
Di sebuah rumah mewah terletak di kota Kansas, USA, Faira masih tertidur nyenyak karena pengaruh obat bius dalam dosis tinggi. Dia sudah melewati dua puluh empat jam lamanya perjalanan dari Indonesia ke Amerika Serikat hingga sampai ke rumah ini. Namun wanita itu masih tetap tertidur pulas.
Faira mulai mengerjapkan matanya perlahan melihat ke sekeliling ruangan. Dia lalu terkejut dan langsung duduk. Melihat keadaan sekitar. Memegang kepalanya yang sedikit pening dan mengingat apa yang terjadi.
Dia teringat jika mobil yang ditumpanginya di hentikan oleh beberapa orang dan memaksa masuk ke dalam mobil. Mereka lalu membiusnya dengan sapu tangan.
"Ello, Ello, Ello," ucap Faira memanggil anaknya.
Dia lalu keluar dari kamar itu berjalan keluar melewati balkon panjang rumah itu sembari melihat ke bawah mencari keberadaan Ello.
Dimana ini? Rumah mewah siapa ini? Penjaga dan pelayan melihatnya keluar dari kamar tetapi membiarkan saja.
Faira mulai turun ke bawah kini dia tahu jika dia berada di sebuah apartemen mewah jika melihat keluar jendela yang ada barisan gedung. Fix ini bukan di Indonesia. Siapa yang telah menculiknya?
Evankah? Tidak mungkin? Faira mempercepat langkahnya dan mulai mendengar suara anak kecil yang tertawa lepas.
Faira lalu berlari ke sumber suara itu dan langkah kakinya terhenti ketika melihat Ello sedang berdiri di tembok pembatas balkon bersama Evan. Kakinya lemas seketika dia lalu berjalan pelan menuju ke arah mereka.
"Mom, kau sudah bangun, lihat itu," tunjuk Ello ke arah pemandangan gedung di depannya. "Wow, ini indah sekali." teriaknya histeris.
Evan melihatnya dengan intens sedangkan Faira mencoba tersenyum walaupun sangat di paksakan.
"Kenapa jadi seperti ini?" batin Faira.
"Apa kau suka tinggal di sini?" tanya Evan pada Ello.
"Suka, aku sangat suka, ini indah sekali. Jika Ella melihatnya dia pasti juga akan menyukainya," kata Ello.
Mata Faira memerah sembari mengeluarkan nafas kasar. Dia ingin marah pada Evan tetapi tidak di depan anaknya.
Hancur sudah rencananya. Evan pasti sudah tahu jika Ello adalah anaknya. Seketika pikiran buntu. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk keluar dari masalah ini. Seharusnya dia tetap berada di rumah Ditya bukannya kabur dan malah masuk ke dalam kandang singa.
Ello lalu mulai berbicara banyak dan Evan menimpalinya sesekali dia melihat ke arah Faira. Akh! Mereka terlihat sudah akrab padahal baru saja bertemu.
Tiba-tiba perut Ello berbunyi keras.
"Kalau begitu kita makan, Ayah akan memesannya pada dapur umum di bawah." Evan lalu menggendong Ello.
"Faira, ayo, kita makan," ajak Evan tenang seperti mereka tidak pernah melakukan kesalahan sama sekali.
Faira melihat Evan dengan tatapan penuh kebencian. Namun, pria itu malah kebalikannya membuat Faira muak dan ingin muntah. Wanita itu lalu memalingkan wajah ke samping sembari mengetatkan rahang pipinya yang tirus.
"Ello, ajak Mommy makan!" pinta Evan.
"Mom, ayo makan," ucap Ello mengulurkan tangan. Ello adalah kelemahan Faira dan dia tidak pernah bisa membuat buah hatinya kecewa.
"Kalian pergilah dulu, Mom ingin sendiri di sini terlebih dahulu."
"Faira, kau sudah sehari semalam tidak makan," kata Evan.
"Dan itu salah siapa, kau!" tuding Faira tidak bisa menahan amarahnya. Dia kembali membalikkan tubuh melihat ke arah bawah apartemen mewah itu.
"Aku ingin berbicara denganmu nanti," kata Faira.
"Aku juga tetapi sebelum itu mari kita makan!" ajak Evan bersabar.
Faira membuka mulutnya mengejek sembari menggelengkan kepalanya.
"Pergilah makan dengan Ello, melihat wajahmu saja membuatku hampir muntah karena muak!" ucap Faira lirih di bagian akhir kalimat.
"Memang Mommy sakit? Kok mau muntah!"
"Iya sakit hati karena ulah pria itu," batin Faira.
"Mom baik-baik saja, Sayang, hanya sedikit pusing," kata Faira. "Mom akan ke kamar dulu."
Faira lalu berjalan pergi meninggalkan dua orang itu. Melangkah lemas sembari memikirkan cara agar bisa keluar dari rumah ini dengan selamat.
Dia saja kini tidak tahu berada di negara mana? Bagaimana bisa kabur?
Evan hanya menghela nafas panjang dia tahu jika Faira pasti sangat membencinya dan dia akan memahaminya. Faira hanya butuh waktu dan pembuktian saja.