Affair (Faira)

Affair (Faira)
Memaafkan



Satu Minggu kemudian Raka sudah mulai sehat dan baikan. Dia sudah bisa beraktivitas lagi walau dilarang lelah dan memikirkan hal berat untuk sementara waktu.


Di tempat lain Evan sedang memburu Dokter Atalarik dengan istrinya yang sedang melarikan diri ke negara Belanda, tepatnya di kota Amsterdam.


"Apa kau yakin mereka ada di dalam?" tanya Evan.


"Tentu saja Bos saya dan teman saya sudah mengintai tempat ini sedari kemarin," ujar anak buah Evan.


Dia sudah berjanji pada Faira untuk membalas apa yang Dokter itu lakukan pada kakaknya. Hampir saja Raka merenggang nyawa jika tidak langsung ditangani dengan perawatan terbaik. Lagipula Raka juga pernah menyelamatkan nyawanya dan Faira dari Alberth dan Robin. Dia sedikit banyak berhutang banyak padanya.


Mungkin dia tidak punya saudara kandung yang baik tetapi dia beruntung mempunyai saudara ipar sebaik Raka.


Rumah bergaya Victoria itu telah dikepung dari semua sudut oleh orang-orang Evan. Evan lalu berjalan ke pintu utama dan mengetuk pintu layaknya seorang tamu yang datang.


Seorang wanita datang membuka pintu rumah itu. Melihat Evan berdiri di depannya wanita itu lantas menutup pintu, tetapi Evan bergerak lebih cepat darinya. Kakinya mengganjal pintu dan tangannya mendorong paksa pintu ke depan. Wanita itu hampir jatuh terjungkal ke belakang. Evan lalu masuk ke dalam bersama dengan dua anak buahnya.


"Di mana suamimu?" tanya Evan dingin. Dia tidak suka kekerasan tetapi dia melakukan ini untuk membalas semua perbuatan sepasang suami istri itu pada Raka.


"Dia tidak ada!" kata Dewi ketakutan. Dia tahu jika Evan adalah anak menantu dari Ardianto. Anak tiri Lusi.


"Tidak ada lalu dimana?" tanya Evan.


"Aku tidak tahu," ujar wanita itu berbohong. Wanita itu melihat sekitar dan merasa tidak ada celahnya untuk melarikan diri.


"Katakan atau kau akan menerima akibatnya!"


"Akibat apa?Oh, aku tahu karena Raka sakit? Apa kau akan membunuhku untuk membalasnya?'' tanya Dewi mengejek.


"Kau akan tahu setelah suamimu datang!" ujar Evan.


"Sudah kukatakan suamiku tidak ada dan tidak akan datang jika kau mau membunuh, silahkan bunuh saja aku sekarang!"


"Membunuh wanita yang menderita kanker rahim untuk apa? Kau sendiri sudah tersiksa dengan penyakitmu itu," sarkas Evan.


Anak buah Evan memberi tanda jika ada yang mendekat ke rumah ini. Evan lalu bersembunyi di belakang pintu.


"Sayang, aku pulang," teriak Dokter Arik di depan rumah.


"Arik, cepat pergi, nyawamu dalam bahaya!" teriak Dewi keras. Namun, sebelum Arik membalikkan tubuhnya beberapa orang berdiri di belakangnya.


Tubuhnya lalu dibawa masuk dengan paksa oleh tiga orang pria berbadan besar. Evan lalu duduk di sebuah kursi rotan dekat dengan jendela yang menghadap ke kebun.


"Jadi kau yang namanya Arik, memperdaya iparku untuk membenci suaminya dan menyuntikkan virus mematikan untuk membunuh Raka?" tanya Evan langsung tanpa tendeng aling-aling.


"Aku yang melakukannya bukan suamiku!" teriak Dewi. Arik menatap istrinya itu. Arik terkejut melihat Dewi yang menangis.


"Sebenarnya aku yang merencanakan ini semua dengan Lusi. Aku ingin membuat Raka menderita karena dia telah membuat ayahku dipenjara dan usaha keluargaku hancur berantakan. Hal itu memicu penyakitku bertambah parah. Aku memanfaatkan kepolosan Intan untuk membenci Raka dan aku juga yang menyuruh seorang perawat untuk menyuntikkan virus itu ke tubuh Raka."


"Kau menyuntikkan virus apa? Aku tidak mengerti," kata Arik. Dia memang tahu jika Intan adalah istri Raka dan dia memang menolong wanita itu untuk pergi dari suaminya karena dia yang minta bantuannya. Tetapi, dia tidak tahu menahu dengan masalah balas dendam ini.


"Maafkan aku suamiku, aku telah berbohong padamu, aku memanfaatkan kebaikanmu dan Intan untuk membalas dendam pada Raka. Aku memasukkan virus meningitis itu ke tubuh pria itu atas saran dan desakan dari Lusi," terang Dewi menangis sesenggukan. Evan mengangkat kedua alisnya ke atas.


Arik mengusap wajahnya kasar. Dia baru mengerti mengapa Dewi begitu ngotot agar mereka pergi dari negara asal mereka secepatnya. Alasannya, dia ingin mendapatkan pengobatan terbaik di negeri Eropa.


"Maafkan aku," kata Dewi ingin memeluk suaminya tetapi Arik menepis.


"Kau itu seorang pekerja kesehatan bagaimana bisa kau ingin membunuh seseorang," kata Arik kecewa.


"Aku hanya ingin membalas dendam."


"Balas dendam tidak akan pernah habisnya! Jika kita ingin hidup tenang maka harus bisa belajar untuk memaafkan!"


Evan hanya terdiam melihat suami istri itu bertengkar. Dia bukan seperti Raka yang bisa bersikap dingin dan tidak berperasaan pada lawannya. Dia manusia yang suka damai.


"Kalian selesaikan saja masalah ini. Aku sebenarnya ingin menyuntikkan virus yang sama ke tubuh kalian tetapi mendengar apa yang kau katakan, aku jadi mengurungkannya. Aku akan membekukan usaha kalian dengan dugaan mal praktek. Itu adalah buah dari kesalahan kalian.


"Percuma saja membalas dendam pada wanita yang sebentar lagi saja akan menemui kematian. Kau Arik rawatlah istrimu dengan baik, jaga dia jika dia sampai berulah lagi aku akan membuang kalian ke tengah hutan tanpa makanan atau apapun!" ujar Evan meninggalkan tempat itu. Meninggalkan segudang masalah pada pasangan itu.


****


Baca juga karyaku yang lainnya sambil menunggu Up.



Cinta Yang Dewasa


One Night with My CEO


Billionary Married Skandal (Sekuel dari uncle Wirya) pendek cuma 60 bab aja.


Mencintai Kakak ipar


Gadis Untuk Presiden


Rahim Sewaan