Affair (Faira)

Affair (Faira)
Jebakan Batman



Evan menunggu kedatangan Faira dari dalam mobil. Namun, anak buahnya belum memberinya tanda jika mobil Faira masuk ke dalam gedung itu padahal waktu berlangsungnya pertemuan itu tinggal 5 menit.


Hingga akhirnya Evan menyerah dan dia hendak keluar dari mobil ketika sebuah mobil sedan berwarna putih masuk ke dalam ruang parkir bawah tanah. Mobil itu lalu parkir di tempat parkir mobil jajaran petinggi perusahaan ini.


Faira memberhentikan kendaraannya lalu menghembuskan nafas keras membenamkan wajahnya di dalam stir mobil. Beberapa saat kemudian dia lalu mengambil setumpuk map di kursi penumpang dan keluar dari mobilnya.


"Kau bisa Faira gumamnya," sendiri sembari menutup pintu mobil. Dia bahkan tidak melihat Evan yang berjalan di sisi lain tempat parkir itu dan mengawasinya. Faira mulai berjalan cepat sembari melihat jam ditangannya.


"Beberapa detik lagi," ucapnya sembari berjalan setengah berlari.


Brugh!


Tubuh Faira menabrak sebuah benda yang keras dan kertas-kertas ditangannya terjatuh bertebaran di lantai. Matanya menatap manik mata biru yang dikenalnya sebelum tubuhnya terjatuh ke belakang. Namun, sekali lagi tangan kokoh pria itu memegang pinggang Faira dan menariknya ke dalam pelukan.


Sejenak Faira terpaku menatap dalamnya warna langit di netra pria itu. Terhipnotis setiap kali memandangnya. Faira mengerjapkan matanya.


"Memang seharusnya letakmu berada dalam di pelukanku," ucap pria itu tersenyum. Faira tersentak dari lamunannya. Dia lalu berusaha melepaskan pelukan Evan di pinggangnya.


"Lepaskan aku, Evan!" seru Faira memukul tangan Evan.


"Kali ini akan kulepaskan lain kali tidak," ucap Evan. Faira lalu membenahi rok dan pakaiannya. Lalu melihat kertas-kertas yang berisi presentasinya nanti bertebaran di lantai.


"Kenapa aku selalu sial jika bertemu denganmu," gerutu Faira sembari memunguti kertas itu.


Evan hanya tersenyum membantu Faira mengambil kertas-kertas itu. Dia memang sengaja berdiri di depan wanita itu tadi.


Evan meletakkan tumpukan kertas itu di atas tangan Faira.


"Kau bukan soal bertemu denganku tetapi kau beruntung karena menemukan aku," ucap Evan.


"Kau datang membawa masalah untukku dan kini kau datang lagi untuk membawa musibah lain bagiku," omel Faira sembari berjalan ke arah lift. Evan mengikutinya memberi tanda pada anak buahnya untuk menghalangi orang lain masuk ke dalam lift.


Lift mulai tertutup. Faira melihat pantulan dirinya di tembok lift dan membenahi rambut yang menutupi wajahnya.


"Kau tetap cantik bahkan bertambah cantik dan ... seksi," bisik Evan di belakang Faira. Wanita itu merasa mual mendengarnya. Jika bukan karena pria itu relasi bisnis Ditya, dia sudah meninju burung kakak elang miliknya yang tersembunyi dibalik celana kain itu dengan keras.


Lift terus berjalan tanpa berhenti hingga di tengah gedung lift berhenti sendiri.


"Ya, Tuhan ada apa ini?" tanya Faira ketakutan. Sekarang tinggal lampu dalam lift itu mati. Evan mulai menyalakan lampu senter di handphonenya untuk menerangi ruangan itu.


"Tenanglah ada aku," kata Evan santai bersandar pada dinding lift. Ini memang ulah orangnya atas permintaan Evan karena dia ingin berada di satu ruangan tertutup dengan Faira.


Faira mulai berteriak meminta tolong untuk dibukakan pintu lift itu.


Sepuluh menit berada di lift itu membuat Faira lelah. Matanya mulai memerah karena bantuan tidak kunjung datang. Sedangkan Evan malah terlihat asik menatapnya.


"Lakukanlah sesuatu!" teriak Faira pada Evan.


"Jika aku menganggap ini adalah anugerah karena bisa bersamamu di ruangan ini jadi aku tidak ingin melakukan hal lain," kata Evan.


"Kau gila, jika kita mati karena lift jatuh bagaimana? Ello masih terlalu kecil untuk kehilangan diriku," ucapnya membuat satu alis Evan naik.


"Ello?" tanya Evan.


Faira terdiam. Tidak seharusnya dia mengatakan rahasia itu pada Evan.


"Siapa dia?" tanya Evan curiga.


"Dia anakku dengan Ditya," ucap Faira berbohong. Evan mengernyitkan dahi, mengapa anak buahnya tidak mengatakan ada anak bernama Ello.


"Kau sudah punya anak?"


"Iya, aku sudah punya anak. Apa ada masalah?" tanya Faira. Evan terlihat tidak senang dengan jawaban Faira. Wanita itu memiliki kehidupan bahagia dengan Ditya sedangkan dia? Dia sendiri dan merana. Ini tidak adil. Dia tidak bisa bahagia diatas penderitaannya selama ini.


" Faira," panggil Evan. Namun, Faira enggan untuk menjawabnya.


"Aku gerah," kata Faira mulai membuka blazer miliknya sedangkan Evan sedari tadi sudah membuat jas miliknya. Wanita itu lalu duduk di lantai dan meletakkan mapnya di bawah.


"Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan, Evan," kata Faira. Dia mulai menggelung rambutnya ke atas membuat cepol asal untuk mengurangi rasa gerahnya.


"Apa maksudmu?"


"Aku tahu perusahaanmu tidak bergerak di bidang produksi kertas milik Ditya tetapi kau malah berencana membeli banyak kertas untuk aku apa aku tidak tahu," kata Faira.


"Aku hanya tertarik pada perusahaan milikmu dan kertas itu akan kusuplai ke semua cabang perusahaan milikku di seluruh negara."


"Kau mengada-ada itu nilainya ratusan milyar jika hanya untuk membeli kertas maka selama sepuluh tahun perusahaan milikmu tidak membutuhkan kertas lagi karena itu sudah cukup."


"Kau jeli juga Faira. Aku melakukan ini karena ingin dekat kembali denganmu," kata Evan jujur.


"Pria bodoh kenapa kau tidak mati saja dimakan ikan hiu di tengah laut. Jika kau datang hanya ingin merusak hubunganku dengan Ditya, jangan harap akan terlaksana! Karena kami adalah pasangan paling bahagia dan paling serasi," ujar Faira. "Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan itu terjadi Evan." ucap Faira penuh percaya diri.