Affair (Faira)

Affair (Faira)
Kejutan menyenangkan



'Pernikahan' kata itu terus terngiang dalam benak Faira selama dia dirias oleh bibi Marry. Ini pernikahan keduanya, memikirkan ini membuat hatinya semakin berdegub kencang.


Kebimbangan menggelayut dalam pikirannya, kegagalan dalam pernikahan sebelumnya masih membayangi. Dia ingin mundur namun sudah terlanjur masuk ke dalam arus cinta Evan, ingin maju namun takut dikecewakan.


Ello sendiri terlihat cuek dan tidak peduli dengan hal ini. Dia masuk ke kamar Faira namun diam saja, hanya mengambil handphone wanita itu.


Faira belum bertanya pada Ello tentang hal ini karena tidak ingin membuat anak itu bertanya lebih banyak. Mengapa dia menikah dengan Evan. Lalu bagaimana dengan Ayahnya, Ditya? Dan pertanyaan lain yang akan memusingkan kepala Faira.


"Sudah," bibi Marry setelah selesai merias wajah Faira. Dia memegang dagu wanita itu dan mengangkatnya. "Kau cantik sekali, Sayang."


Faira yang sedari tadi melamun tidak sadar jika dirinya telah selesai dirias. Dia terkejut melihat pantulan di depannya. Bibi Marry pandai sekali merubah wajahnya, dia terlihat lebih cantik dan dewasa. Tetapi, tidak terlihat berlebihan dan norak sangat natural tetapi elegan.


Bibi Marry lalu mengambil sebuah kotak perhiasan dari tas yang dia letakkan di atas meja kamar.


"Ini dari Evan," ucapnya menyerahkan kotak perhiasan itu.


"Ini buat aku?" tanya Faira


"Salah satu dari banyak hadiah yang Evan siapkan untukmu," bisik Bibi Marry di telinga Faira.


"Banyak hadiah?" gumam Faira tersenyum kecil membayangkan hal apa lagi yang akan pria itu berikan padanya. Ini saja membuatnya terkejut setengah mati.


Dengan hati yang berdebar Faira membuka kotak perhiasan berwarna biru tua. Mulutnya terbuka lebar tatkala melihat satu set perhiasan dengan tebaran berlian biru.


''Ini?" Faira tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ini terlalu mewah dan indah.


"Boleh kubantu memakaikannya?" tanya Bibi Marry. Faira menganggukkan kepalanya.


Bibi Marry mulai memasangkan kalung di leher jenjang wanita itu, anting di kedua telinganya dan gelang di tangan Faira sebelah kanan.


"Kau terlihat bersinar seperti berlian ini."


Bibi Marry lalu menarik tangan Faira agar bangkit dan berjalan keluar.



Sedangkan di ruang bawah Evan sudah tidak sabar menunggu kedatangan Faira. Dia menatap ke atas ketika mendengar suara derap langkah kaki yang mendekati anak tangga. Dengan hati yang berdegub kencang Evan menunggu wanita itu terlihat keluar.


Kaki jenjang Faira mulai terlihat dan naik keatas ketika dia mulai menuruni anak tangga. Evan lalu mendekati anak tangga tapi tangannya di cegah oleh Raka yang sudah ada di sana bersama dengan Ardianto.


Mata Evan tidak berkedip sedikit pun melihat penampilan Faira. Mulutnya terbuka sedikit dan menahan nafasnya untuk sesaat. Calon pengantinnya sudah ada di depan matanya. Faira seperti sebuah bunga Magnolia yang baru mekar sangat indah.


Simpulan indah jelas terlihat di bibir Evan tatkala mata Faira dan Evan bertemu. Hampir saja dia mengatakan sesuatu tetapi Faira malah berlari sembari meneteskan air mata.


Evan bersiap untuk memeluknya namun pengantinnya malah melewati begitu saja. Faira pergi ke arah ayahnya dan langsung memeluk tubuh pria itu.


"Ayah kau kemari?" seru Faira mendekap tubuh Ardianto erat. Inikah maksud dari Bibi Marry jika Evan punya hadiah lain yang membuatnya terkejut. Kehadiran keluarganya.


Bagaimana bisa Evan membawa Raka dan Ayahnya kemari? Faira harus mencari penjelasan nanti mengenai hal ini, batin Faira. Evan harus menerangkan semuanya nanti malam.


"Bagaimana bisa aku tidak menghadiri pernikahan putri kesayanganku," ucap Ardianto tersenyum lepas. Kata Faira mencari sosok Mak Lampir yang selalu bergelayut di lengan ayahnya. "Tidak ada syukurlah," batin Faira.


"Aku ingin sekali menghajar mempelaimu itu karena telah menculik putriku tanpa ijin dariku. Lebih parah anak buahnya datang dan memaksaku menghadiri pernikahan ini! Dia benar-benar lupa siapa diriku," geram Ardianto melihat ke arah Evan yang menundukkan kepala sembari tersenyum. Dia tidak mungkin melawan calon mertuanya.


"Ya kau benar putriku ini memang labil anaknya," jawab Ardianto. "Tetap saja setelah ini aku akan memukul wajahmu karena telah membuat hidup Faira menderita selama ini."


"Maaf Sir, jika saja saya tahu dari awal jika Faira hamil anakku tidak akan mungkin saya membiarkannya menderita terlalu lama," terang Evan.


"Kakak aku tidak menyangka jika kau juga akan kemari," ujar Faira pada Raka.


"Aku hanya ingin menyaksikan senyuman di wajah adikku tatkala dia memilih untuk mendapatkan kebahagiaannya dengan cara menikah dengan pangeran pujaan hati. Andai saja kakak tahu lama pasti hal yang lalu tidak akan terjadi," sesak Raka.


"Sudah jangan dibahas lagi."


"Sepertinya masih ada yang kurang," kata Evan mencari keberadaan kakeknya yang tadi telah siap dengan pakaian suit lengkap.


"Apakah kalian telah siap?" tanya Antonio tiba-tiba dari arah kamarnya. Semua orang ditempat itu menatap Antonio dengan terkejut.


Pria itu memakai stelan jas lengkap hanya saja dia hanya memakai celana kolor untuk bagian bawah tubuhnya.


"Ayah," lirih Bibi Marry malu.


"Ada apa?" tanya Antonio tidak mengerti mengapa semua orang melihat ke arahnya.


"Maaf Ayah mengalami Alzheimer dan sifat pelupanya bisa kambuh sewaktu-waktu," terang bibi Marry.


"Oh," ucap semua orang.


"Tidak apa-apa kami bisa memahaminya." ucap bijak Ardianto.


"Ayo kita pergi," kata Antonio mendahului semuanya.


"Kakek, kau belum memakai celana. Bagaimana jika aku bantu memakaikannya terlebih dahulu," kata Evan sopan.


Antonio melihat ke bawah tubuhnya. "Memang apa yang salah dengan pakaianku, ini bagus dan menarik tidak membosankan . Aku suka corak bunga dari celana ini."


Evan ingin menjawab sesuatu tetapi tangan Faira memegang tangan Evan. Evan menoleh ke arah Faira yang sedang menggelengkan kepalanya.


"Kakek sudah tua jadi kita yang harus memahaminya asal itu masih dalam batas kewajaran. Biarkan Kakekmu merasa bahagia dengan mengekspresikan apa yang dia mau," lanjut Faira.


"Cobalah mengerti dia buka dia yang mengerti dirimu," imbuh Faira lagi membuat Evan tersenyum. Pria itu lalu melepaskan genggaman tangan Faira di lengannya.


"Mari Kakek," kata Evan menuntun Kakeknya. Sedangkan, Antonio menuruti seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh ibunya. Dia tersenyum cerah dan melihat ke arah Evan.


"Apakah hari ini kita akan ke pesta, Evan?" tanya Antonio yang sedang kambuh sifat pelupanya.


"Ya, kita akan melakukan pesta pernikahan," bisik Evan.


"Pesta aku suka itu," ucap Antonio bersemangat.


Bibi Marry yang baru saja mengambil celana Antonio di buat terharu oleh tingkah Evan. Semoga setelah ini hanya ada kebahagiaan semata.


"Ello. Ayuk," ajak Faira pada Ello.


"Kita mau kemana, Mom?" tanya Ello melihat semua orang memakai pakaian resmi dan dia juga harus memakai jas kecil yang terasa tidak nyaman.