Affair (Faira)

Affair (Faira)
Konspirasi



Akhirnya Faira dan Ello pergi ke kantor Evan. Dia menggunakan dress berlengan pendek, panjang selutut, dengan model sesuai dengan bentuk tubuh berwarna Salem sangat serasi dengan kulit tubuhnya yang putih bersih seperti pualam.


Rambutnya dia gelung ke atas, rapih. Dia memakai riasan yang tidak tebal namun terpancar aura kecantikan dan keanggunan yang keluar dari tubuhnya. Setiap langkahnya yang berada di sebelah Evan membuat mata menatap kearahnya sembari berbisik pada yang lain. Mungkin mereka menilai apakah dia layak berdampingan dengan pria itu atau tidak.


Ello sendiri digendong oleh ayahnya. Wajah mereka saling berdekatan sehingga kemiripan pada ayah dan anak itu, jelas nampak oleh semua yang memandang. Mereka bisa menebak jika Ello adalah anak dari Evan. Haruskah Faira berbangga hati dengan kenyataan ini.


"Wow, kantor Om besar sekali?" kata Ello ketika masuk ke dalam gedung.


"Ini juga akan menjadi milikmu suatu hari nanti," jawab Evan.


"Milikku?"


"Ya, yang jadi milik dad ... Om akan menjadi milikmu juga," jawab Evan.


Faira melirik ke arah Evan. Pria itu pun melakukan hal yang sama dan tersenyum pada Faira. Satu tangannya lain dia sematkan di bahu wanita itu, mengajaknya masuk ke dalam lift.


Ketika berada di dalam lift Faira segera melepaskan tangan Evan dan menatapnya tidak senang.


Sedangkan Kendrick menutup mulutnya rapat tanpa ingin mencampuri urusan keduanya. Dia berharap semoga kisruh keluarga Evan segera cepat selesai.


Setelah keluar dari lift, mereka melewati beberapa pegawai yang berdiri di depan meja kerja mereka memberi hormat. Evan hanya menganggukkan kepalanya.


Semua yang dalam ruangan di atas sini berambut pirang, atau ini hanya kebetulan semata? Faira tidak tahu.


Seorang wanita berambut pirang dengan tinggi yang semampai dan tubuh bak model papan atas dengan memakai baju kerja berwarna putih dan celana panjang berwarna senada menghampiri mereka. Dari kejauhan dia nampak seperti Barbie dalam cerita animasi. Sangat cantik.


"Selamat siang Tuan Winston, saya kira Anda masih berlibur pada hari ini.''


"Tidak, saya akan berkerja hingga sore hari saja," kata Evan. "Ambilkan beberapa berkas penting untuk saya tandatangani."


"Baik Tuan tetapi saya punya informasi jika hari ini Tuan Xie datang pada rapat yang Tuan Robin adakan bersama para direksi."


"Karena itu saya datang." Sekretaris Evan lalu melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Rapat mungkin sudah berlangsung selama sepuluh menit yang lalu," kata sekretaris itu.


"Aku akan mengajak istri dan anakku ke dalam ruangan terlebih dahulu kau layani mereka dengan baik," kata Evan. Faira membulatkan matanya lebar lalu menatap tajam ke arah pria itu. Sedangkan Evan tetap cuek dengan semua kebohongannya.


"Oh, selamat Tuan. Saya tidak tahu jika Anda telah menikah."


"Anak Anda tampan, sangat mirip dengan Anda." Ello yang tidak tahu bahasa asing hanya diam saja, tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh sekretaris Evan. Dia hanya menepis ketika tangan sekretaris itu menyentuh pipinya.


"Dia sangat memilih, jika bertemu dengan orang asing."


"Saya mengerti."


Sedangkan Kendrick yang berdiri di belakang Evan, hanya menahan tawanya melihat wajah Faira yang memerah menahan amarah.


Mereka lalu masuk ke dalam ruangan Evan dan mempersilahkan Faira duduk di sofa lalu menurunkan Ello di sofa berwarna coklat tua seperti bercorak seperti warna kayu jati.


Faira bukannya duduk malah mengelilingi ruang kerja Evan yang sangat luas. Separuh lebih ruangan itu dikelilingi oleh jendela kaca. Ada sebuah meja kerja dengan kursi kebesaran dan satu kursi lain yang bersebrangan.


Lantai itu berwarna hitam pekat, mengkilat, terbuat dari marmer berkualitas tinggi. Di beberapa sudut dinding terpasang beberapa lukisan tua. Faira pernah melihatnya di berita media on line tidak mengira jika Evan memilikinya.


"Strom on the sea of galilie," lanjutnya sembari menyentuh bingkai lukisan itu dengan penuh kekaguman. Dia adalah penulis yang mencintai setiap seni yang ada.


"Kau tahu siapa pelukisnya?" tanya Evan menguji Faira.


"Rembrandt Harmenszoon van Rijn lahir pada tahun 15 Juli 1606  dan meninggal pada tahun 4 Oktober 1669 adalah pelukis Belanda yang merupakan salah satu pelukis terbesar dalam sejarah seni Eropa. Rembrandt dikenal dengan keahliannya memanipulasi ekspos cahaya terhadap objek sehingga memberikan efek tertentu di dalam lukisan," jawab Faira.


"Aku tidak mengira jika kau juga pecinta dunia seni?"


"Aku seniman tulis," lanjut Faira.


"Aku menyimpan bukumu di laci itu," kata Evan memperlihatkan sebuah lemari kaca yang di dalamnya terdapat deretan buku-buku novel karya Faira yang sudah dicetak.


Faira melihat ke arah Evan sembari mengigit bibirnya karena senang. Dia tidak menyangka Evan sampai melakukan hal ini. Timbul rasa hangat yang menjalar di dada Faira.


"Tuan kita harus bergerak cepat," ingat Kendrick membuat momen romantis ini berubah menjadi tegang seketika.


Evan menarik nafas. Dia lalu mendekati Faira.


"Doakan aku agar bisa melalui semua ini," pinta Evan tulus. Faira mengangguk, serta merta Evan menarik kepala Faira dan mencium dahinya. Membuat Ello membuka matanya lebar karena tidak suka namun Evan mendekat ke arah Ello.


"Sayang, Om tinggal dulu sebentar untuk rapat kau jaga Mok dengan baik ya, jika butuh sesuatu apapun itu katakan saja pada nona cantik itu," Evan mencium kening Ello dan melangkah keluar ruangan tanpa sempat mendengar Ello berbicara.


"Apakah dia Barbie, Mom?" tunjuk Ello pada sekretaris Evan. Sekretaris itu seperti mengerti apa yang dikatakan Ello hanya bisa tersenyum saja.


"Siapa namanya. Miss ... ?" tunjuk Sekretaris Evan pada Ello.


"Panggil saja Faira."


"Nyonya Faira siapa nama anak Anda?"


"Marcello kami biasa memanggilnya Ello," jawab Faira. "Siapa nama Nona," tanya Faira.


"Nama saya Hana, saya sekretaris Bapak lebih dari tiga tahun yang lalu. Senang berkenalan dengan Anda Nyonya. Saya tidak mengira jika Tuan Evan punya seorang putra dan sudah menikah dengan Anda saya tahunya Tuan hanya memiliki tunangan bernama Nona Xie Mei Lin."


"Nona Lin kamu sudah bertemu sebelum ini," kata Faira.


"Berapa lama mereka bertunangan?" tanya Faira.


"Tuan Evan dengan Nona Lin?" Faira menganggukkan kepalanya. "Dua tahun ini karena desakan dari kakeknya agar Tuan bisa kuat dalam pemilihan kepemimpinan perusahaan ini dan diangkat menjadi Chairman."


"Oh, berarti kedatanganku mengancam posisi Evan di sini." Batin Faira.


"Evan pun bertunangan dengan Lin bukan karena cinta tidak seperti yang kubayangkan."


"Lalu rapat apa yang sedang dihadiri oleh Evan?" tanya Faira.


Hana terlihat sungkan untuk menjawabnya. Dia seperti sedang memilih kata yang tepat.


"Ada konspirasi untuk menggeser kepemimpinan Tuan Evan dan itu dilakukan oleh Tuan Albert sendiri, Ayah Tuan Evan."


"Seorang ayah ingin menjatuhkan anaknya, ada apa ini?" batin Faira