
Evan menghentikan gerakannya dan menjauhi wajah Faira lalu menatapnya lekat. Dia tidak menyangka jika Faira yang terlihat cantik dan menggoda ternyata belum pernah melakukan ciuman sebelumnya. Gerakan kakinya dan tubuhnya yang menegang memperlihatkan jika ini yang pertama untuknya.
Apakah dia adalah pria yang beruntung? Dia tidak akan melepaskan keberuntungan itu.
Nafas Faira terengah-engah, wajahnya pun memerah. Tangan Evan menyentuh pipi Faira dan mengusap bekas Saliva mereka berdua yang masih tertinggal di sana.
Setelah itu tangan Evan merengkuh bahu Faira dan menarik tubuh wanita itu agar bersandar di dekatnya.
"Kau lihat, matahari yang tenggelam itu. Dia akan menjadi saksi pertemuan kita ini. Sehingga ketika aku menatapnya aku akan selalu teringat padamu."
Faira hanya terdiam. Dadanya masih berdegub kencang sedari tadi. Hawa aneh menguasainya, untung saja Evan bisa mengendalikan diri.
Faira tidak tahu mengapa dia diam saja ketika Evan melakukan itu. Tadinya dia hanya ingin membalas perlakuan Ditya padanya tetapi yang ada dirinya malah ikut masuk ke dalam arus hasrat yang dia ciptakan sendiri.
Evan mungkin menganggapnya wanita murahan dan gampangan apapun itu dia akan menerimanya. Dia akan tetap melanjutkan hubungan ini dan suatu ketika akan merekam serta mengirimkannya pada Ditya. Ditya harus merasakan sakit yang sama, dia rasakan.
Suaminya mengatakan jika hancur maka mereka akan hancur bersama maka inilah yang akan dia lakukan. Ditya pikir dia wanita lemah yang hanya akan terdiam diperlakukan seperti itu. Dia salah, kesabarannya tetap ada batasnya dan kesabarannya telah habis ketika Ditya mengobarkan genderang perang.
Anak dari Abimanyu Pradana bukan wanita lemah yang akan diam ketika ditindas secara terus menerus.
"Faira jadikan aku selalu menjadi yang pertama dan terakhir untukmu," ucap Evan tiba-tiba membuat Faira terkejut.
"Aku benar-benar ketika mengatakan telah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Kau ingat pria yang memakai motor sport sewaktu kau mengalami penjambretan?" Faira membelalakkan matanya yang indah.
"Apakah itu kau?" tanya Faira tidak percaya.
Evan menganggukkan kepalanya. Faira menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan satu tangan.
"Semenjak itu bayanganmu selalu hadir di pelupuk mataku," ungkap Evan.
"Aku begitu senang ketika menemukanmu kembali di bandara dan kita duduk di kursi yang sama, namun aku tidak berani untuk mengajakmu berbicara saat itu kau nampak terlihat sedih," ungkap Evan menatap manik mata Faira yang bening dengan lekat.
"Entah mengapa tangismu membuat separuh hatiku sakit. Aku ingin sekali memelukmu dan menghilangkan kesedihan itu namun aku tidak bisa karena bagimu kita baru saja bertemu. Bukankah itu sangat tidak yang sopan?"
Faira menatap bola mata saphire yang berkilat itu, dia lalu tersenyum lebar hingga ke matanya. Hatinya menghangat seketika. Dia belum percaya sepenuhnya perkataan Evan tetapi sedikit banyak sangat menghiburnya.
"Aku mengikutinya setelah kita turun dari pesawat, hingga kau pergi dari bandara seraya berdoa jika memang kau milikku dan bagian dari diriku, maka kita akan bertemu lagi. Entah itu pertanda atau apa, namun kenyataannya kita dipertemukan lagi oleh Sang Pencipta."
"Kau membuat hatiku berbunga-bunga," ungkap Faira tersenyum. Dia lalu mengecup singkat pipi Evan.
"Terimakasih," katanya.
"Apakah itu artinya kau menerima cintaku?" tanya Evan.
"No?" jawab Faira.
"Why?"
"Aku telah menikah," kata Faira memperlihatkan jari manisnya yang terdapat cincin. "Ini memang cincin pernikahanku."
Wajah Evan terlihat pucat seketika. Wajahnya yang tadi terlihat berseri kini berubah menjadi lesu.
"Jika kau telah menikah kenapa kau ... ?"Evan lalu memberi isyarat dengan tangannya apa yang mereka lakukan tadi.
"Aku tidak bisa menceritakan masalah rumah tanggaku namun aku memang wanita yang telah bersuami maaf...," tegas Faira dengan wajah malu dan tegang.
"Kau membuat hatiku hancur," ujar Evan memegang dadanya.
"Jika kau masih mau bersamaku bisakah kita tidak membicarakan masalah ini. Semua terasa menyesakkan untukku. Ini alasanku pergi kemari. Untuk menghibur diriku," cetus Faira. Dia lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Di situ Evan bisa menebak jika ada permasalahan yang tidak sederhana menimpa Faira. Mungkin pernikahan karena perjodohan yang tanpa cinta sehingga Faira masih belum tersentuh sama sekali.
"Kalau begitu aku akan ada untuk menjadi pelipur laramu," kata Evan bersemangat.
"Itu lebih baik," ujar Faira.
"Jika aku menjadi suamimu aku tidak akan membiarkan kau pergi sendiri. Itu adalah tindakan bodoh karena bisa membuat pria lain terpikat oleh pesonamu lalu pergi merayu."
"Seperti dirimu," kata Faira.
Evan tersenyum.
"Bisakah aku menjadi teman kencanmu selama kau ada di sini?" tanya Evan mencoba peruntungan. Dia tidak peduli dengan status Faira. Pernikahan bisa saja hancur kapanpun jika dua orang tidak bisa saling berkomitmen dan Evan bisa melihat celah itu.
"Ehm ... baiklah," kata Faira.
"Yes," Evan langsung menekuk tangannya ke belakang.
Faira tertawa.
"Kalau begitu aku ingin mengajakmu pergi berkencan malam ini. Aku sudah memesan tempat khusus untuk kita makan malam," kata Evan.
"Dimana itu?" tanya Faira melihat sekitar.
Evan mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya.
"Aku ingin membuat kejutan untukmu tetapi kau harus menutup matamu," ujar pria itu.
"Ehm... Baiklah," ujar Faira tersenyum bahagia. Hatinya merasa lepas ketika bersama pria itu.
"Apakah pria bule selalu bertindak secepat ini pada setiap perempuan yang mereka baru kenal?'' tanya Faira penasaran.
"Sebagian dari kami biasa berhubungan dengan yang bukan pasangannya bila merasa cocok. Namun, aku berbeda. Aku suka komitmen maka dari itu aku menawarimu sebuah komitmen bukan cinta satu malam lalu menghilang seketika," ucap Evan di belakang Faira sembari mengikat sapu tangan itu di kepala Faira.
"Berarti kau pernah melakukan ini sebelumnya?" tanya Faira. Dia bisa menebak umur Evan di atas tiga puluhan.
"Aku pernah hidup dengan satu wanita lama, hanya saja dia enggan untuk melanjutkannya ke jenjang pernikahan dan kami berpisah. Sejak saat itu aku belum pernah tertarik pada wanita manapun hingga aku melihatmu," bisik Evan di tengkuk Faira membuat tubuh wanita itu meremang.
"Ternyata kau salah memilih," ucap Faira.
"Tidak, aku yakin pada hatiku jika suatu hari kau akan jadi milikku," kata Evan.
"Karena aku tahu kau pun merasakan getaran yang sama denganku, hanya saja statusmu menghalangimu untuk mendekat ke arahku," kata Evan.
Evan lalu memegang pinggang Faira dan mengarahkannya ke jalan menuju tempat makan malam mereka yang lokasinya dekat dari situ. Mereka berjalan saling berdekatan. Faira bisa merasakan aroma chinnamon milik Evan yang menggoda indera penciumannya.
Dia pikir, ini hal gila yang dia lakukan bersama pria yang baru dia kenal. Pria itu juga menyatakan hatinya. Tetapi dia tahu jika pria seperti Evan bukan pria yang bisa dia percaya perkataannya begitu saja. Dia hanya mencari hiburan semata bersama pria itu.
"Evan apakah masih lama?" tanya Faira.
"Sebentar lagi," jawab pria itu. Tangan panas Evan masih tetap berada di pinggang Faira membuat detak jantungnya kembali berdegub kencang. Terasa pas dan nyaman. Batin Faira, tidak bisa membohongi diri.
Dia mulai membandingkan Ditya dengan Evan. Dari segi apapun Evan terlihat lebih unggul dari Ditya dan kabar buruknya dia merasa tenang dan damai ketika berada di dekat pria itu. Dia seperti telah mengenal pria itu sebelumnya dan merasa tidak asing. Akan tetapi rasanya tidak mungkin, dia tidak pernah mengenal sosok Evan sebelumnya.
Jika Evan memang pria baik dan bisa dipercaya maka dia akan melanjutkan hubungan ini dan menggugat cerai Ditya. Pikir Faira.