Affair (Faira)

Affair (Faira)
Hanya Aku



"Bagaimana Dokter hasilnya?" tanya Raka. Dia memang sering merasa pusing akhir-akhir ini tetapi dia merasa itu hanya efek dari rasa penat dan lelah yang menghampiri.


"Sepertinya Anda terkena radang selaput otak. Ada virus meninghitis yang mulai menyerang. Untung Anda cepat tahu jadi kami bisa langsung mengobatinya langsung jika tidak langsung ditindaklanjuti maka bisa-bisa virus ini akan menyerang otak bagian dalam dan bisa menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian."


"Sial! Seseorang menyuntikkan virus ini ke dalam tubuh saya. Dia seorang dokter yang sempat merawat saya ketika berada di pelosok."


"Wah, itu bisa dilaporkan. Namun, kenapa dia melakukannya?" tanya Dokter itu.


"Biasa Dokter faktor pekerjaan saya sebagai tokoh politik membuat banyak yang tidak suka pada langkah yang saya tempuh. Saya sedang enggan untuk menaikkan kasus ini ke jalur hukum. Saya ingin menyelesaikannya secara kekeluargaan," ungkap Raka.


"Wah, Anda baik sekali tetapi ini sangat mengerikan bisa-bisa Dokter itu tidak jera dan akan melakukan hal itu pada pasiennya yang lain."


"Saya rasa tidak akan Dokter. Ini masalah pribadi yang menyangkut dengan masalah politik..Saya bisa menanganinya dengan baik. Saya sudah bersyukur penyakit ini tidak terlalu berbahaya, yang akan menyebabkan hal buruk terjadi ke depannya."


"Ya Tuhan masih berbaik hati pada Anda. Ini saya beri resep obatnya nanti Anda bisa membelinya di apotik. Dan jika tiga hari kedepannya kok belum ada perubahan dan penyakit itu makin parah Anda bisa langsung saja ke rumah sakit sebelum semuanya bertambah buruk."


"Iya Dokter."


Setelah mendengar apa yang Dokter katakan Raka langsung pulang kembali ke rumahnya. Sebelum ke Dokter dia tadi ke istana untuk mengajukan surat pengunduran dirinya. Dia ingin berhenti dari organisasi atau apapun dan akan fokus dengan perusahan dan keluarga kecilnya. Dia tidak ingin menambah pekerjaan lain lagi.


Raka lalu kembali ke rumahnya mengosongkan jadwalnya untuk satu Minggu ke depannya. Dia ingin istirahat dan merasakan indahnya memiliki sebuah keluarga.


Bau masakan langsung menyambut kedatangannya dari luar rumah..Hal lama yang tidak pernah dia rasakan. Rasa hangat menjalar ke dalam dadanya. Teriakan Laura dan Enya yang sedang bermain kejar-kejaran membuat bibirnya menyimpulkan sebuah senyuman lebar hingga rasa sakit di kepalanya terasa hilang untuk sekejap.


"Ayah sudah pulang," teriak Laura berlari ke arahnya. Raka berjongkok dan merenggangkan kedua tangannya ke samping dengan lebar. Dia lalu memeluk tubuh mungil putrinya itu.


"Ayah dari mana? Aku mencari ayah sedari tadi," kata Laura.


"Ayah pergi bekerja. Kau tadi masih tertidur pulas hingga Ayah tidak pamit padamu," kata Raka.


"Hmmm, Ayah lupa jika harus bilang padaku dulu jika mau pergi," geram Laura.


"Dia tadi menangis terus mencari Om," kata Enya.


"Kenapa kau menangis," kata Raka membawa Laura duduk di sofa.


"Aku takut jika kejadian kemarin datang lagi," ucap Laura. Raka teringat jika semalam Laura menangis karena takut. Raka menggendongnya hingga dia tertidur. Dia akan terbangun ketika Raka meletakkannya di tempat tidur. Laura baru bisa tertidur nyenyak setelah Raka mengusap punggung dan mendekap anak itu.


"Ada Ayah tidak akan ada yang akan melukaimu," kata Raka. Laura lalu bersandar manja di dada Raka.


"Laura ayo turun kita main lagi," bujuk Enya.


"Tidak aku ingin bersama Ayah saja," ucap Laura.


"Yang punya ayah baru hingga lupa ibunya," kata Intan yang baru masuk ke ruangan itu tetapi mendapatkan tatapan tajam Raka.


"Hanya aku Ayahnya tidak ada pria lain yang boleh dipanggil anakku dengan sebutan Ayah!"