Affair (Faira)

Affair (Faira)
Terlibat



"Kabar apa?" tanya Evan.


"Kami turut menyampaikan duka cita sedalamnya atas kematian ayah dan adikmu," kata Ditya.


"Pria tua itu telah meninggal?'' kata Evan tersenyum sinis. Terus terang dia sangat marah pada ayahnya namun dia tidak bisa membunuh orang tuanya sendiri.


"Meninggal karena apa? Aku bahkan belum membalas apa yang telah dia lakukan!'' ucap Evan geram.


"Dia sudah meninggal kita ikhlaskan saja semuanya," kata Faira.


"Tetapi kenapa harus dengan Robin, dia tidak terlalu buruk menjadi seorang adik,'' sesal Evan.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hanya saja katanya mereka naik helicopter dan heli itu meledak di ketinggian," jelas Ditya. Hanya Raka yang tahu apa yang telah terjadi karena dia telah menyimpan semua alat bukti yang ada.


"Ya Tuhan!" ucap Faira.


"Lalu bagaimana dengan jasad mereka?" tanya Faira. Jika Evan seperti sudah tidak peduli. Dua kali dia hampir mati karena perbuatan ayahnya.


"Aku kurang tahu, kita tunggu saja berita selengkapnya dari Raka."


Baru saja mereka membicarakan masalah ini lalu terdengar derap langkah dari beberapa orang yang menuju ke ruangan ini.


Raka datang bersama sekompi pengawalnya. Dia memakai kemeja hitam pas tubuh dan celana kulit. Satu kaca mata dengan warna merah bertengger apik di atas hidungnya yang tinggi dan tegak.


Semua orang mengenalnya dengan baik sebagai anak salah satu pembesar negeri ini. Dia juga dikenal sebagai wakil ketua dari kumpulan pengusaha muda di Indonesia. Namanya sudah berkibar di usianya yang baru menginjak 38 tahun. Usia yang matang namun tidak ada keinginan menikah hadir dalam dirinya.


Satu pengawal membukakan pintu kamar Evan.


Raka lalu masuk dan membuka kaca matanya.


"Hai!" sapa Raka pada semua orang yang ada ditempat itu.


"Hai Kak," sambut Faira datang memeluk kakaknya seperti biasa.


"Aku kemari hanya ingin mengatakan jika Ayah dan Adikmu Tuan Alberth dan Robin Winston," kata Raka menundukkan kepalanya.


"Tidak perlu terlihat sedih. Aku tidak kehilangan kok," jawab Evan santai.


"Syukurlah jika begitu. Aku jadi tidak akan merasa bersalah," ujar Raka. Membuat semua orang mengernyitkan dahinya.


"Eh jagoan Om sudah ada disini!" kata Raka pada Ello. Dia lalu menggendong Ello.


"Bagaimana kabarmu!" tanya Raka.


"Tidak baik," kata Ello jujur.


"Kenapa?" Raka lalu menatap ke arah Ditya seperti mengintimidasi pria itu.


"Aku rindu bersama Mom dan Daddy," ucap pelan Ello melirik pada Evan.


"What's? Daddy?" pekik Raka.


"Dari kapan dia memanggilmu Daddy, itu tidak adil harusnya nanti menunggu lima tahun lagi sama seperti Faira yang menunggu kedatanganmu hingga lima tahun!" seru Raka.


"Breng -sek kau!" maki Evan.


"Aku setuju," jawab Faira menahan tawa.


"Kau itu adikku atau bukan?" Protes Raka.


Sedangkan Ditya hanya diam saja. Selama mengenal Ditya tidak pernah pria itu bersikap baik padanya entah karena dendam atau apa?


"Sebaiknya aku dan Cintya pulang terlebih dahulu," pamit Ditya yang sudah merasa tidak nyaman berada di tempat itu. Faira tahu bagaimana hati Ditya jika berada di dekat Raka. Dia selalu terluka oleh kata-kata kakaknya.


"Ello kau mau ikut kami atau di sini?" tanya Ditya lembut.


"Aku mau ikut Om Raka saja," kata Ello.


"Mampus kau!" ucap Faira yang tahu jika Ello bersama Raka maka pria tidak bisa berkutik. Tidak bisa kerja ataupun bermain wanita.


Raka hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak bisa menolak permintaan Ello tapi tanpa Faira apakah dia bisa menjaganya dengan baik. Ada Faira saja dia dibuat mati kutu oleh keponakannya. Dia orang yang paling tidak bisa melihat Ello sedih atau menangis. Dia akan menuruti semua yang Ello inginkan.


"Ella sampaikan kata pamit untuk Mom," kata Cintya pada Ella yang sejak tadi terdiam.


"Mom aku pulang dahulu,'' ucap Ella.


Faira mendekat ke arah Ella dan mencium dua pipinya. "Iya Sayang, jadi anak yang baik ya," kata Faira. "Nanti jika Om sembuh pasti akan ke rumah kalian."


"Iya aku akan mampir ke rumah kalian," beo Evan.


Setelah itu mereka pamit pada semua orang dan melangkah pergi.


"Kak kau masih saja bersikap buruk Mas Ditya," protes Faira.


"Entah lah, aku kok benci sekali melihat wajahnya dari awal. Apa kau juga begitu Evan?" tanya Raka.


"Tidak, aku bisa merasakan jika pria itu adalah pria yang baik."


"Kau dengar!" Faira menatap tajam kakaknya.


"Kau itu sangat membela dia!" ujar Raka.


"Kakak," Faira terdengar keberatan.


"Bagaimana caramu memberitahu ini pada Kakekmu," tanya Raka pada Evan.


"Aku akan menelfon bibi Marry."


"Apakah jasadnya masih bisa dikenali atau utuh?" tanya Evan.


"Entahlah dia meledak di helicopter dan aku tidak ingin melihatnya," terang Raka.


"Bagaimana bisa itu terjadi?'' tanya Evan curiga jika ini ada hubungannya dengan Raka. Evan tahu benar seperti apa Raka. Pria itu tidak mau melihat keluarga atau bisnisnya terusik. Jika ada yang melakukan itu maka dia akan membalasnya lebih kejam.


"Tidak ada yang tahu kejadiannya. Tahu-tahu ada suara ledakan di atas gedung hotel dan itu adalah helicopters yang dipesan Tuan Alberth," bohong Raka.


"Aku tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti ini," sesal Faira.


"Bagiku yang penting melihat kalian bahagia," kata Raka yang membuat dahi Evan berkerut. Dia yakin jika Raka ada dalam lingkaran masalah ini.