
"Aku ingin melakukannya denganmu Intan. Aku sangat membutuhkanmu. Tetapi aku tidak ingin melakukan ini dan membuat segala sesuatunya lebih buruk. Kau harus menginginkannya seperti diriku," ucap Raka pelan dan penuh perasaan.
"Keinginanku juga sama besarnya dengan keinginanmu namun aku takut untuk memulainya," tukas Intan parau. Dan itu kenyataan. Dia menginginkan Raka ketika mereka bersama ditempat tidur setiap hari. Membayangkan dan mendambakannya.
Tetapi mengingat masa lalu Raka bagaimana pria itu bersama dengan para wanitanya dan banyaknya wanita yang menangis karena tindakannya, membuat dia mundur untuk maju. Dia tidak yakin pada pria itu.
Intan menyingkirkan bayangan gelap dalam dirinya, mulai mengulurkan tangan membelai pipi Raka.
"Aku juga membutuhkanmu.''
Sorot mata Raka seolah dipenuhi api yang menyala-nyala. Kepuasan dan kemenangan yang berkilau terang saat dia membungkuk untuk mencium bibir Intan.
Ketika Raka akhirnya melepaskan ciuman, dia bergerak ke samping dan menarik Intan ke pelukan, mendekap seakan-akan wanita itu benda rapuh yang sangat berharga dan takut membuatnya pecah.
Selama beberapa saat yang panjang, tatapan Raka menelusuri sekujur tubuh Intan, untuk membiasakan diri melihat wanita itu. Kemudian tangannya beranjak ke bahu Intan dan menurunkan bathrobe dari tubuhnya dan terjatuh ke lantai. Tidak ada penghalang sama sekali bagi Raka untuk menikmati tubuh Intan.
"Cantik dan indah sekali," katanya tersenyum. Dia tidak pernah melihat wanita sesempurna itu murni belum tersentuh dan alami.
"Semua wanita terlihat cantik dan indah," jawab Intan.
"Kau berbeda," bisik Raka di telinga Intan. Jemari Raka mulai bergerak, menjelajah intim membuat wanita itu melonjak dan mengerang.
Intan bergetar ketika Raka mulai menjelajah bagian tubuhnya yang sensitif. Dalam sekejap Intan nyaris merasakan ke puncak padahal pria itu baru menyentuhnya.
Intan tidak sabar menginginkan pria itu sekarang juga padahal dia juga tidak ingin hal itu berjalan secara tergesa-gesa. Beberapa hari bersama pria itu dia ingin merasakan detik-detik awal kebersamaan mereka.
Intan menarik nafas tajam dan menahan nafas dengan penuh gairah saat Raka menunduk, mencium dan menyentuhnya dengan penuh gairah. Dia memejamkan mata, meremas seprai dan melepaskannya ketika dia dibuat melayang oleh perlakuan lembut pria itu.
Rasanya sungguh menegangkan, menyenangkan dan indah. Sesuatu yang belum pernah dia ketahui.
Sesuatu dalam tubuh Intan hancur, dan berputar-putar di perutnya. Gelombang-gelombang kenikmatan yang tajam bergulung dalam dirinya dengan kekuatan hebat hingga sesuatu menekan bagian dirinya yang dalam. Sakit tapi tidak ingin mengakhiri rasa itu. Tubuhnya mulai menerima penyatuan itu dengan putus asa dan mempererat pelukannya.
Raka melihat wajah Intan yang menahan sakit membuat pria menahan diri. Dia bergerak pelan agar tubuh Intan terbiasa dengan kehadirannya. Dia mencium bibir Intan untuk mengalihkan perhatiannya. Dia melakukannya dengan lapar, terlihat lebih putus asa karena menahan dirinya dengan sangat. Dia ingin membuat ini hal pertama yang menjadi kenangan indah untuk Intan.
Intan membalas ciuman Raka dan menelusuri tulang punggung pria itu lalu menekan kepalanya lebih dalam ke arahnya ketika semua telah berada pada puncaknya. Sesuatu yang hangat menyembur ke dalam rahimnya yang suci. Menyebar hingga keluar liang.
Raka mengerang keras, dia merasa sangat puas dan ini percintaan terindah yang pernah dia rasakaan.
"Terimakasih, Sayang," kata Raka menatap mata Intan yang bersinar. Nafas mereka masih terengah-engah dan tubuh mereka mengeluarkan peluh yang menyatu menjadi satu.
Raka enggan untuk melepaskan miliknya dari tubuh Intan. Dia menyentuh pipi Intan dan mengecupnya pelan.
Lalu menyingkir dari tubuh Intan dan melihat bercak merah di seprai mereka. Dia mengambil tisue dan membersihkan bekas percintaan mereka ditubuhnya dan Intan.
Intan sendiri mereka sangat lelah dan sakit di tubuh bagian bawahnya. Rasa kantuk mulai menyerangnya.
"Kau jangan pikirkan apapun. Tidurlah, jangan khawatirkan aku. Aku sudah sehat dan baik-baik saja kau jangan khawatir."
Intan bisa melihatnya Raka terlihat sudah bugar setelah percintaan mereka. Apakah itu obat yang mujarab karena skin to skin itu merasuk hingga ke dalam dan energi negatif Raka terserap olehnya membuat dia yang lemas dan kelelahan.
Intan lalu terlelap tidur. "Mulai kini kau tidak akan bisa pergi dariku," bisik Raka.
Raka lalu bangkit dan mandi setelah itu dia menelfon ke pusat dapur apartemen ini dan memesan makanan dan minuman untuk mereka. Dia bukan pria yang bisa segalanya hingga bisa membuat makan. Dari kecil dia seperti raja semua ada yang mengurus dan melayaninya. Dia hanya bisa bekerja dengan keras untuk mengumpulkan pundi-pundi uang.
Jadi untuk bersikap romantis dan manis pada wanita itu bukan sifatnya dan dia tidak bisa melakukannya. Dia terbiasa dilayani bukan melayani. Namun, entah mengapa dia ingin melakukan hal berbeda untuk Intan. Dia ingin melayaninya.
Pertama yang dia lakukan adalah menelfon asistennya Kenan untuk membatalkan semua pertemuan dan ingin libur penuh satu hari ini hingga malam dan tidak ingin terganggu dengan telepon tentang pekerjaan.
Hal kedua adalah membereskan kamar mereka sehingga tidak terlihat berantakan.
Hal ketiga menunggu makanan yang telah dia pesan datang. Dia juga memesan karangan bunga mawar yang besar untuk istrinya sebagai kejutan.
Setengah jam kemudian makanan pagi yang masih mengepul datang ke apartemennya lalu bunganya juga datang bersamaan. Raka menerimanya dari pengawal yang menunggu di depan pintu lift. Raka lalu membawa makana. dan Bunga ke dalam kamar.
Meletakkan makanan itu di atas meja dan membawa bunga itu ke depan Intan.
"Sayang, bangunlah," panggil Raka pada Intan pelan sembari mencium bibir wanita itu. Intan mengerang kecil ketika tidurnya diganggu dengan cara yang unik. Dia mulai membuka matanya pelan dan langsung melihat karangan bunga yang besar.
"Raka, itu untukku?"
"Iya, memang untuk siapa?" lagi. Intan lalu bergerak untuk duduk sembari meringis dan menerimanya.
"Terimakasih," kata Intan tersenyum sumringah.
"Sakit sekalikah?" tanya Raka khawatir.
"Terasa mengganjal," jawab Intan. "Itu yang membuat tidak nyaman selain rasa perih tentunya."
"Maaf tetapi aku tidak akan berhenti melakukannya, aku akan melakukannya lagi setelah kita makan," kata Raka membuat Intan membuka mulutnya.
"Ini masih sakit dan terluka lalu kau ingin melakukannya lagi?"
" Jika pertama itu sakit tetapi yang kedua dan seterusnya kau hanya akan menerima nikmat.H
Kau hanya perlu membiasakan milikku ada pada dirimu," jelas Raka yang mendapat lemparan bantal keras.
"Kau itu tidak berperasaan setidaknya biarkan sembuh dulu baru melakukannya lagi," omel Intan.