
"Ya Alloh, Nang, kenapa kamu sampai seperti ini?" kata Noto mendekati menantunya itu.
"Hanya sedikit lelah, mungkin Tuhan sedang ingin agar aku istirahat total," jawab Raka tenang.
"Tidak, Pak, dia sakit parah, dia sampai tidak sadarkan diri tiga hari kemarin," ujar Intan menangis memeluk ibunya. Dia ingin mencurahkan perasaannya.
"Mbok Ya, lekas sembuh dan adakan pesta pernikahan. Jadi Mas Raka yang gagah, yang selalu membuat orang berdecak kagum."
"Amin, Pak," kata Raka.
"Bapak itu terkejut, lagi di sawah di samperin tiga orang berpakaian hitam-hitam tinggi besar. Orang kita bapak mau diculik apa ditangkap polisi berpakaian bebas. Ternyata itu suruhan dari Pak Besan yang ingin agar Bapak segera kesini karena anak Bapak yang bandel ini sudah pulang kembali pada suaminya."
"Mak' e sampai gemetaran lho Nduk, waktu Bapak dibawa orang tidak dikenal," imbuh ibu Intan. "Baru bisa tenang ketika mendapat telepon Bapak mertuamu ini."
Semua orang tersenyum mendengar logat bapak dan ibu Intan yang medok khas orang Banyumas. Mereka berdua terlihat apaadanya
"Bapak sampai di sini kapan?" tanya Raka.
"Tadi malam dan itupun belum tahu jika Nak Raka sedang sakit. Bapak tahunya jika akan dipertemukan dengan Intan dan anak kalian."
"Kau itu, apa yang ada dipikiranmu Nduk sampai meninggalkan suamimu dan membesarkan anak seorang diri," kata Noto menjewer telinga putrinya kesal. Lebih banyak malu pada keluarga Raka yang telah menerima putrinya dengan baik dan masih menjalin hubungan baik walau Intan pergi lama.
"Aku yang salah Pak, jangan memarahinya. Dia tidak akan pergi jika tanpa sebab," kata Raka menatap Intan. Dia tidak ingin Intan yang sedang tertekan karena melihatnya sakit harus sedih karena kemarahan orang tuanya.
"Nak Raka ini selalu membela Intan," kata Noto, dalam hatinya dia bersyukur Intan memperoleh suami yang baik.
"Dia adalah istri saya sudah tanggung jawab saya untuk melindunginya. Semua yang terjadi pada keluarga kami itu murni karena kesalahan dan kelalaian saya sebagai pria dan sebagai suami. Tidak seharusnya saya bertindak yang akan memancing terjadinya masalah dalam rumah tangga kami."
"Aku yang salah," ujar Intan.
"Tidak, jika aku menjadi suami yang baik untukmu kau tidak akan pernah pergi dariku," ucap Raka.
"Lah karena mereka berdua sudah saling menyadari kesalahan masing-masing kita sebagai orang tua hanya mengikuti apa kata anak. Jika kalian tetap ingin bersama maka resmikan hubungan kalian secepatnya. Hal itu akan terlaksana jika Nak Raka sudah sembuh dan sehat bugar kembali," kata Pak Noto.
"Betul, kita juga menantikan hal itu, Pak," sela Ardianto.
"Minta doanya saja, Pak dan Ibu," kata Raka sopan tanpa menggerakkan tubuhnya. Namun tangannya di satukan di dada.
"Ya Wis, sebaiknya kita pulang dulu. Biar Nak Raka bisa istirahat kembali. Intan jaga suamimu baik-baik."
"Lho Kok Pak e sama Mak mau cepat-cepat pergi?"
"Takut mengganggu," ujar Pak Noto.
"Mengganggu apa Sih Pak" kata Intan malu.
"Ganggu bikin anak keduamu," celetuk Pak Noto membuat wajah Intan makin memerah sedangkan yang lain hanya tersenyum geli.
"Jaga baik-baik suamimu Nduk, urus dia dengan hatimu dan jangan menggerutu. Ini sudah kewajibanmu dengan hati yang ikhlas. Insya Allah semua nanti akan diberi kemudahan dan pertolongan."
"Amin Pak e," kata Intan.