau tidak kulit wajahnya sudah berubah memerah saat ini.
"Kenapa aku selalu sial jika bertemu denganmu?" rutuk Intan sembari mengikat handuk di tubuhnya. Dia lalu menghadap Raja lagi.
"Tahan omelanmu sampai wartawan itu pergi dari sini. Aku sementara akan bersembunyi di rumah ini sampai mobil menjemputku pergi."
Kedua tangan Raka ditangkap di dada. "Kumohon, aku akan membalas kebaikanmu nanti."
"Kau janji," tunjuk Intan pada Raka. Pria itu menganggukkan kepalanya.
Seorang wartawan terlihat sedang mengintip melalui pintu dari kaca. Raka lalu bersembunyi di balik lemari pendingin.
Intan lalu berjalan ke pintu dan membukanya. Untung saja wartawan itu wanita sehingga dia tidak merasa malu dengan penampilannya. Intan melongok keluar.
"Ada apa berada di halaman rumahku," tanya Intan galak.
"Kami sedang mencari berita tentang Raka anak Anggota DPR Ardianto."
"Rumahnya ada di sebelah sana bukan di sini, kenapa kau malah mengintai rumah ini?" tanya Intan.
"Maaf tetapi aku kira dia seperti masuk kemari?" kata wartawan itu sembari melongok ke belakang Intan.
"Kau ingin membuat fitnah? Aku sendiri di rumah ini," ujar Intan. "Sekarang pergi dari rumahku sekarang juga atau aku tuntut tempatmu bekerja karena melakukan tindakan tidak menyenangkan dengan masuk ke rumah orang tanpa ijin!"
"Maaf Nona," kata wartawan itu melangkah pergi.
"Dasar mengganggu ketenangan orang saja!" omel Intan sembari menutup kembali pintu itu setelah memastikan wartawan itu meninggalkan tempat ini.
Raka keluar dari tempat persembunyiannya. Dia lalu melihat sepotong roti di atas meja dan memakannya.
"Itu milikku," kata Intan merebut roti dari tangan Raka. Dia tidak terima makanan yang sengaja dia sisakan untuk nanti, dimakan pria itu lagi, seperti nasi gorengnya semalam.
Intan menggigit roti itu tetapi Raka merebutnya kembali. "Kau itu datang tanpa permisi mencuri makananku."
Intan lalu berjalan kembali ke kamarnya. Raka mengikuti wanita itu sembari memakan rotinya.
"Jadi ini rumahmu? Kok aku tidak tahu jika mempunyai tetangga semanis dirimu?"
"Kau bisa pergi sekarang! Aku mau mandi membersihkan diri!" Intan lalu masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu itu.
"Huft!" Intan merasa kesal sekali pada pria itu. Dia sudah melemparkan rasa malunya jauh-jauh tadi karena hanya memakai handuk di depan seorang pria.