Affair (Faira)

Affair (Faira)
Racun Cinta



"Aku hanya takut sesuatu yang buruk terjadi lagi padanya. Sudah dua kali dia masuk rumah sakit. Pertama karena siksaan yang diberikan oleh ayahnya hingga menyebabkan dia kritis dan harus dilarikan ke rumah sakit," Antonio menghela nafasnya mengenang masa itu.


Waktu itu umur Evan masih sangat muda. Antonio yang datang untuk berkunjung ke apartemen milik Albert dibuat terkejut ketika melihat Evan terbaring lemah tidak berdaya di atas pembaringan. Pelayan yang berjaga mengatakan bahwa Evan habis dimarahi oleh Albert dan di pukul. Seketika Antonio langsung membawa Evan pergi ke rumah sakit dan membawanya ke rumahnya dalam pengawasan penuh bibi Marry.


Antonio berharap ketika Evan bersama Albert, pria itu akan menyayangi darah dagingnya. Nyatanya, yang dia dapatkan berbeda. Faktanya kebencian Albert pada ibu Evan membuat pria itu gelap mata dan menjadikan Evan sebagai pelampiasan kemarahannya.


Yang kedua kalinya saat Evan diserang sekawanan orang di Indonesia," ucap pria itu terhenti ketika mendengar suara Evan.


"Kakek, jangan teruskan. Yang penting saat ini baik-baik saja dan selamat," ucap Evan duduk di sebelah Faira dan mengambil teh yang ada di meja.


"Kau benar, melihatmu datang bersama keluarga kecilmu saja membuat hati bibi senang," kata Marry.


Evan tersenyum lalu mencium bibi Marry yang sedang duduk di sebelahnya. "Aku tahu kau selalu menyayangiku dan memperhatikan aku selalu. Namun, aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah bisa untuk menjaga diri sendiri."


"Kau sudah seperti anak kandung bagiku, jadi bagiku kau tetap Evan kecil yang manja," ujar Bibi Marry.


"Kapan aku manja, setahuku aku selalu mandiri. "


"Mandiri namun selalu takut jika tidur dalam gelap," bibi Marry lalu menutup mulutnya.


"Dia juga tidak membuka kaos kakinya ketika tidur," imbuh Faira terkekeh.


"Kau sudah sangat mengenalnya, itu rahasianya. Dia akan membuka kaos kaki jika hanya di kamar mandi saja selebihnya dia akan memakai kemanapun dia pergi," lanjut Marry membuat Evan menekuk wajahnya.


"Sudah! Apakah kalian akan membuka kebiasaan burukku?" tanya Evan kesal.


"Sepertinya istrimu belum tahu jika kau takut pada kepiting dan udang. Kau coba saja memasak dua makanan itu maka dia akan pergi dari rumah," kata Antonio terkekeh membuat Evan dan Marry terdiam, terkesiap


Marry bahkan mengusap setetes buliran bening yang keluar dari pelupuk matanya. Evan memeluk bibinya dari sebelah.


"Jika tentang dirimu Kakek tidak pernah akan lupa, dia sangat menyayangimu Evan," bisik Marry. Evan menganggukkan kepalanya.


"Aku belum pernah memasak makanan itu untuk Evan jadi aku tidak tahu jika dia takut dengan dua menu tersebut," ucap Faira memecah suasana.


"Aku akan memakan apapun yang kau masak sekalipun itu mengandung racun," ujar Evan.


"Tetapi racun cintamu telah membuat diriku mati karenanya," ungkap Evan membuat Faira merotasikan matanya.


"Kapan kalian menikah?" tanya Antonio membuat Faira terdiam. Dia tidak mungkin jujur pada pria itu setelah tahu jika Kakek Evan mengalami sakit. Dia tidak ingin membuat sedih pria tua itu dengan mematahkan harapan dan impiannya.


Faira melihat ke arah Evan mencari sebuah jawaban yang tepat.


"Kami akan meresmikan pernikahan kami di kantor catatan sipil," ujar Evan menatap Faira.


"Jadi kalian belum menikah," tanya Antonio curiga.


"Tepatnya belum meresmikannya," ucap Evan setengah berbohong.


"Jadi kau ingin menjebakku dalam permainan ini?" batin Faira.


"Aku ingin pergi membersihkan diri," kata Faira menghabiskan minumannya.


"Tadi ada pelayan dari rumah Evan membawakan pakaian untukmu," beritahu bibi Marry.


"Iya sudah ada di kamarku," ucap Evan berdiri dia mengulurkan tangan pada Faira.


Faira lalu membalas uluran tangan itu dan bangkit berdiri. Pamit pada bibi Marry dan Kakek Antonio. Setelah itu dia berjalan pergi meninggalkan ruangan itu dengan berpegangan tangan.


"Sepertinya dia wanita yang kuat yang bisa mendukung kehidupan Evan ke depannya."


"Kau benar, Daddy," kata Bibi Marry. Marry lalu melihat ke arah ayahnya yang bertingkah normal seperti dulu. Tidak seperti biasanya yang bertingkah seperti orang pikun.


"Ayah apakah ingatanmu telah kembali?" tanya Marry.


"Ingatkan apa? Ini aku dari dulu seperti ini!" ucap Antonio mengusap mulutnya dengan bajunya.


Ini baru ayahnya yang biasa bukan Tuan Antonio yang berkuasa. Batin Bibi Marry.