
Mata Faira terbelalak mendengar ungkapan hati Ditya. Pria itu tahu tentang kebersamaan mereka.
"Da-dari mana kau tahu?" tanya Faira. Dadanya sesak dan matanya telah panas. Malu, marah, sedih, dan kecewa menjadi satu.
"Aku selalu memantau keadaanmu," ucap Ditya. Tangis Faira meledak dia mengambil bantal dan memukul Ditya berkali-kali.
"Kenapa kau lakukan itu? Kenapa kau baru ceritakan hal ini sekarang setelah semuanya terlambat!"
Ditya hanya membeku di tempatnya. Terdiam hanya memandang Faira.
Faira yang merasa lelah menunduk dan menangis keras.
"Kenapa Ditya?"
"Karena hati dan pikiranku berbeda, hatiku selalu ingin memperhatikanmu dan pikiranku mengatakan jika kau hanya menjadikanku bonekamu!"
"Maaf Faira," ucap Ditya.
Faira terdiam menunduk sembari menyeka air yang keluar dari hidungnya terus menerus.
"Aku memang lelaki pengecut yang takut untuk mengungkapkan perasaanku," kata Ditya.
"Ditya, aku sudah melakukan hal gila dengan pria lain."
"Aku pun sudah menikahi wanita lain," ucap Ditya.
"Aku merasa kotor dan tidak pantas untuk kembali lagi padamu," imbuh Dara.
"Jika kau merasa begitu bagaimana dengan aku?" ujar Ditya.
"Kau tidak sedang merayuku hanya agar kita tidak bercerai dan aku tidak menarik saham dari perusahaanmu?"
"Kau boleh menarik semua sahammu hari ini karena aku tidak peduli, yang kupedulikan adalah kau bisa bahagia bukannya mengurung diri di kamar selama berhari-hari. Kau boleh mengajukan cerai jika kau telah menemukan kekasih yang kau cintai dan dia mencintaimu," ujar Ditya.
"Lalu bagaimana dengan hubungan kita?" tanya Faira.
"Itu terlalu serakah!" ujar Faira.
"Maka dari itu aku tidak akan memaksamu, jika kau mau kita mulai lagi awal. Kau, aku dan Cintya."
"Semua sudah tidak sama lagi, aku bukan Faira yang dulu," ucap Faira sembari menggelengkan kepalanya.
"Walau kau bukan Faira yang dulu tetapi aku akan menunggu hingga cinta itu hadir di hatimu untukku."
"Maaf ... Ditya aku tidak bisa ini terasa menyakitkan untukku," ungkap Faira parau dan serak.
"Berilah aku kesempatan satu kali ini saja," pinta Ditya sembari mengambil tangan Faira dan meletakkannya di dada dengan mata penuh harap.
Faira menatap Ditya mencari ketulusan di dalam sana.
"Tidak Ditya!" ucap Faira.
Ditya memejamkan matanya dan bangkit bergerak keluar dari kamar Faira dengan bahu lunglai dan kepala tertunduk.
Dia menutup kembali kamar itu, meninggalkan Faira dan kemelut hatinya.
Sepeninggal Ditya Faira meneteskan air mata dan berteriak keras tanpa suara. Melepaskan beban berat di hatinya.
''Mengapa Ditya mengapa baru sekarang kau katakan itu, jika saja ... jika saja kau katakan itu lebih awal maka tidak akan semenyakitkan ini," ujar Faira.
Cintya yang tadi sempat menguping langsung berlari bersembunyi agar tidak ketahuan. Dia memegang dadanya. Dia tidak tahu bagaimana cara untuk menghadapi semua ini. Haruskah dia bahagia karena Faira meminta bercerai ataukah bersedih karena Ditya meminta kembali pada Faira.
Dia tidak mau menyakiti sahabatnya tetapi dia tidak ingin ada wanita lain dalam rumah tangga ini. Kedengarannya egois tetapi wanita mana yang rela berbagi. Berfikir jika suaminya sedang bermalam dengan wanita lain dan sedang merasainya. Dia tidak akan sanggup walau itu sahabat baiknya.
***
Ada yang tahu nama keluarga Faira atau bapaknya? kayaknya aku belum cantumin apa ya? Aku udah baca tetapi cepat g nemu